Icarus

The Flight of Icarus, lukisan karya Jacob Peter Gowy (1635–1637). [foto: wikipedia]

DALAM mitologi Yunani, tersebutlah sebuah nama: Daedalus. Dia seorang yang cerdas dan rajin, perlambang kebijaksanaan dan pengetahuan. Seorang penemu yang brilian, jenius. Mirip dengan Tony Stark yang kaya dan playboy dalam komik Marvel. Laiknya banyak para jenius lainnya, egonya sangat-sangatlah tinggi.

Kata orang, egoisme adalah anak tangga menuju keangkuhan. Daedulus juga begitu. Syahdan, dia sempat mempunyai murid bernama Perdix. Rupanya, murid yang juga keponakannya itu, sama seperti dirinya: otaknya encer tangannya lincah. Keangkuhan Daedulus lalu berbelok ke kecemburuan. Bukankah tidak pernah ada dua matahari? Dia lalu melempar Perdix dari bangunan yang sangat tinggi di kota Athena. Untungnya, putri Athena sempat menyelamatkan Perdix. Daedulus pun dituduh percobaan pembunuhan. Dia memilih lari. Dalam keadaan buron, dia kemudian mendapat perlindungan seorang penguasa dari seberang, Raja Minos dari Kreta.

Seperti raja-raja kebanyakan, Minos adalah raja yang selalu gelisah atas tahtanya. Minos rajin berdoa pada dewa-dewa, di antaranya pada Poseidon, Dewa Laut Yunani adiknya Dewa Zeus. Poseidon menerima harap itu dan memberinya sebuah banteng berwarna putih salju yang sungguh indah. Poseidon menitahkan, banteng itu nantinya mesti dikorbankan. Namun, keindahan banteng itu lebih memikat Minos; dia ingin memilikinya. Dia pun menukarnya dengan banteng lain dan menganggap sang dewa akan memaklumi.

Apa lacur, Poseidon murka melihat kerakusan Minos. Dia lalu membuat permaisuri Minos, Pasiphae, terpesona dan bergairah terhadap banteng itu. Pasiphae yang tersihir lalu menyuruh Daedulus si jenius untuk membuatkan sebuah banteng tiruan agar dia dapat masuk di dalamnya sehingga pas berpasangan dengan banteng putih Poseidon itu. Tak lama, lahirlah anak mereka, Minotaur. Namun, keturunan mereka jadi tak biasa. Minotaur adalah makhluk berbadan manusia berkepala banteng. Dan, badannya membesar lebih cepat dari makhluk lain.



Kini, giliran Minos yang murka. Dia memerintahkan untuk memenjarakan Minotaur dalam sebuah labirin yang dibangun di sebuah pulau di dekat istana Minos. Daedeles si jenius, lagi-lagi adalah arsitek labirin itu. Minotaur hanya bisa berputar-putar di dalamnya. Itu memang penjara yang sungguh menyiksa. Dia tidak dikurung dalam sebuah ruangan sempit, dapat berjalan sesukanya, tetapi nyatanya, dia tidaklah kemana-kemana. Jalan itu tak ada awal, tak ada ujung. Di dalam labirin itu, badan Minatour pun terus membesar hingga menjadi monster yang buas dan lapar terhadap manusia. Kebuasan yang dimanfaatkan benar oleh Minos.

Minos lantas menjadi begitu menakutkan bagi manusia. Lalu, muncullah seorang manusia bernama Theseus dari Athena. Awalnya, dia adalah seorang yang akan dikorbankan. Theseus bertekad tak mau mati konyol. Ternyata, anak Minos, putri Ariadne, mengetahui tekad Theseus ini dan jatuh cinta terhadapnya. Meski, yang akan dibunuh Theseus adalah Minotaur yang merupakan anak ibunya, Pasiphae. Mereka bertemu Daedulus untuk mengetahui seluk beluk labirin. Theseus pun berhasil membunuh Minotaur dan kemudian lari bersama Ariadne.

Minos murka dan memenjarakan Daedulus bersama anaknya, Icarus, di dalam penjara bikinannya sendiri: labirin. Walau Daedulus mampu keluar dari labirin itu, dia tak akan mampu keluar dari pulau yang dikelilingi laut itu.

Seorang jenius pasti tak hilang akal. Daedulus lalu mendesain sayap-sayap terbuat dari lilin agar mereka dapat terbang keluar dari pulau itu. Sebelum mereka terbang, Daedulus memeringatkan Icarus agar terbang tidak terlalu tinggi karena sayap lilin itu akan meleleh tersengat panas matahari. “Don’t fly too close to the sun,” ingat Daedulus.

Namun bukankah terbang adalah sebuah ekstase? Icarus pun begitu gembira ketika sayap-sayap itu telah membawanya terbang. Ini bukan lagi sekadar keluar dari penjara labirin, tetapi terbang adalah sebuah kebebasan yang memesona. Fly and high. Dia terbang tinggi, semakin tinggi dan kian tinggi. Membumbung jauh ke wilayah yang terhampar begitu luas, yang selama ini hanya menari-nari dalam bayangannya saat ia menatap ke angkasa. Icarus telah lupa pesan ayahnya. Dia melesat terlalu tinggi dan sinar matahari jelas kian panas. Yang diwanti-wanti pun terjadi. Sayap-sayap lilin itu pelan-pelan meleleh, tak lagi kuat merengkuh angin. Icarus panik dan menghujam jatuh ke dalam laut.

Daedulus tertegun. Kisah lama mengiang kembali saat dia mendorong jatuh keponakannya yang sangat cerdas, Perdix. Jenazah Icarus terbalut sisa-sisa lilin bikinannya. (*)


Nirwansyah Putra
[indhie]


Bagikan:

Cari di INDHIE