Kebencian Bertajuk Islamophobia

Secara “sederhana”, Islamophobia adalah terminologi yang mengedepankan prasangka kebencian dan ketakutan terhadap Islam, umat Islam dan kelompok etnis yang telah menerima Islam. Beberapa cendekiawan menggolongkannya sebagai bentuk rasisme. Beberapa pendapat mengatakan, Islamophobia meningkat tajam sejak serangan ke World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 sementara yang lainnya mengasosasikannya dengan peningkatan jumlah muslim di negara-negara sekuler.

Menurut Oxford English Dictionary, Islamophobia berarti “Intensitas ketidaksukaan ataupun ketakutan terhadap Islam, khususnya dalam bentuk kekuatan politik; prasangka terhadap umat Islam”. Istilah ini masuk ke dalam ranah bahasa Inggris sekitar tahun 1923.

Mattias Gardell dalam tulisannya “Levande Historia: Islamofobi – definitioner och uttryck” memberi definisi Islamphobia sebagai “Masyarakat yang mereproduksi prasangka dan serangan terhadap Islam dan umat Islam, dalam bentuk tindakan dan serangan, mengasingkan dan diskriminatif terhadap orang-orang yang mereka anggap menerima ataupun beralih menjadi seorang Islam.



Salah satu penggunaan awal yang disebut-sebut sebagai pengguna pertama istilah tersebut adalah pelukis Alphonse Étienne Dinet dan Sliman ben Ibrahim, intelektual berkebangsaan Aljazair, pada tahun 1918 dalam karya mereka tentang biografi Nabi Muhammad. Menulis dengan bahasa Perancis, mereka menggunakan istilah “islamophobie”.

Dahou Ezzerhouni dalam tulisannya di algerie-focus.com berjudul L’islamophobie, un racisme apparu avec les colonisations, telah mengutip beberapa penggunaan istilah ini di Perancis sejak tahun 1910, dan dari 1912 sampai 1918. Namun, istilah ini dinilai tidak memiliki arti yang sama seperti pada penggunaan saat ini, karena mereka menggambarkan ketakutan terhadap Islam oleh Muslim liberal dan feminis Muslim, bukan rasa takut atau ketidaksukaan dari non-Muslim.

Fernando Bravo Lopez dalam karyanya “Towards a Definition of Islamophobia: Approximations of the Early Twentieth Century” pada 2011, berpendapat bahwa penggunaan Dinet dan ibn Sliman tentang istilah itu sebagai kritik terhadap sikap terlalu memusuhi Islam oleh orientalis Belgia, Henri Lammens, yang dalam pekerjaannya mereka lihat sebagai “pseudo-ilmiah perang salib dengan harapan membawa Islam ke titik terbawah.”

Fernando juga mencatat bahwa definisi awal Islamophobia muncul dalam tesis PhD, Alain Quellien, birokrat kolonial Perancis pada 1906. Di situ, Alain menulis “Bagi beberapa kelompok, umat Islam adalah musuh alami dan tak akan pernah didamaikan dengan Kristen dan Eropa. Islam disebut sebagai sebuah negasi dari peradaban dan dipenuhi sikap barbarisme, itikad buruk dan kekejaman.”

“Bagi beberapa kelompok, umat Islam adalah musuh alami dan tak akan pernah didamaikan dengan Kristen dan Eropa. Islam disebut sebagai sebuah negasi dari peradaban dan dipenuhi sikap barbarisme, itikad buruk dan kekejaman.” (Alain Quellien)

* * *

Bagikan:

Cari di INDHIE

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*