Efek dan Penanganan Pertama Terdampak Gas Air Mata

Gas air mata saat dilontarkan. [foto: ilustrasi/net]

INDHIE | Demo mahasiswa yang jamak terjadi belakangan ini, tidak jarang berakhir ricuh. Polisi pun menembakkan gas air mata. Akibat terkena gas air mata, sejumlah demonstran pun berjatuhan. Mereka mengeluhkan sesak napas, batuk, lemas dan pusing. Tidak hanya mahasiswa, warga juga terkena dampak dari gas air mata yang terbawa angin ataupun ditembakkan langsung di sekitar area perumahan mereka.

Biasanya, pasta gigi banyak digunakan untuk mengurangi efek gas air mata. Namun rupanya, cara ini justru hanya dapat mendinginkan area sekitar mata.

Sven-Eric Jordt, Pakar Anestesi dari Duke University, Amerika Serikat, yang lama meneliti gas air mata, mengatakan, gas air mata secara teknis bukanlah gas melainkan bubuk yang mengembang ke udara dalam bentuk kabut halus. “(Dia) secara langsung mengaktifkan reseptor rasa sakit,” katanya seperti dilansir dari situs Public Broadcasting Service (PBS). Secara khusus, katanya, gas air mata mengaktifkan salah satu dari dua reseptor rasa sakit, TRPA1 atau TRPV1.

Kategori pertama, TRPA1, terdiri dari bahan kimia yang disebut 2-chlorobenzalmalonitrile atau gas CS. CS adalah senyawa yang mengandung klor yang mengembang ke udara sebagai partikel halus. “Mereka tersebar dengan membakar dan menempel pada kulit atau pakaian dan dapat bertahan untuk sementara waktu,” kata Jordt. Mereka bereaksi secara kimia dengan biomolekul dan protein pada tubuh manusia sehingga dapat menyebabkan sensasi rasa terbakar.



CS tidak mematikan kecuali digunakan tidak secara benar atau diarahkan ke ruang terbatas atau tertutup di mana orang tidak dapat melarikan diri. Anak-anak sangat beresiko tinggi untuk cedera  karena tubuh mereka yang masih kecil. Itu karena gas ini bermassa lebih berat sehingga lebih cepat turun ke tanah. “Anak-anak lebih pendek, dan ada peningkatan konsentrasi di dekat tanah. Mereka juga memiliki permukaan tubuh dan paru-paru yang lebih kecil sehingga potensi cedera lebih tinggi,” katanya.

Rohini J Haar MD MPH, seorang dokter dari Pusat HAM University of California, Berkeley, mengatakan, varian CS sekarang lebih banyak. “Semakin banyak, ada versi tingkat yang lebih tinggi yang disebut CS2 atau kadang-kadang CX. Dapat bertahan lebih lama di lingkungan dan tidak hancur dengan cepat,” katanya.

Kategori kedua gas air mata adalah semprotan merica dan mengaktifkan reseptor rasa sakit TRPV1. Ini sebagian besar berasal dari capsaicin, senyawa rempah dalam cabai. Ada dua senyawa yang umum digunakan dalam kategori ini: Gas OC, larutan capsaicin alami, dan PAVA, campuran capsaicin sintetis. “Ini memiliki lebih sedikit reaksi kimia atau alergi, tetapi juga minyak sehingga jauh lebih sulit untuk turun dan bisa bertahan lebih lama,” kata Haar. “Itu juga dapat menyebabkan lecet kornea jika Anda menembaknya langsung ke mata seseorang.”

Bagaimana penanganan awalnya? Seperti diketahui, gas air mata mempunyai massa lebih berat dan akan segera turun ke tanah. Jadi, Anda harus segera pergi ke tempat yang lebih tinggi. Namun yang penting adalah Anda menjauh dari kawasan yang terpapar gas air mata. Setelah Anda tiba di tempat yang aman, cari air untuk membersihkan mata, kulit dan rambut. “Pada awalnya, air akan membuat efeknya lebih terasa, tetapi air dalam jumlah besar akan dapat membersihkannya,” ujar Haar.

Lalu, jika bisa menemukan sabun, gunakanlah untuk membersihkan kulit dan rambut Anda dari partikel gas air mata. Jangan lupa juga untuk segera mengganti pakaian karena partikel dapat menempel pada pakaian dan menyebabkan efek berkelanjutan. Tentu saja, jika masih merasakan efek dari gas air mata 20-30 menit setelahnya, atau Anda mengalami iritasi mata atau paru-paru, segeralah meminta pertolongan medis. (*)

Bagikan:

Cari di INDHIE

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*