Pilihan Kaum Mustadh’afin

Bila sudah mengalami susah sepanjang hidup, apa susahnya bersabar lagi untuk beberapa saat?
Bangku. [ilustrasi-indhie]

CENDIKIAWAN telah lama gagal membuat barisan awan-awan turun seperti hujan rahmah al-alam. Bagai jarak langit dan bumi yang begitu jauhnya. Umat hanya melihat langit dari bumi. Mereka yang merasa berada di langit, telah silau dengan terangnya matahari dan memandang bumi hanya sebagai tempat dan kumpulan makhluk-makhluk rendah dan kerdil. Bumi dan isinya dianggap penuh kerusakan, penuh dosa, bergelimang kebodohan. Buruknya, dilantunkan pulalah doa penuh hujatan kepada mereka yang berada di bumi hanya karena umat tak menuruti keinginan “kaum langitan” itu.

Umat pun ditinggalkan, diterlantarkan di permukaan bumi dengan segala masalah mereka. Sementara “kaum langitan” terus berkhutbah pada hal-hal yang tidak dimengerti dan tidak dibutuhkan umat. Sembari, memuji-muji diri mereka sendiri bahwa merekalah kaum pilihan dari langit. Bercermin hanya untuk memuji wajah mereka sendiri.

Umat butuh pembelaan terhadap diri, jiwa, kebutuhan-kebutuhan dan sejarah mereka. Umat tidak hanya merasa ditinggalkan oleh tokoh-tokohnya, melainkan dihinakan oleh kelakuan elit mereka yang hanya memerlukan mereka di saat-saat tertentu seperti pemilu atau untuk kumpulan massa semata. Dihina oleh ajaran-ajaran sepihak yang membuat mereka menjadi terdakwa yang akan jatuh ke panasnya lembah neraka.

Akal mereka telah dihina penuh kebodohan, baik bodoh secara intelektual, perilaku ataupun bodoh dalam ajaran agama. “Itu pilihan orang-orang bodoh; jangan pilih si A karena itu dosa; pilihan orang-orang miskin literasi; bersubhat dengan kemaksiatan dan kezaliman; memilih hanya karena uang”; adalah ucapan-ucapan lain, yang begitu mudah ditemukan dan berserak di masa-masa pemilu kemarin. Umat lebih memilih diam menerima ejekan dan olok-olokan itu. Diam. Mereka tahu diri, juga rendah diri.




Pelontarnya yang masih merasa dirinya “penuh kesucian, etika, kepintaran”, malah terus memberondong umat bahwa ucapan-ucapannya yang sedikit itu seharusnya bisa dimengerti dan dipahami oleh umat. Perhatikanlah, begitu dia ingin dimengerti oleh umat, tetapi sebaliknya dia tidak mau mengerti bagaimana umat, perasaan, dan kemauan umat.

Agama, yang merupakan sesuatu yang sakral, sesuatu yang paling akhir dimiliki umat, sesuatu yang menjadi impian harapan mereka ketika kesusahan dan penderitaan hidup di dunia yang begitu kejamnya mendera mereka, sesuatu yang membuat mereka jatuh cinta kepada nabi mereka karena telah membebaskan mereka dari tingkatan-tingkatan kelas sosial-budaya-politik-ekonomi yang memenjarakan mereka di penjara sosial paling bawah; telah dirusak, dimanipulasi hanya untuk kepentingan-kepentingan pragmatis oportunis yang tidak ada hubungannya dengan eksistensi dan kebahagiaan mereka.

Umat telah menjadi kaum tertindas, mustadh’afin. Mereka masih diam. Bila sudah mengalami susah sepanjang hidup, apa susahnya bersabar lagi untuk beberapa saat?

Namun, pembalasan pasti tiba. Kaum tertindas yang dianggap lemah itu rupanya telah membalas, memberi hukuman. Pada dasarnya, itu adalah peringatan. Namun seperti biasa, kaum langitan akan tetap tak mendengar, enggan dan bahkan mungkin jijik melihat umat yang mereka anggap bodoh itu. Mereka lebih memilih duduk bersila di menara gading kekuasaan ilmu dan agama, sembari terus merasa dan menganggap dirinya mendapat limpahan nikmat tak kunjung habis.

Duhai, begitu luarbiasanya tipu daya itu. (*)


Nirwansyah Putra 
[indhie] – akhir Februari 2024


 

Cari di INDHIE