Kebencian Bertajuk Islamophobia

Pada suatu simposium “Islamophobia dan Diskriminasi Agama” di tahun 2009, Robin Richardson, mantan direktur Runnymede Trust (lembaga yang didirikan Komisi Muslim Inggris dan Islamophobia, diketuai oleh Gordon Conway, Wakil Rektor Universitas Sussex) mengatakan, kerugian istilah Islamophobia cukup signifikan.

“Ia menyiratkan penyakit mental yang berat yang mempengaruhi hanya sebagian kecil dari orang-orang. Dia juga menyiratkan bahwa permusuhan terhadap umat Islam yang mengakibatkan mereka dipisahkan karena faktor-faktor seperti warna kulit, status imigran, ketakutan akan fundamentalisme, konflik politik atau ekonomi,” kata Robin.



Salman Rushdie dan buku karangannya “the Satanic Verses” yang menghujat Islam. (foto: AP)

Beberapa ulama menganggap Islamophobia sebagai bentuk rasisme. Sebuah artikel yang ditulis Mason Poynting dengan judul “The resistible rise of Islamophobia: Anti-Muslim racism in the UK and Australia before 11 September 2001“, mendefinisikan Islamofobia sebagai rasisme anti-Muslim dan kelanjutan dari anti-Asia dan anti-Arab. Paralel dengan itu, John Denham dalam artikelnya yang dimuat di majalah Time, menghubungkan antara Islamophobia modern dan antisemitisme dari tahun 1930-an.

Islamophobia juga menargetkan orang-orang yang memiliki nama Muslim, atau lihat yang berhubungan dengan Muslim . Menurut Alan Johnson dalam tulisannya berjudul “The Idea of ‘Islamophobia’” (2011) di World Affairs, Islamophobia kadang-kadang bisa tidak lebih dari xenophobia atau rasisme “dibungkus dalam istilah agama.”

The European Commission Against Racism and Intolerance (Komisi Eropa Melawan Rasisme dan Intoleransi/ECRI) pada 2006 mendefinisikan Islamophobia sebagai prasangka dan ketakutan terhadap Islam, Muslim dan hal-hal yang berkaitan dengan mereka.

Tapi istilah Islamophobia memang tak mengenakkan bagi beberapa kalangan tertentu. Dalam kontroversi kartun Nabi Muhammad yang dibuat Jyllands-Posten, 12 penulis, termasuk Salman Rushdie penulis buku “Ayat-ayat Setan“, mereka menandatangani manifesto berjudul “Bersama menghadapi totalitarianisme baru”. Pernyataan itu dilakukan di koran Perancis, CH, pada Maret 2006. Dilansir dari BBC, mereka menentang istilah Islamophobia. “Kami menolak untuk meninggalkan semangat kritis kita karena takut dituduh Islamophobia, sebuah konsep celaka yang mengaburkan kritik terhadap Islam sebagai agama dan stigmatisasi terhadap mereka yang percaya kepadanya,” kata Salman Rusdhie dan kawan-kawan.

Jangankan terhadap Islam dan umatnya, terhadap istilahnya saja kelompok ini sudah benci. (*)


sumber: dirangkum dari beberapa sumber
perangkum: nirwansyah putra
catatan: tulisan pertama bertajuk Kebencian Bertajuk Islamophobia, (2) Islamophobia, Rasisme dan Diskriminasi; dan (3) Islamophobia dan Ulah Media.


 

Bagikan:

Cari di INDHIE

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*