Bayt al-Hikmah, Cahaya Peradaban Dunia

Namun, anaknya al-Hadi, Khalifah Harun Al-Rasyid (766-809), melangkah lebih jauh ketika menjadi khalifah selama kurun 786-809. Penerjemahan dilakukan secara besar-besaran yang mencapai puncaknya pada masa kepemimpinannya. Harun Al-Rasyid sendiri sudah terkenal meminati ilmu pengetahuan dan sastra, terutama puisi. Awalnya yang diterjemahkan adalah teks-teks kedokteran, matematika dan astronomi. Namun kemudian merambah ke disiplin ilmu yang lain seperti filsafat. Dia tidak lagi menjadikan Bayt al-Hikmah sebagai perpustakaan semata, namun masuk menjadi salah satu struktur negara.

Khalifah Harun Al-Rasyid saat menerima utusan dari Raja Charlemagne yang dilukis oleh Ambrose Dudley berjudul Harun al Rashid receiving an embassy from Charles the Great.

Dia kembali memindahkan pemerintahan ke Baghdad. Untuk menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan, maka karya sentra-sentra pendidikan di dunia diboyong Baghdad. Mulai dari sekolah Nisibis (terletak di wilayah Turki sekarang), rumah sakit terkenal dan akademi medis Jundishapur di Iran, bahan-bahan perpustakaan termasuk Perpustakaan Alexandria (Mesir) dan Perpustakaan Istana Konstantinopel. Selain itu, dikumpulkan juga para intelektual berikut karyanya dari pusat-pusat penerjemah dan belajar yang terletak di Merv (Turkmenistan), Salonika (Yunani), Nishapur (Khurasan, Iran) dan Ctesiphon (selatan Irak). Mereka semua kemudian dikumpulkan di Baghdad.

Asupan intelektual Baghdad pada waktu itu memang bukan main-main. Sekolah Nisibis misalnya. Sekolah yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Edessa ini, bersama Jundishapur kadang juga disebut sebagai model universitas pertama di dunia. Sekolah itu memiliki tiga departemen utama yaitu Teologi, Filsafat, dan Perobatan. Di antara guru yang paling terkenal dari sekolah ini adalah Narsai (399-502), seorang penulis beragama Kristen.

Harun al-Rasyid sempat memindahkan pemerintahan dari Baghdad ke Raqqah selama 12 tahun. Salah satu alasannya adalah kedekatan Raqqah dengan perbatasan Byzantium dan mengendalikan pemberontaan di Syria dan kawasan Eufrat. Sesekali dia mengunjungi Baghdad. Nama Harun al-Rasyid banyak dimasukkan sebagai bahan cerita di kisah 1001 Malam.

* * *

Khalifah al-Ma’mun (813-833) menggantikan Harun setelah menyingkirkan abangnya, Khalifah al-Amin. Al-Ma’mun pun menaikkan dukungan terhadap Bayt al-Hikmah. Tidak hanya dari kerajaan, dukungan juga datang dari masyarakat, pebisnis dan bahkan kelompok militer. Kehidupan kaum terpelajar menjadi mudah dan sejahtera.

Tapi, Bayt al-Hikmah lebih dari sekedar pusat akademik. Para cendekiawan di sana punya tugas multifungsi. Misalnya, mereka tidak bertindak sebagai arsitek tapi juga sebagai insinyur dalam proyek-proyek kontruksi utama. Mereka juga dianggap sebagai pegawai negeri, petugas medis dan konsultan. Selain itu, status sosial mereka juga lebih tinggi dari strata masyarakat lainnya.

Waktu itu, buku-buku dan naskah kuno begitu diminati daripada harta rampasan perang lainnya karena nilainya cukup berharga. Bahkan Encyclopedia of Space and Astronomy menyebutkan, naskah buku Almagest mahakarya dari astronom terkenal Yunani yang hidup di Mesir, Ptolemy (100-170), menjadi salah satu syarat perdamaian perang yang diminta Dinasti Abbasiah kepada Raja Bizantium, Theophilos.

Al-Ma’mun sendiri memang tertarik dengan dunia astronomi. Dia memerintahkan operasi astronomis di dataran Mesopotamia untuk menentukan nilai derajat teresterial. Atas jasanya di bidang astronomi, namanya dicatat sebagai salah satu nama kawah di bulan, Almanon.

Al-Ma’mun bukan raja yang lebih sering berdiam di atas tahtanya. Secara pribadi, dia aktif dalam kehidupan sehari-hari Bayt al-Hikmah, mengunjungi para cendekiawan secara teratur dan berdiskusi dengan mereka. Bahkan, dia juga akan berpartisipasi dalam dan menengahi perdebatan akademis. Al-Ma’mun bahkan mengepalai sendiri tim peneliti dari Bayt al-Hikmah dalam proyek-proyek ilmiah tertentu. Misalnya, dia memimpin untuk membuat peta dunia, mengkonfirmasi data dari naskah Almagest, hingga terlibat langsung dalam penggalian piramida Giza di Mesir.

Bagikan:

Cari di INDHIE

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Bayt al-Hikmah: Terjemah, Revisi, Lalu Inovasi – indhie
  2. Bayt al-Hikmah Baghdad pun Hancur… – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*