Johnson & Johnson, Perusahaan Raksasa Amerika Pembuat Vaksin Covid-19

Presiden AS, Donald Trump bersama Alex Gorsky (kanan), Presiden Johnson&Johnson, saat mereka dan CEO lainnya sarapan di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, AS, pada Senin 23 Januari 2017. [Foto: Pablo Martinez Monsivais/AP]

MEDAN | Perusahaan raksasa dari Amerika Serikat (AS), Johnson & Johnson (J&J), adalah salah satu dari lima perusahaan besar yang menjalin kesepakatan dengan Pemerintah AS tentang pengembangan dan produksi vaksin Covid-19. Vaksin J&J diberi judul: Ad26.COV2.S.

Pada Rabu (5/8/2020), J&J, melalui anak perusahaannya, Janssen Pharmaceutica, mendapat tambahan dana sebesar US$1 miliar (sekitar Rp14,6 triliun lebih dengan kurs Rp14.600/US$) untuk vaksin Covid-19, dari pemerintah AS. Uang itu merupakan tanda kesepakatan untuk 100 juta dosis vaksin, plus opsi untuk memperoleh dosis tambahan 200 juta dosis vaksin Ad26.COV2.S.

“Kami sangat menghargai kepercayaan dan dukungan pemerintah AS terhadap, platform dan upaya Litbang kami serta skalabilitas teknologi vaksin kami. Kami meningkatkan produksi di AS dan di seluruh dunia untuk mengirimkan vaksin SARS-CoV-2 untuk penggunaan darurat,” kata Dr Paul Stoffels MD, Kepala Ilmiah sekaligus Wakil Presiden J&J, dalam situs resmi J&J, pada Rabu (5/8/2020).

Ilustrasi vaksin. [Foto: JnJ]
Sebelumnya, pada Maret 2020, J&J juga telah memeroleh kucuran dana sebesar US$456 juta (sekitar Rp6,6 triliun lebih) untuk hal yang sama: vaksin Covid-19. Kesepakatan ini terangkum dalam program Operation Warp Speed yang dilansir Presiden AS, Donald Trump, untuk menangani Covid-19. Dalam program ini, Trump ingin menjamin adanya sekitar 700 juta dosis vaksin untuk warga AS.



Kesepakatan antara Trump dan J&J dalam program itu memang diberi judul non-for-profit partnership atau kerjasama nirlaba. Secara teknis, J&J berpartner dengan Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA) Departemen Kesehatan AS. “Kami berkomitmen untuk melakukan hal ini dan bersama-sama kami mengatakan bahwa hal ini bukanlah untuk mengejar keuntungan,” kata Dr Paul Stoffels MD, dikutip dari media AS, SkyNews pada 31 Maret 2020, lalu.

Dalam situs resmi mereka, J&J juga bertujuan untuk memasok lebih dari satu miliar dosis secara global selama 2021. Selain dengan AS, J&J juga bermitra dengan Beth Israel Deaconess Medical Center (BIDMC).

* * *

J&J merupakan salah satu perusahaan terbesar di dunia. Majalah Fortune pada 2018 menempatkannya di urutan 37 perusahaan terbesar di AS. Dalam urutan Fortune500 sementara di 2020, J&J sudah naik ke urutan 35. Hingga Juli 2020, media Financial Times, menempatkannya di urutan 10 perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di dunia.

Bermarkas di New Jersey, AS, perusahaan ini memiliki 250 anak perusahaan yang beroperasi di 60 negara dan produknya dipasarkan di 175 negara. Di Laporan Tahunan J&J di 2019, disebutkan pendapatan mencapai US$82 miliar (Rp1,197 triliun dengan kurs Rp14.600/US$) dengan nilai aset US$157,7 miliar. Sebanyak US$42 miliar penjualan berada di AS, US$18 miliar di Eropa dan US$15,6 miliar di wilayah Asia. Di 2019, penjualan terbesarnya ada di bidang farmasi (US$42,2 miliar), menyusul US$26 miliar di bidang alat kesehatan dan US13,9 miliar di kebutuhan konsumsi masyarakat. Bisnis di bidang kesehatan jelas bukan bisnis kecil.

J&J memang bergerak di tiga bidang utama: farmasi atau obat-obatan, peralatan kesehatan, dan kebutuhan konsumsi masyarakat. Farmasi terbesar J&J ada di bidang imunologi (kekebalan tubuh), saraf, penyakit penular, dan onkologi. Segmen imunologi telah menyumbang sekitar 11,3% pendapatan total J&J.

