Militer China Gunakan Vaksin Covid-19

Mayor Jenderal Chen Wei, peneliti senior Akademi Kedokteran Militer China dan Ketua Tim Gabungan vaksin Covid-19 di China. [Foto: timesnownews]

BEIJING | Militer China menjadi yang pertama di dunia menggunakan vaksin Covid-19. Itu terjadi setelah Komisi Pusat Militer China menyetujui penggunaan terhadap personil militernya.

Vaksin ini sebelumnya dikembangkan oleh Tim Akademi Kedokteran Militer Tentara Pembebasan Rakyat China yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Chen Wei, Institut Bioteknologi China dan perusahaan farmasi China, CanSino Biologics, yang bermarkasi di Tianjin, China. Vaksin itu diberi nama Ad5-nCoV.

CanSino, seperti dikutip dari Reuters dan South China Morning Post, pada Senin (29/6/2020), mengatakan, kandidat vaksin itu telah melalui dua fase uji klinis yang menunjukkan vaksin itu aman dan respon imun “relatif tinggi” terhadap antigen. “Ad5-nCoV saat ini terbatas pada penggunaan militer saja dan penggunaannya tidak dapat diperluas ke vaksinasi yang lebih luas tanpa persetujuan dari Departemen Logistik,” demikian statemen CanSino.

Jenderal Chen dan timnya, juga diinformasikan sebelumnya telah berhasil mengembangkan vaksin Ebola namun vaksin itu juga tidak diproduksi massal. Jenderal Chen Wei adalah seorang epidimologis dan sempat dijuluki “the Terminator of Ebola“.



Untuk dapat lisensi dan diproduksi massal, kandidat vaksin harus melewati tiga fase. Fase satu dan dua biasanya menguji apakah seorang kandidat aman dan apakah itu dapat menghasilkan respons imun dari penerima. Vaksin harus melewati ketiga rangkaian uji coba untuk mendapat lisensi dan diproduksi massal.

CanSino mengklaim, mereka telah menyelesaikan uji coba Fase 2 pada 11 Juni 2020, meski perusahaan ini belum merilis data penelitian mereka. Bersama tim yang dipimpin Chen, mereka disebutkan mendaftarkan percobaan Fase 1 pada 17 Maret 2020. Vaksin ini diuji pada 108 sukarelawan sehat di Wuhan, China. Data dari fase pertama CanSino diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet pada Mei lalu. Jenderal Chen mengatakan, pada saat itu data menunjukkan bahwa Ad5-nCoV adalah kandidat potensial untuk penyelidikan lebih lanjut.

Para pejabat China pernah mengatakan sebelumnya beberapa kandidat vaksin dapat disetujui untuk penggunaan darurat pada awal September 2020. Darurat maksudnya vaksin dapat diberikan kepada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap penyakit ini.

WHO sendiri mengatakan pada saat ini uji klinis sedang dilakukan untuk 17 kandidat vaksin. Tujuh di antaranya dikembangkan di China. Salah satu kandidat yang dikembangkan oleh Oxford University dan AstraZeneca sudah berada dalam studi fase tiga. Sinopharm, BUMN China juga telah mengajukan permohonan untuk memberikan vaksin yang diusulkan kepada lebih dari 1.000 sukarelawan. (*)

Bagikan:

Cari di INDHIE

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*