Ayah Rahim dan Bang Rat

Tulisan ini hanyalah guratan kecil dari seorang murid kepada gurunya, sebuah kesaksian: bahwa pahala dari ilmu yang bermanfaat, mestilah mengalir deras untuk mereka berdua. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Allahummaghfir lahuma warhamhuma wa'afihima wa'fuanhuma.
A. Rahim Qahhar (kiri), YS Rat (kanan). [foto: Rahmad Suryadi, edit: indhie]

SAYA beruntung pernah dididik oleh dua orang wartawan dan seniman ini: Abdul Rahim Qahhar dan YS Rat. Abdul Rahim Qahhar sering menyingkat namanya dengan ARQ, tetapi kami memanggilnya “Ayah Rahim”. Sedang YS Rat, adalah nama pendek dari Yusrianto.

Di tempat saya bekerja dulu, Ayah Rahim adalah redaktur di rubrik feature tentang profil seseorang dan YS Rat sebagai penanggung jawab halaman seni budaya. Mereka telah menyuruh saya keliling menemui orang-orang, seniman, sanggar, panggung, lokasi dan bangunan tertentu, dan macam-macam lagi pergelaran dan peristiwa di luar seni budaya. Dan itu tak hanya di Kota Medan. Capek? Iya.

“Jurnalistik” memanglah begitu melelahkan, tetapi juga mengasyikkan. Dan saya letakkan kata jurnalistik itu dalam petik, bukan tanpa sengaja.

* * *

Tulisan jurnalistik itu pada dasarnya “kasar” sehingga ketika ada tulisan-tulisan non-fiksi disajikan dengan gaya “sastra”, itu bukan hanya dianggap sebagai suatu genre, melainkan juga sebuah pencapaian; keberhasilan memadukan yang kasar dan yang lembut. Itu bukan perkara mudah dan hitungan waktu sehari dua malam.

Secara umum, tulisan jurnalistik berada di tengah-tengah poros tulisan: tulisan ilmiah yang mencerahkan tetapi juga membosankan dan memusingkan kepala; serta tulisan sastra yang bergairah, kontemplatif, penuh lembutan dan keindahan yang mampu membuat pembaca tersenyum, tertawa, diam, marah, hingga menangis.

Tujuan dasar tulisan jurnalistik adalah membuat seluruh orang dari segala lapisan mengerti dan paham isi tulisan. Dia menyadari sekaligus menghormati orang-orang yang tak punya banyak waktu untuk membuka kamus, membolak-balik referensi, atau melakukan perenungan mendalam ketika membaca sebuah tulisan. Dia sadar tak hanya berhadapan dengan seorang guru besar, hartawan dan bangsawan, melainkan juga orang-orang –meminjam baris Chairil Anwar— “dari kumpulannya terbuang”. Dia juga tak mau terjebak dengan kesombongan rasa dan keangkuhan intelektual seorang penulis. Dia enggan dengan hal-hal bersifat birokratis: kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah.

Ingat 5W+1H, straight to the point, tuliskan apa adanya, jangan banyak cengkok, dan bertele-tele. Begitu lazimnya perintah senior. Namun, jelaslah itu baru awalnya.



Sebagian berkata, sebuah foto bernilai seribu kata. Oke. Namun, merangkai kata, kalimat, paragraf hingga satu tulisan utuh sehingga para pembaca dapat meraba-raba dan kemudian membayangkan sebuah momen peristiwa atau orang, tentu bukanlah hal yang mudah.

Sebuah foto dapat langsung menangkap raut dan mata yang menangis, warna hijau ataupun bangunan yang hancur. Penikmat foto dapat melihat langsung dengan matanya dan berkata dalam benaknya, “Oh, begini warna hijau dan bangunan yang hancur itu.” Namun, bagaimana seorang wartawan dapat menggambarkan sebuah “bangunan yang hancur” dengan kata-kata dan kalimat sehingga si pembaca dapat merangkai gambaran itu di benaknya? Apalagi, si wartawan terlarang pula melebih-lebihkan atau mengurangi fakta yang diinderainya. Dia diharamkan mengarang bebas. Karena itu, kalau si wartawan tadi tak punya kepekaan, penguasaan diksi, wawasan dan intelegensi yang luas dan kuat, peristiwa akan tak tergambar dengan utuh. “Hancur” adalah satu kata yang tegas dan lugas, tetapi bagaimana “hancur” itu? Maka, jurnalis yang rajin harus membongkar lemari otaknya atau membaca-baca kembali, lalu menulis tambahan keterangan hancur, misalnya, tinggal puing, berserakan, berhamburan, rata dengan tanah, dan lain sebagainya.

