Islamic Golden Age, Apa Itu?

Biologi
Ilmuwan Islam di masa keemasan Islam juga menggapai kecemerlangan di ranah biologi. Misalnya pandangan soal evolusi. Conwary Zirckle, seorang profesor emeritus bidang botani dan sejarah sains dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, mengungkap ini dalam artikelnya “Natural Selection before the “Origin of Species“”. Proceedings of the American Philosophical Society. (1941), ketika menelusuri jejak sejarah terhadap konsepsi Seleksi Alam. Dia mengatakan, nama Abū ʿUthman ʿAmr ibn Baḥr al-Kinānī al-Baṣrī atau al-Hajiz (776-868) adalah salah seorang yang menyebutkan tema “struggle of existence” dalam bukunya Kitab al-Hayawan (Book of Animals). Itu berarti jauh sebelum Charles Darwin menyebut teori evolusi dalam seleksi alam.

Zirckle mengutip di antara tulisan dari buku itu. Misalnya: “Tikus keluar mencari makanan, dan begitu pintar dalam mendapatkannya, dia memakan semua hewan yang lebih rendah kekuatannya dari dia, dan pada gilirannya, (tikus) itu harus menghindari ular dan burung pemangsa, yang mencarinya ketika dia melahap itu … Semua hewan, singkatnya, tidak bisa eksis tanpa makanan, dia tidak dapat melarikan diri ketika berburu hewan yang diburunya. Setiap hewan yang lemah memakan hewan-hewan lain yang lebih lemah dari mereka. Hewan yang kuat tidak bisa melarikan diri dimakan oleh binatang lain yang lebih kuat dari mereka. Dan dalam hal ini, manusia tidak jauh berbeda dengan hewan…”



Sedangkan dalam hal anotomi, banyak nama bisa disebut, walau yang terkemuka misalnya nama Ibn Sina. Karyanya monumental hingga ke Eropa, bahkan komentar mengenai karya-karnya. Misalnya, Ala-al-din abu Al-Hassan Ali ibn Abi-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi atau Ibn al-Nafis (1213-1288), seorang dokter dari Damaskus, yang menolak pandangan Sekolah Galen (sekolah yang didirikan Galen, seorang dokter Roma) tentang sistem Kardiovaskular bahwa darah bisa melewati antara ventrikel di jantung melalui septum inter-ventrikel jantung yang memisahkan mereka. Nafis mengatakan tidak ada bagian antara ventrikel. Pendapatnya ini dituangkannya dalam buku Commentary on Anatomu in Avicenna’s Canon. Manuskrip buku al-Nafis ini ditemukan pada 1924 dalam arsip Perpustakaan Negara Jerman di Berlin. Manuskrip ini merupakan terjemahan dalam bahasa Latin oleh seorang dokter Italia bernama Andrea Alplago pada tahun 1520.

Di bidang teknik, masa keemasan Islam menghasilkan di antaranya Banu Musa (Ahmad, Muhammad dan Hasan bin Musa ibn Shakir) yang mengeluarkan Kitab al-hiyal (The Book of Tricks) pada tahun 850. Buku  ini menuliskan karya ilustrasi besar pada perangkat mekanik, termasuk automata, dan cara-cara menggunakannya. Mereka bertiga bekerja di Bayt al-Hikmah Baghdad, Irak, di bawah kekhalifahan Abbasiyah.

Sementara, dalam ranah ilmu-ilmu sosial, hingga kini tidak ada yang tak mengenal Ibn Khaldun (1332–1406) dalam bidang sosiologi, sejarah, demografi hingga ekonomi. Sebagai seorang Arab kelahiran Tunisia, Afrika, pada abad ke-14, karyanya Muqaddimah, pada dasarnya telah jauh lebih monumental daripada nama Auguste Comte (1798–1857) di abad ke-18, yang mana orang-orang Eropa justru menjulukinya sebagai Bapak Sosiologi. Penjelasannya soal teori konflik dan kohesi sosial, bukan lagi dalam gambaran umum, namun sangat mendetail. Dia juga mengetengahkan pandangannya soal ekonomi. Bahkan Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah-nya itu juga menyebut soal perkembangan spesies hewan-hewan.

Warren E Gates pada 1967 menulis artikel berjudul “The Spread of Ibn Khaldûn’s Ideas on Climate and Culture” dalam Journal of the History of Ideas, University of Pennsylvania Press. Dengan mengutip beberapa pemikir Eropa terkenal, dia menyatakan, bahwa Ibn Khaldun merupakan “the true father of historiography and sociology.”

Di sektor perdagangan, pelayaran melalui laut jauh melampaui pelayaran lewat sungai via sungai Nil, Tigris, dan Efrat. Ilmu navigasi yang sangat berkembang, membuat terciptanya sekstan: instrumen navigasi ganda untuk mengukur sudut antara dua benda yang terlihat. Dunia Islam mengenalnya dengan nama Kamal. Orang Eropa baru menggunakan ini ketika John Hadley (1682-1744) dan Thomas Godfrey (1704-1749) menemukannya sekitar tahun 1730. Ketika dikombinasikan dengan peta rinci waktu itu, pelaut mampu berlayar di lautan daripada hanya sekedar menyusuri pantai. Pelaut Muslim juga berjasa memperkenalkan kapal-kapal besar berlayar tinggi yang waktu itu disebut qārib. Pelaut Portugis baru menggunakannya pada abad ke-15 dan 16. Pelaut muslim ini waktu itu telah menjelajah hingga ke China untuk berdagang dan berdampak langsung pada ekonomi dua wilayah. Pada saat Dinasti Sung (960-1279) menguasai China, negara-negara muslim mendominasi industri ekspor impor ke wilayah ini.

Rute-rute perdagangan yang semula diciptakan oleh Islam kemudian hancur akibat invasi Mongol. Menurut Ibn Khaldin, hancur rute-rute perdagangan ini telah mengakibatkan hancurnya perekonomian kawasan Islam waktu itu dan setelahnya. Rute-rute ini kemudian dijajaki kembali oleh Eropa lewat jalur darat maupun laut.

Masih banyak sektor lain, seperti ekonomi dan militer. Tak pelak, sektor-sektor lain yang juga mengharumkan masa keemasan Islam seperti seni dan budaya hingga arsitektur, masih terus dirasakan hingga kini. (*)


penulis: nirwansyah putra
sumber: wikipedia dan sumber-sumber lain


 

Bagikan:

Cari di INDHIE

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*