Tentang Sinovac, Produsen Vaksin Covid-19 asal China yang Berpartner dengan Indonesia

Weidong Yin, CEO Sinovac Biotech. [Foto: edit dari ChinaDaily, AFP, Sinovac]

MEDAN | Pemerintah Indonesia berkerja sama dengan Sinovac Biotech Ltd dari China untuk mengembangkan vaksin Covid-19. Sinovac menamakan vaksinnya: CoronaVac. Di Indonesia, Sinovac berkerja sama secara teknis dengan Biofarma, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen vaksin Indonesia. Pada 11 Agustus 2020, Sinovac dan Biofarma telah melakukan uji klinis Fase 3 Vaksin Covid-19 ini di Bandung, Jawa Barat. Sebanyak 1.600 relawan diikutsertakan dalam uji klinis ini.

“Kita bangga dengan kemampuan perusahaan BUMN, Bio Farma yang berkerja sama dengan lembaga Sinovac asal China karena sudah memasuki klinis tahap ketiga. Tidak banyak negara atau lembaga penelitian yang sudah mencapai uji klinis hingga tahap ini,” ujar Menteri BUMN, Erick Tohir, di Bandung pada (11/8/2020), seperti dikutip dari situs resmi Biofarma.

Dalam berita di situs itu disebutkan, Bio Farma dengan Sinovac memiliki kesamaan platform antara vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac dengan kemampuan Bio Farma dalam memproduksinya yaitu inactivated vaccine. Selain kesamaan platform, alasan pemilihan Sinovac adalah karena mereka memiliki pengalaman dalam hal pengembangan vaksin dalam kondisi pandemi.

Seperti apa kisah Sinovac ini?



Sinovac didirikan oleh Weidong Yin, pria yang lahir pada 23 Januari 1964. Yin kini bertindak sebagai Presiden dan Chief Executive Officer (CEO). Yin punya pengalaman panjang soal vaksin. Dalam situs resmi mereka, disebutkan, Weidong Yin dan tim dari Tangshan Yian Bilogical Engineering Co Ltd terlibat dalam penelitian dan pengembangan vaksin hepatitis A. Yin waktu itu masih menjadi General Manager Tangshan Yian. Dalam situs ChinaDaily, Yin disebut berposisi sebagai Director dan CEO Tangshan di kurun 1992 -2003. Sebelumnya, Yin bekerja sebagai spesialis penyakit menular di China Center for Desease Control and Prevention (CCDCP) di Tangshan, Hebei. Disebutkan, dia meneliti hepatitis lebih dari 20 tahun. Yin juga adalah seorang peneliti utama Kementerian Sains dan Teknologi China.

Weidong Yin, CEO Sinovac Biotech. [Foto: ChinaDaily]
Pada 2001, Yin yang merupakan alumnus National University of Singapore Tangshan Medical School dan Tangshan Medical School ini kemudian mendirikan Sinovac dan mengakuisisi Tangshan Yian Biological Engineering Co. Ltd pada 2003. Mulai September 2003, dia bertindak sebagai Presiden dan CEO Sinovac.

Di laman perusahaan Sinovac juga ditulis, mereka mengembangkan vaksin influenza H1N1 pada 2009. Pada tahun itu, World Health Organization (WHO), tepatnya pada 11 Juni 2009, menyatakan, strain baru influenza H1N1 atau flu babi dinyatakan sebagai pandemi global stadium 6 setelah terbukti mulai menyebar di Veracruz, Mexico, mulai April 2009. Sinovac mengklaim vaksin mereka, Panflu.1, merupakan yang pertama yang disetujui di dunia untuk H1N1. Mereka memproduksi vaksin Panflu.1 dan menerima pesanan 12,49 juta dosis di tahun 2009 itu. Vaksin ini dirilis pada September 2009. Sinovac menyebut, pendapatan mereka vaksin Panflu.1 mencapai sekitar US$14 juta pada 2011.

Meski demikian, kekuatan finansial dan jaringan Sinovac tidaklah seperti China National Pharmaceutical Group Corp (CNPGC) atau Sinopharm Group yang merupakan BUMN China di bidang farmasi. Sinopharm disebut-sebut sebagai perusahaan farmasi terbesar ke-3 di seluruh dunia. Pada 2019, mereka mampu membukukan pendapatan hingga US$60 miliar. Sementara Sinovac, dilihat dari Laporan Tahunan 2018, membukukan penjualan US$229,6 juta dengan pendapatan US$36,1 Juta dan total aset US$369,7 juta. Pendapatan Sinovac terutama dari penjualan vaksin mereka yaitu Inlive, Healive, Bilive, Anflu atau Panflu.

Sinovac Biotech sedang mengembangkan vaksin CoronaVac. [Foto: AFP/rfi]
Dalam Laporan Tahunan 2018 itu, Sinovac menyebut, sebagian besar pendapatan mereka didapat dari vaksin Inlive Enterovirus 71 (EV71) yang memberikan kontribusi masing-masing sebesar 70,8% (pendapatan 2018), 69,6% (2017) dan 48,5% (2016).

Sedangkan penjualan vaksin hepatitis A, Healive, menyumbang 22,8% (2018), 15,7% (2017) dan 27,7% (2016). Vaksin Hepatitis A&B Sinovac yaitu Bilive, menyumbang 4,8% (2018), 6,0% (2017) dan 0,8% (2016).

Penjualan vaksin influenza Anflu menyumbang 0,9% (2018), 7,8% (2017) dan 13,6% (2016). Sedangkan vaksin virus pandemi H5N1 Sinovac yaitu Panflu, pada 2016 hanya menyumbang 8,8%, dan di 2017 dan 2018, tidak menyumbang pendapatan sama sekali.

Kini, momentum pandemi Covid-19 ini, membuat Sinovac kembali disorot dunia. Selain berkerja sama dengan Indonesia, mereka juga sedang uji klinis di Brazil dan Bangladesh.  Jumlah relawan uji klinis Sinovac dengan Brazil dan Bangladesh, 9 ribu dan 4.200 relawan, jauh lebih besar dari Indonesia.

“Kami senang dapat melanjutkan uji coba Fase III dengan Butantan (Brazil), yang akan memungkinkan kami selangkah lebih maju dalam komitmen kami untuk mengembangkan vaksin untuk penggunaan global dan misi kami dalam menyediakan vaksin untuk menghilangkan penyakit manusia,” demikian statemen Weidong Lin dalam situs resmi Sinovac pada 6 Juli 2020. (*)


Dirangkum dari berbagai sumber
Penulis: Nirwansyah Putra


Bagikan:

Cari di INDHIE

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*