Bila dia mampu melakukan itu, belum tentu juga gambaran itu akan sama pula dengan yang ada di benak pembaca. Senjang, toh, lebih banyak terjadi. Beda dengan sebuah foto. Bagaimanapun, masing-masing punya kesulitan dan karakter tersendiri.

Karena itu, si wartawan wajib punya kekayaan. Guru saya pernah berkata, wartawan adalah “jack of everything and master of none”. Dia mesti paham banyak hal kalau tidak segala-galanya, meski dia bukanlah pakar di suatu bidang tertentu. Dia mesti bisa mewawancarai seorang dokter, mengerti penyakit dan tata pengobatan, meski dia tidak harus diwisuda sebagai seorang dokter. Dia mesti paham mengapa suatu bangunan itu hancur dan mewawancarai seorang konsultan tanpa harus kuliah dulu enam atau tujuh tahun di teknik sipil. Walau, orang luar kadang-kadang lebih sering mengejek kalau itu lebih merupakan sikap sok tahu atau mungkin dengan kata yang lebih “intelek”, jumping conclution.

Keduanya, Ayah Rahim dan Bang Rat, adalah dua dari beberapa orang yang mengenalkan saya kepada kekayaan tadi. Ayah Rahim memeroleh kekayaan dengan keluarbiasaan seorang otodidak yang begitu rajin. Suaranya keras dan bulat meski beberapa giginya waktu itu sudah tanggal. Karyanya tentu lebih nyaring lagi.

Sedang Bang Rat adalah seorang sarjana hukum. Latar itu terus melekat ketika dia menyunting naskah berita dan karya sastra yang digarapnya, serta saat berdikusi mengenai suatu peristiwa. Dia tegas dan teliti benar. Sebagian akan mengatakan dia kaku, nyinyir, dan ngeyel, karena dia tak akan mau mengalah dan akan terus berpijak pada apa yang dianggapnya benar. Kalau Anda mau berdiskusi dan mendebatnya, siapkan argumentasi yang lebih jago daripada punya dia. Buktinya harus telak sehingga tidak bisa lagi mengelak. Dan dia pasti menerima. Dengan pengalaman berkarat di lapangan jurnalistik, dia paham benar seluk-beluk dan motif suatu pemberitaan. Motif-motif suatu pemberitaan itu, pasti akan kentara di dalam naskah seberapapun samar Anda menyembunyikannya. Jadi, lebih baik mengaku saja kalau berita itu “wangi”, “bau” atau malah “hambar”. Penciuman seorang “Perkutut Urakan” (demikian salah satu karya puisi yang kemudian menjadi julukannya) sulit benar untuk ditipu.

Jurnalistik ibarat sampan kecil yang mengarungi samudra nan luas. Ijazah dari prodi atau fakultas komunikasi bukanlah penentu kegarangan wartawan mengarungi gelombang. Apalagi hanya karena lulus antrian selembar dua lembar sertifikat kompetensi. Aih, entah dari pelosok mana pula kebijakan kayak begini digali dan diimplementasi; jurnalistik telah dijerumuskan ke dalam lembah birokrasi.

* * *

Selain wartawan dan seniman, Ayah Rahim dan Bang Rat juga adalah pendakwah Islam yang gigih. Tentu dengan cara yang paling mereka kuasai: literasi. Hitunglah pihak-pihak yang alergi soal apa yang mereka sampaikan tentang Islam, dan sebegitu juga mereka akan mendulang pahala. Aamiin, Insya Allah.

Begitulah. Banyak kisah pribadi yang terkenang saat mendengar mereka wafat: Ayah Rahim di 2015 lampau, dan Bang Rat di Jum’at, 7 Januari 2022 ini. Tentang kretek, tentang kopi, tentang lain-lain, tetapi sudahlah, itu lebih baik menjadi cerita tersendiri. Tulisan ini hanyalah guratan kecil dari seorang murid kepada gurunya, sebuah kesaksian: bahwa pahala dari ilmu yang bermanfaat, mestilah mengalir deras untuk mereka berdua.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Allahummaghfir lahuma warhamhuma wa’afihima wa’fuanhuma. (*)


Nirwansyah Putra
[indhie]


Cari di INDHIE