Bayt al-Hikmah, Cahaya Peradaban Dunia

Seperti pendahulunya, Khalifah al-Ma’mun juga mengirim ekspedisi cendekiawan untuk mengumpulkan teks-teks dari negeri-negeri asing. Selama masa pemerintahannya ini, Sahl bin Harun, seorang penyair dan Astrologis dari Persia diangkat sebagai Kepala Perpustakaan Bayt al-Hikmah. Hunayn ibn Ishaq (809-873), seorang dokter yang juga seorang ilmuwan Nestorian dari Asiria (sebuah wilayah yang dulu berada di kekuasaan Mesopotomia) adalah penerjemah paling produktif yang menghasilkan 116 karya, dia juga diangkat sebagai pemimpin penerjemah. Tsabit bin Qurrah (826-901), seorang berasal dari Yaman, diketahui menerjemahkan karya-karya besar Apollonius, Archimedes, Euclid dan Ptolemy. Terjemahan di era al-Ma’mun diketahui jauh lebih unggul dan akurat dibanding yang sebelumnya.

Di paruh kedua abad ke-9, Bayt al-Hikmah yang dipimpin Khalifah Al-Ma’mun adalah tempat buku terbesar di dunia dan telah menjadi salah satu pusat aktivitas intelektual terbesar di Abad Pertengahan. Bayt al-Hikmah waktu itu juga dikenal sebagai pusat pendidikan, walau model pengajaran pada waktu itu tidak dilembagakan seperti universitas yang kita sekarang. Model yang dipakai adalah pembelajaran secara langsung dari guru ke siswa dan bukan secara kelembagaan. Meski demikian, Namun, maktab-maktab atau sekolah dasar segera berkembang di kota-kota mulai abad ke-9.

Bayt al-Hikmah terus berkembang di bawah penerus al-Ma’mun, Khalifah al-Mu’tasim (833-842) dan putranya, Khalifah al-Wathiq (842-847). Namun, penurunan mulai dirasakan pada pemerintahan selanjutnya, Khalifah al-Mutawakkil (847-861). Menurut Jameel Sadik Al-Khalili dalam bukunya The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance (2011), penurunan ini dinilainya karena paham keislaman Khalifah al-Mutawakkil cenderung tekstual dibanding Khalifah Harun, Ma’mun, Mu’tasim, dan Wathiq yang lebih rasional. Al-Mutawakkil dinilai tidak tertarik pada ilmu pengetahuan dan justru melihat filsafat Yunani sebagai anti-Islam.

SAMMARA-MALWIYA MINARET. Masjid Agung Sammara di Irak, yang dulu sempat menjadi masjid terbesar di dunia. Masjid ini kini tinggal  menaranya yang disebut Malwiya Minaret, yang berbentuk spiral. (foto: internet)

Namun, Mutawakkil suka arsitektur. Salah satu warisannya adalah Masjid Agung Sammara di Irak, yang dulu sempat menjadi masjid terbesar di dunia dan bentuknya yang unik. Masjid ini kini tinggal  menaranya yang disebut Malwiya Minaret, yang berbentuk spiral setinggi 52 meter dan lebar 33 meter. Bangunan masjidnya yang terluas telah dihancurkan oleh Hulagu Khan, sewaktu Mongol menginvasi Baghdad pada 1258.

Setelah Mutawakkil, masih ada 27 khalifah lagi yang berkuasa di Dinasti Abbasiyah. Terlepas dari dunia politik dinasti ini, Bayt al-Hikmah masih terus berjalan walau tak lagi kencang sampai akhir dinasti ini. Buah intelektual terakhir yang tercatat dari Dinasti Abbasiyah ini di antaranya adalah Madrasah Mustansiriya, yang dianggap sebagai salah satu universitas tertua di dunia yang didirikan oleh Khalifah Al-Mustansir (1192-1242) pada tahun 1227. Khalifah menyumbangkan 80 ribu untuk perpustakaan di sini. Madrasah ini kemudian digabung dengan Madrasah Nizamiyah Baghdad (berdiri pada 1065) pada tahun 1393. Ketika Empirium Ottoman menyerbu Baghdad pada 1534, disebutkan kalau koleksi buku-buku dari istana dan perpustakaan dibawa ke perpustakaan kerajaan di Istanbul. Mustansiriyah kemudian ditutup. (*)


Laporan: Tim Redaksi
Sumber: wikipedia, dan sumber-sumber lain


Tulisan ini terdiri dari tiga artikel yaitu: Bayt al-Hikmah, Cahaya Peradaban DuniaBayt al-Hikmah: Terjemah, Revisi, Lalu Inovasidan Bayt al-Hikmah Baghdad pun Hancur… 


 

Bagikan:

Cari di INDHIE

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Bayt al-Hikmah: Terjemah, Revisi, Lalu Inovasi – indhie
  2. Bayt al-Hikmah Baghdad pun Hancur… – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*