Jejak Langkah Menuju Ujung Timur Gorontalo

Pengalaman mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP UMSU mengikuti Program Studi Independen Bersertifikat Kampus Merdeka Kemendikbudristek di Pinogu, Bone Bolango, Gorontalo.
Dicky Renaldi


Dicky Renaldi

Mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP UMSU, Peserta MBKM Program Studi Independen Bersertifikat


AMATI Indonesia, sebuah wadah berkumpulnya para mahasiswa dari berbagai latar belakang ilmu yang akan melaksanakan dan mewujudkan tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masyarakat. Melalui program Studi Independen Bersertifikat Kampus Merdeka dari Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia, AMATI Indonesia memfasilitasi mahasiswa dalam bidang ekowisata berbasis desain thinking. Pembelajaran yang diberikan tidak hanya diberikan melalui online, namun mahasiswa dituntut untuk dapat mengimplementasikan ilmunya dengan cara langsung turun lapangan dan berhadapan dengan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Pada tanggal 15 Oktober 2021, perjalanan mahasiswa menuju 8 titik penempatan mahasiswa yang tersebar di Indonesia dimulai. Salah satunya di wilayah Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, Kecamatan Pinogu. Berdasarkan studi literatur mengenai Pinogu, potensi yang dimiliki daerah ini sangat luar biasa. Hal ini dapat ditinjau dari berbagai aspek, misalnya pertanian, peternakan, budaya, ekonomi, hingga perkebunan. Terletak di ujung timur Gorontalo, mempunyai keindahan alam yang eksotis dan dikelilingi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, membuat Pinogu dijuluki sebagai surganya timur Gorontalo. Pinogu sendiri memiliki bahasa daerah yakni bahasa Bonda atau bahasa Suwawa.

Ada 2 tim yang ditempatkan di Pinogu. Per tim beranggotakan 5 mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi dan linier ilmu yang berbeda. Salah satunya tim Julang Sulawesi, ada Yellin Fitri Rastrania dari Universitas Airlangga, Lusi Heraningtyas dari Universitas Gadjah Mada, Muhammad Hidayatullah dari Universitas Jember, M. Gafur Maladjai dari Universitas Negeri Gorontalo, dan Dicky Renaldi dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Namun, sangat disayangkan. Ketika hari keberangkatan ke lokasi penempatan masing-masing. Dicky, salah satu anggota tim Julang Sulawesi, positif covid-19. Sehingga, ia harus menunda keberangkatannya, merelakan timnya melakukan tugas dahulu tanpa dia dan melakukan tes ulang kembali di 21 hari yang akan datang. Cukup merepotkan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Pandemi Covid-19 sungguh menghancurkan segalanya. Ketika sudah tidak sabar ingin menuju Gorontalo yang biasa orang menyebutnya “Serambi Madinah Indonesia”, kata ‘positif’ yang tertera di kertas itu membuat ia harus beristirahat, karantina terlebih dahulu, dan tetap terus berkordinasi dengan tim Julang Sulawesi melalui gawai.

Rangkaian cerita ini ditulis berdasarkan sudut pandang Dicky, seorang mahasiswa yang positif covid-19 sebelum menjalankan tugas di Gorontalo. Tiga minggu terlewati begitu saja, dan akhirnya tim Julang Sulawesi dapat bertemu dengan anggota yang lengkap. Tepat tanggal 6 November 2021, kisah kasih langkah menuju timur Gorontalo dimulai. Berangkat dari Kualanamu menuju bandara Jalaluddin Gorontalo memakan waktu kurang lebih 10 jam. Sungguh perjalanan perdana ke Sulawesi yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Kemeriahan saat pelaksanaan Molo’Opu (adat pengukuhan camat). [Foto: Dicky Renaldi]


Sampainya di Gorontalo, 7 November 2021, langsung disambut oleh Bapak Azwar selaku PIC Studi Independen AMATI Indonesia di Gorontalo bersama Bapak Alex. Suasana baru mulai ia rasakan, perbedaan bahasa yang merumitkan ketika ingin berbicara. Saat itu, Dicky tidak langsung menuju Pinogu, lokasi penempatan timnya, namun diajak keliling telebih dahulu menikmati keindahan Gorontalo menuju pesisir yaitu Desa Botubarani tempat diving untuk melihat Hiu Paus. Bertepatan juga pada hari itu kedatangan Bapak Sandiaga Uno yang ingin melihat keindahan laut Gorontalo. Kemudian diajak kembali oleh Bapak Azwar menuju Desa Olele, menggunakan kapal kecil untuk melihat sunset dekat pantai.

Sebelum berangkat menuju Pinogu, Dicky menginap satu malam terlebih dahulu di Desa Pangi, bersama tim Monyet Hitam Sulawesi. Keesokan harinya pukul 10.00 WIB, didampingi oleh Bapak Alex menuju Pinogu, menggunakan motor trail yang sudah dimodifikasi, untuk menunjang perjalanan dengan akses yang cukup susah melewati hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Panjang perjalanan menuju Pinogu ±40 Km, dan memakan waktu ±5 jam perjalanan. Setibanya di Pinogu, anggota tim Julang Sulawesi menyambut hangat si Dicky yang sebelumnya hanya bertemu virtual melalui Zoom dan Gmeet dalam melakukan pembelajaran atau pembekalan sebelum ke lokasi penempatan yakni Pinogu.

Selama beberapa bulan di Pinogu, tim Julang Sulawesi melakukan beberapa kegiatan dimulai dengan observasi, memakai ilmu yang sudah diberikan yakni design thinking. Dan menghasilkan beberapa karya yaitu booklet (buku informasi), jalur interpretasi, galeri potensi, papan informasi, video dokumenter, video budaya, dan paket wisata “Agritourism Tiyombo Lo Lipu”. Karya tersebut digunakan untuk menunjang para wisatawan menambah informasi ketika berkunjung di Pinogu . Semua hasil karya tersebut dipaparkan kepada Bupati Bone Bolango sebelum pulang ke daerah masing-masing pada tanggal 15 Januari 2022, sebagai bahan evaluasi pemerintah daerah terhadap objek-objek yang potensial untuk ekowisata. Serta sebagai penunjang perekonomian untuk masyarakat sekitar. Dan karya yang dibuat mendapatkan apresiasi oleh Bupati Bone Bolango. (*)

Cari di INDHIE