Misi al-Amal, Saat Arab Mencapai Mars

Optimisme ini menurun ke tingkat pelaksana misi. “Ketika sebuah negara Arab yang masih muda mampu mencapai Mars, maka segalanya menjadi mungkin,” demikian kata Omran Sharaf, Project Manager EMM yang juga Direktur Program MBRSC. Di 2015 lalu itu, mereka juga sudah memulai percakapan bilateral dengan Rusia, Perancis, Inggris dan Kazakstan serta Amerika Serikat untuk menyukseskan misi ini.

Ilmuwan di Mohammed bin Rashid Space Centre (MBRSC). [Foto: MBRSC]
Meski berkerjasama dengan banyak negara, namun Sarah binti Yusuf al-Amiri atau Sarah al-Amiri, Deputi Project Manager dan Kepala Sains misi ini, menyatakan, misi ini dikelola oleh negara mereka sendiri. “Misi ini dikelola oleh 100% tim warga Emirat sendiri,” kata Sarah yang juga Menteri Negara Sains Lanjutan UEA, Ketua Badan Antariksa UEA, dan anggota Dewan Sains UEA. Pada saat misi itu diluncurkan, ada 75 Insinyur dan peneliti UEA yang dilibatkan dan mencapai 150 orang pada 2020.

Menteri Kabinet UEA, Muhammad bin Abdullah al-Gergawi, dikutip dari Nature, mengungkapkan, misi ini menelan dana US$200 juta (Rp2,79 Triliun lebih dengan kurs Rp13.987/US$). Pembiayaannya termasuk pembangunan pesawat, operasi peluncuran dan darat. Biaya ini lebih tinggi dari misi India, Mangalyaan, yang menelan dana sekitar US$75 juta, tapi lebih rendah dari misi NASA, Mars Reconnaissance Orbiter, yang mencapai US$720 juta.



Spacecraft al-Amal (hope) saat di Mohammed bin Rashid Space Centre (MBRSC). [Foto: MBRSC]
Misi ini akan mengorbit di Mars setidaknya hingga 2023, dengan opsi untuk memperpanjang misi sampai 2025. Diperkirakan, misi ini akan mengirim kembali lebih dari 1.000 GB data untuk dianalisis oleh tim peneliti di UEA, dan dibagikan secara gratis ke lebih 200 institusi di seluruh dunia.

Tentang Mars, data dari misi ini diharapkan memelajari perubahan dinamis di atmosfer Mars sepanjang siklus harian dan musimannya. Instrumen khususnya akan memungkinkan para ilmuwan mengamati fenomena cuaca seperti awan dan badai debu, serta perubahan suhu, debu, es, dan gas termasuk uap air di seluruh lapisan atmosfer.

Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktum dan para ilmuwan di Mohammed bin Rashid Space Centre (MBRSC). [Foto: MBRSC]
Selain itu, data-data lain juga diharapkan membantu ilmuwan memahami perubahan atmosfer bumi selama jutaan tahun. Pengetahuan ini juga akan membantu ilmuwan luar angkasa untuk mengevaluasi atmosfer ribuan planet yang baru ditemukan jauh di seberang galaksi, untuk menentukan planet mana yang mungkin memiliki atmosfer yang dapat mendukung kehidupan ekstra-terestrial.

Warga UEA punya menyambut antusias keberhasilan misi ini. Misi ini sebenarnya ditargetkan tercapai pada peringatan setengah abad UEA pada Desember 2021. Namun, misi ini lebih cepat terealisasi dari target. Selain negara Arab pertama, keberhasilan misi ini juga membuat UEA sebagai negara Islam pertama yang mencapai Mars. (*)

Bagikan:

Cari di INDHIE