Musa Adalah Sebuah Kisah

Piramid Giza dan sungai Nil saat banjir. Foto diperkirakan di tahun 1925-1927. [Foto dari pinterest]

MUSA adalah sebuah kisah. Lahir di saat Fir’aun berada di puncak kekuasaannya; seorang diktator dan otoritarian. Seorang despot yang dilingkari pejabat penjilat yang selalu setia memungut remah dari piringnya. Di sisinya ada Hamam; seorang cerdas yang begitu patuh dan mampu menjalankan apapun titah Fir’aun. Dia juga dikitari penasihat mistis, tukang-tukang sihir yang menyangga kekuasaannya dengan mitos dan cerita-cerita khayali tentang keabadian, keperkasaan, dan kemuliaan seorang Fir’aun.

Kisah-kisah khayali yang dicipta kekuasaan Fir’aun itu taklah beda dengan para penulis dari kawasan Eropa tempo dulu sewaktu mengarang mitos-mitos Yunani yang berisi kehebatan dewa-dewa dan raja-raja mereka. Raja mestilah terikat dengan sesuatu hal yang mistis dan luar biasa, yang berada di luar nalar dan kemampuan manusiawi, yang begitu mengagumkan bagi manusia, siapapun dan di manapun.

Dan karena itu pula, adalah sebuah hal yang mustahil untuk meruntuhkan kekuasaan kerajaan itu. Bagaimana mungkin si manusia harus berhadapan dengan kekuatan militer, politik, ekonomi serta dominasi hegemoni sosial budaya, yang kesemuanya itu dilingkari restu dari langit? Raja dan kerajaan itu pun begitu mulia, sehingga yang berusaha meruntuhkannya akan dianggap sebagai para pendosa.

Maka, keabadian adalah sebuah keharusan. Fir’aun menciptakan keabadian itu dalam dirinya. Siapapun yang abadi, maka dialah tuhan itu. Dan, Musa lahir dalam situasi seperti itu.

“Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dia menindas segolongan dari mereka, dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia termasuk orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu…”

Demikianlah, Musa adalah salah satu karunia bagi kaum yang tertindas, musthada’afin. Suatu kaum yang selalu dihisap hidupnya oleh drakula-drakula kekuasaan politik, militer dan ekonomi, tetapi di sisinya yang lain, dia juga adalah kaum yang diam-diam selalu menakutkan bagi kekuasaan di manapun dan kapanpun. Mustadha’afin menyimpan bara api perlawanan.




BACA JUGA: 


 

Namun, kisah perlawanan musthadha’afin bukanlah sebuah cerita pendek. Musa baru lagi lahir. Dia adalah bayi yang harus berhadapan dengan perintah pembunuhan dari istana. Fir’aun tak tahu bayi laki-laki yang mana yang membuatnya begitu khawatir. Dia mungkin sadar yang dia cari hanyalah seorang bayi, seseorang yang dapat menggelorakan perlawanan pada dirinya. Namun, apalah arti satu orang tanpa dukungan orang-orang lain? Karena itu, memerintahkan membunuh seluruh bayi laki-laki –dan membiarkan bayi perempuan— adalah lebih masuk akal bagi Fir’aun. Dia pada dasarnya sedang membunuh seorang calon pemimpin dan pengikutnya; seorang komandan dan prajurit-prajuritnya. Dia menghabisi potensi perlawanan terhadap dirinya dalam sekali pukul. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Lalu, apalah daya seorang ibu menghadapi raja dan kekuasaannya yang kejam seperti itu? Dia yang sedang lemah kondisi fisiknya, masih lagi harus hidup dalam situasi yang begitu menakutkan. Razia digelar di mana-mana dan isak tangis bersahut-sahutan di balik dinding rumah-rumah. Tak ada satupun tempat berlindung. Sebuah kengerian tak terperi.

Karena itu, darimanakah muncul langkah sang ibu menghanyutkan bayi Musa tadi ke sungai Nil? Tidakkah dia khawatir kalau sungai-sungai itu juga dapat menenggelamkan bayinya? Apakah kotak bayi itu dapat melindungi seandainya dia justru mengalir ke sarang buaya ataupun kuda nil? Dan yang paling mengherankan, tidakkah sang ibu sadar kalau di ujung sungai itu justru terletak istana Fir’aun, tiran yang memerintahkan membunuhi para bayi laki-laki? Manusia manapun pasti menganggap langkah sang ibu adalah kepanikan, sebuah keputusasaan.

Namun, ternyata tidak. “Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, ‘Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati…”

Ah, siapalah pula yang akan menyangka bayi Musa justru dipungut oleh keluarga Fir‘aun? “Istri Fir‘aun berkata, ‘(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak.’”

Begitu cepat kisah itu berubah. (*)


Nirwansyah Putra
[indhie]


Bagikan:

Cari di INDHIE