China vs CoronaVirus, Sebuah Pertempuran di Awal 2020

Anggota tim medis militer sedang menuju Rumah Sakit Jinyintan Wuhan pada 26 Januari 2020. (Foto: Xinhua/Cheng Min)

SEBAGAI daerah awal mula endemi Coronavirus (2019-nCoV), mau tidak mau, pemerintah China, menyerahkan segala yang mereka bisa untuk melawannya. Pada 23 Januari 2020, China memblokade Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei China, menutup akses masuk dan keluar.

Militer dan rumah sakit baru terus dipacu untuk mengatasi virus, mencegah penularan dan penyebaran. Data Kamis (30/1/2020), pemerintah China mengumumkan 7.711 pasien terkonfirmasi coronavirus dan 12.167 orang dicurigai terinfeksi virus pada akhir hari Rabu.

Kantor Berita China, XinHua, pada Kamis (30/1/2020), memuat sebuah artikel yang memaparkan betapa China saat ini harus berpacu dengan waktu untuk melawan virus ini.

Anggota tim medis militer China dengan seorang pasien Coronavirus di Rumah Sakit Hankou di Wuhan, Hubei, China, 27 Januari 2020. (Foto: Chen Jing/Xinhua)

Zhang Dingyu (57), Presiden Rumah Sakit Jinyintan Wuhan, salah satu rumah sakit yang ditunjuk di kota itu untuk menerima pasien yang terinfeksi virus baru. Dalam 30 hari terakhir ini, dia terus-terusan merawat pasien corona. Dalam seminggu terakhir, XinHua mengabarkan, jadwal tidur Dingyu sekitar jam 2 pagi dan bangun sekitar jam 4 pagi telah menjadi rutinitas harian.

Dingyu sendiri bukan orang yang sehat total. Di tengah umurnya yang sudah mencapai 57 tahun, Dhingyu didiagnosis menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS). “Saya tidak pernah mengalami tekanan seperti hari ini. Bagi saya, ALS seperti pedang yang tergantung di udara. Saya ingin memberikan kontribusi dengan sisa waktu yang tersisa,” kata Dhingyu.

Istrinya sempat terinfeksi virus corona dan dirawat di rumah sakit pada 19 Januari. Setelah perawatan medis, istrinya sekarang pulih.

Meski merasakan sakit, kini langkah kakinya pun harus dipercepat karena pasien yang terus bertambah banyak. Dhingyu memang harus menghemat dan berpacu dengan waktu.




BACA JUGA: 


Liu Yingzi, Direktur Komisi Kesehatan Provinsi Hubei, China, mengatakan, saat ini, Hubei memiliki 131 rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani pasien yang dikonfirmasi dan diduga terjangkit virus. Itu termasuk 30 rumah sakit di Wuhan dan 101 lainnya yang didistribusikan di kabupaten dan kota-kota di provinsi itu. Liu mengatakan, lebih dari 170.000 pekerja medis lokal dan militer sekarang memerangi epidemi dan 6.097 lainnya dari 29 daerah tingkat provinsi.

Ada sekitar 450 staf medis dari militer China yang dikirim ke Wuhan. Song Caiping, salah seorang di antaranya. Dia memiliki pengalaman dalam memerangi SARS dan Ebola.

Song merupakan salah seorang dari tiga tim yang dikirim oleh media Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU) Tentara Pembebasan Rakyat China. Mereka tiga Jumat malam. Song sendiri berasal dari matra AD.

Song dan rekan-rekannya mengambil alih dua bidang rawat inap dengan bantuan dokter dan perawat Rumah Sakit Jinyintan. Setelah persiapan tiga jam, mereka mulai menerima kelompok pertama dari 20 pasien yang terinfeksi yang dipindahkan ke sana. “Kami akan tetap berpegang pada pencegahan dan pengendalian secara ilmiah dan membakukan proses diagnosis. Kami pasti dapat mengalahkan epidemi dan memenangkan pertempuran,” kata Xu Dixiong, Kepala Tim Medis militer.

“Kami mengirim staf terbaik kami dari berbagai departemen klinis. Mereka memiliki pengalaman yang kaya dalam memerangi penyakit menular,” kata Zhou Xianzhi, Komandan Unit Kedokteran AU. “Beberapa dari mereka mengambil bagian dalam misi besar seperti pertempuran melawan SARS dan perang melawan Ebola di Afrika, serta misi penyelamatan gempa.”

Mengikuti model perawatan SARS di Beijing, Wuhan membangun dua rumah sakit untuk mengobati pasien. Kedua fasilitas tersebut diharapkan mulai digunakan masing-masing pada 3 Februari dan 5 Februari. Pekerja, truk, dan excavator berlomba melawan waktu untuk memenuhi tenggat waktu di lokasi konstruksi.

Pembangunan awal rumah sakit di Wuhan, China, khusus menangangi pasien Coronavirus. Anggota (Foto: AP/TheSun)

Para pekerja terus beroperasi siang dan malam untuk menyiapkan rumah sakit di Wuhan, China. [foto: AFP/TheSun]
Pada Rabu (29/1/2020), pembangunan fasilitas listrik di Rumah Sakit Leishenshan (Gunung Guntur Dewa), salah satu rumah sakit, selesai. Hanya dalam tiga hari, lebih dari 300 pekerja bekerja keras sepanjang waktu untuk memasang dan menyesuaikan kabel tegangan tinggi sepanjang 7 km dan 26 fasilitas pendukung.

Rumah sakit ini akan menampung 1.600 tempat tidur, 300 lebih banyak dari desain sebelumnya, karena jumlah pasien lokal meningkat. Diharapkan akan berkembang menjadi 60.000 meter persegi dan menyediakan ruang kerja untuk lebih dari 2.000 staf medis. Lebih dari 4.000 pekerja dan sekitar 1.000 kendaraan dan mesin besar telah bekerja keras di lokasi Rumah Sakit Huoshenshan, siang dan malam.

Rumah Sakit khusus menangani Coronavirus di Wuhan, China, diperkirakan mulai beroperasi pada Senin (3/1/2020) mendatang. [foto: Getty/TheSun]
Kesedihan dan pertobatan dapat diterjemahkan menjadi keyakinan dan kekuatan untuk memenangkan pertempuran yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Itu juga dirasakan warga Wuhan, Hubei. Sebuah hotline telah dibuka untuk membantu psikologis warga. Akun resmi WeChat juga telah diatur untuk menyediakan layanan 24 jam.

China memang sedang terus berpacu. Li Lanjuan, seorang ahli epidemiologi China, mengatakan, hingga Rabu (29/1/2020) kemarin, mereka mengklaim telah lima jenis virus. “Dua di antaranya sangat cocok untuk pengembangan vaksin,” kata Li, “Diperlukan setidaknya tiga bulan untuk membuktikan bahwa vaksin untuk coronavirus novel itu efektif.”

Semoga. (*)

Bagikan:

Cari di INDHIE

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Singapura Larang Masuk Seluruh Pengunjung dari China – indhie
  2. #Coronavirus: Hanya 10 Hari, China Selesai Bangun RS Gunung Dewa Api – indhie
  3. Lawan Coronavirus, China Selesai Bangun RS Gunung Dewa Api Hanya 10 Hari – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*