Janssen Pharmaceutical, anak perusahaan Johnson & Johnson. [Foto: Mike Deak/Staff Photo/MyCentralJersey]
J&J didirikan oleh Johnson bersaudara: Robert Wood Johnson, James Wood Johnson dan Edward Mead Johnson, pada 1885. Mulanya mereka hanya membuat pembalut luka siap pakai dan mulai diproduksi pada 1886. Perusahaan ini terus membesar. Robert Wood Johnson menjabat sebagai presiden pertama perusahaan hingga dia wafat pada 1910 dan diganti oleh saudaranya James Wood Johnson hingga wafat 1932. Setelah itu, putra Robert, Robert Wood Johnson II. Johnson II inilah yang membuat J&J menjadi perusahaan raksasa di bidang kesehatan. Penulis Michael Klepper dan Michael Gunther dalam buku mereka Wealthy 100: From Benjamin Franklin to Bill Gates—A Ranking of the Richest Americans, Past and Present (1996), menyatakan, kekayaan Johnson II pada saat dia wafat mencapai US$1 miliar.

Saat ini, Presiden dan CEO J&J dijabat oleh Alex Gorsky, yang merupakan seorang sales representatif Janssen saat bekerja mulai 1988 lalu. Gorsky adalah pensiunan kapten militer AS, lulusan Akademi Militer AS, West Point.

Untuk farmasi, J&J punya basis di perusahaan Janssen yang dibeli mereka pada 24 Oktober 1961. Total bagian farmasi J&J yaitu Janssen Pharmaceutica (Cilag, Janssen-Cilag, CorImmun GmbH, Aragon Pharmaceuticals, Inc., Alios BioPharma, Inc., Novira Therapeutics, Inc. dan Actelion), Janssen R&D LLC, Janssen Healthcare Innovation, Janssen Biotech, Inc. (Ortho Biotech Inc., Kite Merger Sub, Inc., RespiVert, dan BeneVir Biopharm, Inc.), Janssen Therapeutics, Janssen Diagnostics, Janssen Scientific Affairs, JJC Acquisition Company B.V. dan Ortho-McNeil-Janssen Pharmaceutical Services, Inc.

Divisi Janssen Pharmaceutichals paling tidak sudah menemukan 80 jenis obat-obatan hingga kini. Beberapa obat produksi mereka telah pula masuk daftar obat yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO).

Janssen sendiri mulanya adalah perusahaan farmasi yang berkantor pusat di Beerse, Belgia. Perusahaan ini didirikan sejak 1953 oleh Paul Adriaan Jan Baron Janssen atau Paul Janssen, seorang dokter dari Belgia. Pada 1961, Janssen dibeli J&J dan menjadi bagian dari Litbang Farmasi Johnson & Johnson (Janssen Research and Development).

Presiden AS, Donald Trump bersama Alex Gorsky (kanan), saat mereka bersama CEO lainnya sarapan di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, AS, pada Senin 23 Januari 2017. [Foto: Pablo Martinez Monsivais/AP]
Di bawah J&J, Janssen juga pernah mendapat kontrak produksi vaksin dengan pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump. Jadi bukan kali ini saja di saat pandemi Covid-19. Pada September 2017, Janssen berkerja sama dengan BARDA Departemen Kesehatan AS, untuk membuat vaksin flu. BARDA memberi Janssen US$43 juta pada tahun pertama dan US$273 juta selama lima tahun kontrak. Salah satu proyek dalam kontrak tersebut adalah pengembangan vaksin flu universal.

Selain itu, Janssen juga merupakan perusahaan farmasi AS pertama yang memiliki pabrik obat di China. Mereka sudah memiliki divisi Xian-Janssen Pharmaceuticals di Xian, provinsi Shaanxi, China, sejak 1985 silam.

“Johnson & Johnson berada di posisi yang baik melalui kombinasi keahlian ilmiah, skala operasional, dan kekuatan finansial kami untuk membawa sumber daya kami bekerja sama dengan orang lain untuk mempercepat perjuangan melawan pandemi ini,” ujar Presiden dan CEO J&J, Alex Gorsky, di New Jersey, pada 30 Maret 2020 lalu, seperti dikutip dari situs resmi mereka.

Gorsky sendiri pernah menjadi anggota Dewan Manufaktur Amerika, penasehat Presiden AS, Donald Trump, yang diisi oleh CEO perusahaan besar AS. Namun, dewan ini kemudian dibubarkan oleh Trump setelah Gorsky dan CEO lainnya memilih mundur dari dewan ini. (*)


Dirangkum dari berbagai sumber
Perangkum: Nirwansyah Putra


Bagikan:

Cari di INDHIE

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*