Sukanto Tanoto, Naga Sawit dan Kertas, yang Lahir di Belawan

Sukanto Tanoto lahir di sebuah kota pinggir laut bernama Belawan, Medan, Sumatera Utara (Sumut) pada 25 Desember 1949. Dalam situs pribadinya, Sukanto Tanoto disebutkan sebagai anak tertua dari 7 bersaudara dari seorang imigran yang berasal dari Putian, Fujian, China. Dia menjalani pendidikan awal di sebuah sekolah berbahasa China  tapi tak tamat dari sekolah itu. Pada 1966, di usianya yang ke-17, dia membantu ayahnya yang menjalankan bisnis penyedia sukucadang untuk perusahaan minyak dan gas. Bisnisnya berkembang seiring kenaikan harga minyak di 1972.

Dituliskan, sewaktu mengunjungi Taiwan, Sukanto Tanoto menyadari bahwa Indonesia mengekspor kayu tapi kemudian mengimpor produk jadi dengan harga tinggi. Dia pun yakin bisa memproduksi itu di Indonesia. Pada 1973, dia mendirikan Raja Garuda Mas (RGM) dengan sektor produksi kayu lapis.

Sukanto Tanoto sewaktu muda. [foto: sukantotanoto.com]


Usahanya kian berkembang ketika kebijakan ekonomi Presiden Suharto pada waktu itu menginginkan perekonomian Indonesia salah satunya disokong oleh perkebunan. Dia lalu masuk industri sawit dan mulai mengoperasikan perkebunan dan kilang secara integratif.

Dalam situs Asian Agri, salah satu raksasa bisnis sawit miliknya, pada 1979, Sukanto Tanoto mengakuisisi lahan 8.000 hektar di Sumut dan mendirikan pabrik kepala sawit pertama di Gunung Melayu, Labuhan Batu, Sumut. Kini, Asian Agri memiliki 30 perkebunan sawit yang berlokasi di Riau, Jambi dan Sumut yang disebutkan seluas 100 ribu hektar. Asian Agri juga bermitra dengan skema petani plasma dan mandiri yang masing-masing mengelola 60 ribu dan 41.500 hektar perkebunan. Itu berarti, digabung kebun milik Asian Agri, ada total lebih 200 ribu hektar lahan perkebunan. Dengan 21 pabrik kepala sawitnya, Asian Agri mampu memproduksi lebih dari 1,1 juta metrik ton Crude Palm Oil (CPO).

Perkebunan dan pabrik kelapa sawit milik Asian Agri. [foto: screenshoot asianagri.com]
Dari sawit, Sukanto Tanoto lalu merambah pabrik bubur kertas. Tahun 1983, PT Inti Indorayon mulai didirikan Sukanto di Sumut. Namun, perusahaan ini rupanya banyak masalah. Indorayon baru mulai beroperasi pada 1988. Tapi konflik berdarah dengan masyarakat lokal tak terelakkan. Isu lingkungan hidup juga menyergap Indorayon. Meski demikian, pabrik ini masih tetap jalan di masa rezim Orde Baru. Setelah Suharto jatuh pada 1998, perusahaan ini berubah nama menjadi PT Toba Pulp Lestari (TPL). Rupanya masalah bukannya berhenti tapi justru kian tajam.

Sukanto Tanoto pun memutuskan cabut, dia melepas TPL. Dalam laporan majalah TEMPO edisi 1 Februari 2020, disebutkan, Sukanto Tanoto kemudian menjual seluruh sahamnya di TPL kepada Pinnacle Company Limited pada 17 Desember 2007. Penjualan itu senilai Rp1,1 Triliun. Namun, “Ternyata Pinnacle juga ditengarai berafiliasi dengan Sukanto Tanoto,” tulis majalah itu dalam situsnya.

(bersambung)

Bagikan:

Cari di INDHIE