Media Amerika, Inggris dan Singapura Menulis Negatif Pengangkatan Prabowo, Apa Motifnya?

Prabowo Subianto saat memeriksa pasukan di kantor Kementerian Pertahanan RI, Kamis (24/10/2019). [foto: prabowo/instagram]

INDHIE | Sejumlah media asing, terutama yang berbasis dari Amerika Serikat (AS), Inggris dan Singapura, memberi kesan negatif dalam artikel yang ditulisnya terhadap pengangkatan dan pelantikan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan RI yang baru. Paling tidak, hal itu terlihat dari narasi dan kutipan narasumber yang terdapat di Washington Post (WP), the Guardian, the Straits Times, dan Channel News Asia (CNA).

Media ternama dari AS, WP, dalam edisi Rabu (23/102019), membuat judul Indonesia President Names Election Rival as Defense Minister, dengan mengutip artikel Associated Press (AP). Artikel ini mengambil statemen Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch, yang mengatakan, ini adalah hari gelap bagi hak asasi manusia dan keadilan di Indonesia.

Prabowo juga dikaitkan mereka dengan pelanggaran HAM selama masa Presiden Soeharto. Selain itu, artikel ini juga menuding kalau Prabowo telah menyatukan dirinya secara politik dengan kelompok-kelompok yang menginginkan hukum Islam daripada hukum sekuler berlaku di Indonesia.



Sementara itu, media ternama dari Inggris, the Guardian, membuat judul tendesius, Dark Day for Human Rights’: Subianto Named as Indonesia’s Defence Minister. Media ini terang-terangan menyatakan Prabowo sebagai seorang mantan jenderal yang dituduh melakukan pelanggaran HAM.

Guardian mengutip statemen dari Usman Hamid, Eksekutif Amnesti Internasional Indonesia, yang disebut mengatakan “ini merupakan hari gelap bagi hak asasi manusia di negeri ini.”

Sedangkan media the Straits Times yang berbasis di Singapura, membuat judul yang bombastis, Indonesians Angry, Disappointed over Jokowi’s Decision to Include Prabowo in New Cabinet. Lead artikel ini mengklaim kalau orang Indonesia “telah menyatakan kemarahan dan kekecewaannya” atas berita bergabungnya Prabowo dengan kabinet Jokowi. Media Singapura ini menyelipkan klaim bahwa Prabowo diberhentikan dari dinas militer karena terlibat dalam penculikan aktivis pro-demokrasi pada 1998.

Media berbasis di Singapura lainnya, Channel News Asia (CNA), juga lebih mengutip pandangan miring soal Prabowo. Mereka menulis artikel berjudul Jokowi’s New Cabinet Shows Commitment to Fight Extremism, Improve Education: Analysts. “Selama kampanye pemilihan, Subianto didukung oleh kelompok garis keras Muslim,” tulis CNA. (*)

Bagikan:

Cari Berita

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*