Penganggur

ilustrasi


Nirwansyah Putra
~ indhie


SERING sekali, kata di atas diungkapkan kepada mereka-mereka yang baru lulus perguruan tinggi alias sarjana. “Selamat wisuda dan selamat datang pengangguran baru,” di antara kalimat yang sering kita dengar. Sungguh, ini kalimat yang keji dan tak pantas dilontarkan oleh siapapun kepada mereka-mereka yang telah berjuang amat keras menamatkan studinya.

Kita wajar tersinggung. Pengorbanan untuk meraih gelar sarjana tidaklah mudah. Ada biaya yang harus dikeluarkan. Bila mahasiswa mengandalkan orangtuanya, maka biaya yang dikeluarkan para orang tua untuk menyekolahkan anaknya sudah cukup besar. Mungkin menguras sebagian besar sumber daya ekonomi keluarga.

Apalagi, kemungkinan tidak hanya satu orang saja yang disekolahkan atau dikuliahkan. Maka, adalah sungguh masuk akal bila menamatkan studi salah satunya didekasikan untuk para orang tua. Dan bila si mahasiswa secara mandiri membiayai perkuliahannya, maka tentu saja pengorbanan itu juga sangat berat. Dari sisi ini, sungguh tak pantaslah orang-orang menyebutkan kata “pengangguran” di atas. Tak pantas.

Tidak hanya soal dana kuliah. Mahasiswa mengorbankan waktu dan tenaganya untuk bisa menamatkan studi. Paling tidak, kurun waktu 3,7 tahun adalah waktu yang paling minimal untuk menahankan perjuangan itu. Itu termasuk yang harus ditunggu dan ditahankan para orang tua. Beragam pengalaman hidup dipastikan didapatkan di bangku kuliah maupun di seputaran kampus sepanjang tahun-tahun tersebut. Janganlah lupa kalau perkuliahan juga menguras emosi psikologis, tidak hanya si mahasiswa tapi juga orang tua.



Memang benar, ada fakta yang menyebutkan kalau lapangan pekerjaan tidak selalu tersedia untuk sarjana-sarjana baru. Tapi ini justru mengingatkan kita bahwa tugas pemerintah dalam bidang ekonomi di antaranya menyediakan lapangan pekerjaan bagi para rakyatnya, hingga kini bermasalah. Ingat pula, itu merupakan implementasi tugas negara ini: memajukan kesejahteraan umum.

Benar, bila kampus-kampus juga diminta maupun atas inisiatif sendiri untuk menyiapkan sikap enterpreneurship bagi para mahasiswanya. Tapi jelas, ini tidak membuat beban penyediaan lapangan pekerjaan yang seharusnya dilakoni oleh pemerintah menjadi hilang sama sekali. Kita tahu, kewenangan dalam mengatur kebijakan perekonomian, investasi, perizinan usaha dan seterusnya, justru ada di tangan pemerintah.

Kampus memanglah mesti melihat kebutuhan para user lulusan perguruan tinggi seperti pemerintah, institusi swasta dan kelompok-kelompok masyarakat. Namun kita tidak boleh lupa, kalau hal itu tidaklah menjadikan kampus sebagai pabrik para robot-robot pekerja yang pasif. Sebagai lembaga pendidikan, maka adalah tugas kampus untuk memanusiakan manusia, menjadikan manusia Indonesia sebagai manusia yang berjiwa independen, berkemauan berkehendak bebas, tegar dan  mampu merubah nasib dirinya sendiri serta lingkungannya. Dengan kata lain, menjadi manusia seutuhnya, bukan seperti mesin-mesin yang begitu saja bisa dibuang ketika dirasakan tidak dibutuhkan dan tidak bermanfaat bagi kalangan ekonomi dan industri modern seperti sekarang ini.

Para mahasiswa yang sudah tamat tidaklah perlu ditakut-takuti dengan “iklim pengangguran” di luar sana. Itu realita kita di Indonesia, kok. Mau si anak berani atau takut, toh, sikon ekonomi dan realita kehidupan memang sudah, sedang dan tetap akan ganas.

Juga, bukanlah bijak dengan memberi iming-iming insentif bagi mereka yang belum bekerja yang entah mengapa terkesan hanya seperti angin surga menjelang suatu perhelatan politik kekuasaan. Termasuk, menghalus-haluskan istilah seperti yang terlihat pada kata “pra-kerja”.

Amerika Serikat yang kapitalis liberal pun, masih terus pusing menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya sendiri. Mereka memikul tanggung jawab itu dan terus menjadi salah satu bahan kampanye bagi Pemilhan Presiden AS. Angka penganggur tinggi, berarti Anda gagal. Jangan coba-coba berlindung di balik apologi. Tidak akan ada gunanya.

Simpel saja. (*)

Bagikan:

Cari di INDHIE

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. AKU NEGARA: L’etat, c’est moi – indhie
  2. Adil, la – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*