Tuduh Maduro Diktator, Amerika Berlakukan Sanksi Industri Minyak Venezuela

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan Igor Sechin, CEO Rosneft. [Foto: Bloomberg/Financial Times]

WASHNIGTON | Amerika Serikat (AS) yang menuduh Venezuela dipimpin oleh diktator, memberlakukan sanksi terhadap anak perusahaan raksasa minyak Rusia, Rosneft Trading SA, atas peran kuncinya selama ini di Venezuela. Sanksi AS itu untuk menekan mematahkan cengkeraman kekuasaan Presiden Nicolas Maduro di Venezuela. Rosneft diketahui menangani sekitar 70% minyak Venezuela. Importir utama negara itu adalah India dan China.

Sanksi AS itu dinyatakan Sekretaris Negara dan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dalam pernyataannya di akun twitternya di Washington, AS, pada Selasa (17/2/2020).

Sanksi tersebut akan memblokir aset Rosneft Trading atau Casimiro jika melewati kekuasaan AS. AS juga menuduh siapapun yang bertransaksi dengan keduanya sebagai tindak kejahatan di bawah yurisdiksi AS.



Dilansir dari Kantor Berita Perancis, AFP, AS menuduh Rosneft selama ini telah membantu menjual minyak Venezuela meskipun ada sanksi sepihak dari AS. Departemen Keuangan AS, selama ini juga telah menargetkan serangan politik ke Wakil Presiden Rosneft, Didier Casimiro.

“Sebagai broker utama kesepakatan global untuk penjualan dan transportasi minyak mentah Venezuela, Rosneft Trading telah menopang kediktatoran Maduro, memungkinkan penindasannya terhadap rakyat Venezuela,” kata Mike Pompeo.

“Mereka yang mendukung rezim korup dan memungkinkan penindasannya terhadap rakyat Venezuela akan dimintai pertanggungjawaban,” tuduh Pompeo lagi.


BACA JUGA:


Sementara itu, pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, yang baru-baru ini bertemu Presiden AS, Donald Trump di Gedung Putih langsung memuji tekanan baru AS pada rezim Maduro. “Berita ini adalah kemenangan!” kata Guaido.

Kantor Rosneft, perusahaan minyak Rusia. [Foto: Mikhail Metzel/AP/Tass/HavanaTimes]
Rusia pun langsung bereaksi terhadap tindakan AS ini. Rusia mengecam AS dan menggambarkan AS sebagai upaya menguasai dunia sekehendaknya. Mereka juga mengejek AS tidak mampu berkompetisi bisnis secara adil dengan perusahaan Rusia. “Kebijakan sanksi AS yang destruktif semakin merusak kebebasan perdagangan global, dan meningkatkan ketegangan internasional,” kata kementerian luar negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.

Presiden Venezuela, Maduro, sendiri, sudah menuduh Trump merencanakan invasi ke Venezuela. “Kami tidak takut dengan pertempuran militer dan kami akan menjamin perdamaian,” tegas Maduro. Sedangkan Menteri Luar Negeri Venezuela, Jorge Arreaza, mengatakan, sanksi itu melanggar hak untuk perdagangan bebas.

AS sendiri sudah pernah menjatuhkan sanksi ke Rosneft pada 2014 lalu. Waktu itu, AS menuduh Moskow mendukung separatis Ukraina dan pengambilalihan Krimea. (*)

Bagikan:

Cari di INDHIE

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*