Risalah Hamka, Urat Tunggang Pantjasila

Tulisan ini bersumber dari bagian “Pendahuluan” buku Urat Tunggang Pantjasila karya Hamka yang diterbitkan Pustaka Keluarga Jakarta pada 1951.
Hamka.


oleh Hamka


 

Pendahuluan,

Pada hari Senin malam Selasa 7 djalan 8 Mei 1951, bertepatan dengan 30 Radjab 1370, diistana Negara di Djakarta telah diadakan peringatan Mi’radj Nabi Muhammad s.a.w. Dan sesudah muballigh2 Islam, tuan2 Sjarif Usman dan A. Gaffar Isma’il memberikan uraiannja tentang Mi’radj, maka Presiden Sukarno telah memberikan pula wedjangannja sebagaimana biasa beliau memberikan wedjangan diwaktu-waktu jang perlu kepada kaum Muslim dan bangsa Indonesia. Beliau djelaskan, selain dari pada tjontoh2 kebesaran Pribadi Nabi Muhammad, agar kita berdjuang menegakkan Negara dalam persatuan jang kokoh dan djangan bertjerai-tjerai, dan dijadikanlah Pantjasila mendjadi dasar perdjuangan menegakkan Negara. Karena banjak golongan jang berdjuang hanja memakai satu sadja dari pada dasar itu, ada jang memakai dasar Ke’adilan Sosial sadja dan mengabaikan jang lain, dan ada pula jang memakai Ketuhanan Jang Maha Esa sadja, jang mengabaikan pula jang lain. “Rukun” pantjasila menurut keterangan beliau, serupa djuga dengan Rukun Islam, jang tidak boleh hanja dikerdjakan hanja satu rukun sadja. Sebab itu beliau serukan supaja kembali kepada PANTJASILA. Sari pidato beliau telah disiarkan dalam surat2 kabar, telah disiarkan diradio dan telah dibawa oleh udara keseluruh dunia.

Maka adalah rupanja diantara ummat Islam jang lekas tersinggung perasaannja, menjangka bahwasanja jang disindir oleh beliau dengan “Ketuhanan Jang Maha esa” itu, adalah golongan kaum Muslimin. Sehingga ada jang berkata, dalam Presiden mentjari djalan jang ditengah, beliau telah “menjindir” kepada pihak kita. Dan ada diantara kawan2 itu jang meminta supaja saja sudi memberikan uraian bagaiman sesungguhnja kita ummat Islam memahamkan PANTJASILA ini.

Djahat Sangka:

Meskipun didalam politik orang disuruh berdjahat sangka, dengan dasar yang terkenal “Ihtarisu bi su iz-zhanni” (berdjaga-djagalah dengan memakai djahat sangka) namun terhadap Ketuhanan Jang Maha Esa, sebab dia mendjadi pokok dan asa kehidupan dari beribu milliun ummat didunia ini, tidaklah boleh kita segera berdjahat sangka. Saja lebih tjondong kepada kesimpulan, bahwasanja jang dimaksud oleh Presiden Sukarno dengan Ketuhanan Jang Maha Esa sadja itu, bukanlah kita.

Tegasnya bukanlah kaum pergerakan Islam dan bukan Pemimpin2 Islam. Kaum pergerakan Keristenpun barangkali tidak. Kaum pergerakan Katholikpun barangkali djuga tidak. Sebab Bung Karno sebagai seorang pemimpin, pasti sudah mempeladjari aliran2 jang ada dalam masyarakat. Bung Karno sebagai seorang pemimpin, pasti sudah tahu dasar2 dari satu Idiologie dan filsafat dari Idiologie itu. Dalam bibliotheek beliau penuhlah terletak buku-buku tentang Islam dan kupasan filsafatnja. Bahkan faham beliau sendiripun tentang Islam memang ada.

Suatu pergerakan politik Islam, tidaklah semata-mata bergerak. Idiologie Islam sedjak zaman dibangunkannya oleh nabi Muhammad s.a.w. dan disambung oleh chalif2 yang datang dibelakangnja, teori dan prakteknya, kenaikannja dan keruntuhannja dan kenaikannja kembali, tentu sudah beliau ketahui. Saja baik sangka dalam hal itu. (*)

* * *

(Keterangan: Setelah bagian ini, Hamka lalu masuk ke bagian “Ketuhanan Jang Maha Esa Sadja:”)




Catatan:

Tulisan di atas merupakan karya Prof DR H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo atau lebih kerap dipanggil Buya Hamka (1908- 1981). Tulisan ini bersumber dari bagian “Pendahuluan” buku Urat Tunggang Pantjasila yang diterbitkan Pustaka Keluarga Jakarta pada 1951. Buku ini diberi kata pengantar singkat oleh Mohammad Natsir (Perdana Menteri Indonesia ke-5) yang ditulis pada 12 Mei 1951. Novel Hamka sebelumnya, Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939), dan Merantau ke Deli (1939) disambut luas oleh masyarakat dan menegaskan dirinya sebagai penulis sastra di samping tulisan-tulisan dan dakwah Islam. Demikian juga dengan buku kecil Urat Tunggang Pantjasila yang ditulis Hamka ini, telah mendapat perhatian sangat luas dalam perbincangan sosial politik di Indonesia waktu itu.  Ejaan dalam tulisan ini disajikan dalam bentuk aslinya dan tidak dirubah dalam bentuk Ejaan Bahasa Indonesia saat ini.   

 

Cari di INDHIE