Prof Aldy Safruddin Rambe, Kenalkan Telestroke Solusi Efektif Pelayanan Stroke

Prof Dr dr Aldy Safruddin Rambe SpS(K). [Foto: Hendra/ist]

MEDAN | Universitas Sumatera Utara (USU) kembali mengukuhkan gelar Guru Besar Tetap dari Fakultas Kedokteran (FK) di Gelanggang Mahasiswa USU, Senin (2/3/2020). Kali ini diberikan kepada Prof Dr dr Aldy Safruddin Rambe SpS(K) sebagai Guru Besar Tetap USU dalam bidang dalam bidang Neurologi pada FK USU.

Pengukuhan dilakukan pada Rapat Terbuka Senat Akademik oleh Rektor USU Prof Dr Runtung Sitepu SH MHum, didampingi Ketua Dewan Guru Besar USU, Prof Dr dr Gontar Alamsyah Siregar Sp PD-KGEH. Prof Aldy merupakan salah seorang dosen tetap pada Departemen Neurologi FK USU, yang saat ini juga menjabat sebagai Dekan FK USU periode 2016-2021. Dia juga merupakan pengurus Kolegium Neurologi Indonesia dan Bendahara Perhimpunan Thrombosis Hemostasis Cabang Medan.

Dalam pidato pengukukuhanya, Prof Aldy menyampaikan pidato terkait “Peran dan Manfaat Telestroke Sebagai Solusi Kendala Waktu dan Ruang Untuk Meningkatkan Cakupan dan Efektivitas Pelayanan Stroke di Indonesia dalam Perkembangan Revolusi Industri 4.0.”

Prof Aldy menjelaskan, telestroke merupakan salah satu metode telemedicine terbaik yang menjembatani ekspertisi stroke pada rumah sakit yang kurang tenaga ahli Neurologi terutama penyakit stroke.



Penelitian terbaru menunjukan 64% dari semua rumah sakit tidak memberikan tPA (tissue Plasminogen Activator) intravena pada stroke iskemik akut. Salah satu alasannya adalah terbatasnya jumlah ahli Neurologi pada daerah terpencil dan rumah sakit daerah.

“Dengan telestroke, rumah sakit di daerah dapat secara efektif menangani pasien stroke iskemik dengan tPA intravena. Hal ini dapat menghilangkan hambatan waktu dibanding bila harus merujuk ke stroke center terdekat, yang berakibat lambatnya evaluasi dan penanganan serta sering melewati waktu yang direkomendasikan untuk pemberian trombolisis,” kata Profesor kelahiran Medan, 24 Mei 1966 ini.

Disampaikan Prof Aldy, kurangnya ahli stroke pada berbagai instalasi gawat darurat, waktu onset terapi trombolisis, tingginya biaya rujukan ambulans (baik melalui darat maupun udara), semakin luasnya jangkauan jaringan komunikasi dan internet, merupakan kondisi yang ideal untuk memulai pelayanan telestroke pada pasien stroke akut.

“Sistem pelayanan telestroke memberikan pengetahuan, pengalaman, dan keahlian penanganan stroke pada daerah terpencil dengan keterbatasan sumber daya atau tidak adanya ahli neurovaskular, memperbolehkan evaluasi yang cepat dan penanganan oleh tenaga medis stroke yang berpengalaman dan handal,” ujar Prof Aldy yang merupakan anak pertama dari 3 orang bersaudara, putera pasangan Almarhum dr H Hasanuddin Rambe SpS(K) dan Prof dr Hj Rozaini Nasution SKM.

Kata dia, sulitnya akses ke tenaga kesehatan di daerah terpencil merupakan masalah yang besar di Indonesia. Akses kesehatan yang lebih baik, efisien, berkualitas dan cost-effective merupakan keuntungan utama penggunaan telekesehatan. Penggunaan telekesehatan dapat menjembatani akses dan penanganan pasien di daerah terpencil. Telekesehatan tidak memiliki batasan waktu dan tempat.

“Oleh karena itu, sistem pelayanan telestroke menjadi solusi terbaik pada daerah-daerah yang masih tertinggal terutama dalam hal kesehatan spesifik seperti stroke,” kata dia. (*)


Laporan: Hendra


BACA JUGA:


Bagikan:

Cari di INDHIE

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*