Abubacarr Marie Tambadou, Menteri Kehakiman Gambia Pembela Muslim Rohingya

Abubacarr Marie Tambadou, Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung Gambia. [foto: ICJ]

ABUBACARR Marie Tambadou adalah Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung Gambia. Namanya mengemuka saat dia mewakili Gambia untuk menuntut pemerintah Myanmar karena melakukan praktek Genosida pada muslim Myamar di negara bagian Rakhine, Myanmar. Tuntutan itu dilayangkan ke Mahkamah Internasional (MI) pada 11 November 2019 lalu di Den Haag, Belanda, tempat MI berada.

Dalam tahap pengadilan di MI, hakim MI telah mengabulkan sebagian permohonannya: meminta tindakan tegas sementara bagi pemerintah Myanmar untuk mencegah praktek Genosida terhadap muslim Rohingnya. Putusan itu dikeluarkan MI pada Rabu (23/1/2020).

Tambadou dilahirkan 12 Desember 1972 di Banjul, ibukota Gambia, sebuah negara di Afrika dengan mayoritas muslim. Saat kecil, dia ingin menjadi seorang pesepakbola. Namun, keinginan itu diurungkan dan mengambil jalur akademis agar tidak mengecewakan ayahnya, Alhaji Marie Tambadou.

Dilansir dari situs resmi kementerian kehakiman Gambia, Tambadou, sebelum menjadi Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung Gambia, adalah seorang Asisten Khusus untuk Jaksa PBB untuk Pengadilan Kejahatan Internasional di Arusha, Tanzania. Dia juga menjabat sebagai Penasehat untuk Pengadilan Pidana Internasional PBB untuk Rwanda, dan Pengacara Pengadilan untuk badan yang sama.



Abubacarr Marie Tambadou saat membela muslim Rohingya di Mahkamah Internasional, Den Hagg, Belanda, dalam kasus genosida yang dituduhkan kepada Myanmar. [foto: ICJ]

BACA JUGA:


Sebelum 13 tahun berkarier di PBB, Tambadou bekerja sebagai pengacara di kantor praktisi hukum swasta Sheriff M Tambadou di Banjul. Dia kemudian menjadi Jaksa Penuntut Umum di Kementerian Kehakiman Gambia.

Abubacarr Tambadou adalah anggota Koalisi Pembela Hak Asasi Manusia dan anggota Koalisi Pengacara untuk Pembela Hak Asasi Manusia di Gambia antara tahun 2000 dan 2003. Dia juga pernah menjadi Wakil Presiden Lembaga Peningkatan dan Perlindungan Hak Keluarga, Sekretaris Asosiasi Pengacara Gambia dan mantan Koordinator Cabang Pengadilan Kriminal Internasional Gambia.

Atas reputasinya yang suka membela hak-hak asasi manusia, Tambadou hingga kini dipercaya sebagai konsultan untuk Institut Hak Asasi Manusia dan Pembangunan di Afrika.

Karirnya ditunjang oleh keseriusannya menimba ilmu hukum. Tambadou adalah seorang Master of Laws (LLM) konsentrasi Hukum Hak Asasi Manusia Internasional dari School of Oriental & African Studies dari University of London. Dia juga memegang Barrister-at-Law, setelah meraih gelar Sarjana Hukum dari University of Warwick di Coventry, Inggris.

Dia dikenal orang pintar dan mampu berbicara enam bahasa: Inggris, Perancis, Wolof, Mandinka, Krio dan Soninke. Saat pengambilan sumpahnya sebagai Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung Gambia pada 7 Februari 2017, Presiden Gambia, Adama Barrow, memujinya dan mengatakan: “Sistem peradilan sangat penting dalam masyarakat mana pun dan jika Anda memiliki seseorang yang bersedia bekerja dengan orang-orang Gambia dan yang juga pandai, maka, Gambia pasti akan memiliki sistem peradilan terbaik.” (*)

Bagikan:

Cari di INDHIE

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Di Myanmar, Mahasiswa Dituntut Polisi Karena Demo Penutupan Akses Internet – indhie
  2. Ayana Jihye Moon, Senyum Muallaf dari Korea – indhie
  3. Ayana Berikan Bukunya, Journey to Islam, ke Ustadz Abdul Somad – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*