Siapa Pemain Billboard di Kota Medan?

Pemain Besar
Nama Ajie Karim sebagai pemain bisnis billboard di Medan sudah banyak yang tahu. Dia adalah bos dari Bensatra Advertising. Sejumlah billboardnya terpampang di Kota Medan. Ciri khas billboard miliknya adalah tiangnya berwarna hijau. Dari informasi yang dikumpulkan, pria muda yang sempat menjadi Ketua DPD Partai Gerindra Kota Medan ini, mempunyai jaringan billboard mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Lampung alias sepanjang pulau Sumatra. Beberapa waktu lalu, perusahaan iklannya makin kuat ketika dia berhasil mendapatkan kontrak dengan salah satu provider telekomunikasi yang mempunyai ikon warna merah. Kontraknya, konon, wah. Ajie berhasil membujuk perusahaan itu memasang iklannya di papan reklame miliknya di sepanjang Sumatra, khususnya Sumatra bagian Utara.

Ajie Karim (foto: flickr)

Dia juga diketahui bermitra dengan Edy Koesriadi, pemilik Ody Lestari Advertising, untuk mendapatkan iklan produk consumer good yang juga dipasang sepanjang pulau Sumtera. Kemitraan ini sudah berjalan tahunan. Ajie dan Edy makin kaya, karena dia berhasil mendapatkan kepercayaan dari pengiklan dua produk tadi hingga order iklan ke media lain pun, lewat mereka.



Pundi-pundi Ajie Karim jelas tak sedikit. Dia bahkan pernah disebut-sebut sebagai ikonnya Partai Gerindra di wilayah Sumut. Pada Pilkada Binjai 12 Mei 2010 lalu, dia menjadi salah satu calon Wakil Walikota Binjai 2010-2015. Tentu, siapapun tahu, untuk menjadi ketua partai dan maju menjadi kandidat dalam pentas Pemilihan Kepala Daerah alias Pilkada, perlu uang yang cukup besar.

Edy Koesraedi (foto: blog tukangngarang)

Pemain lain adalah Edy Koesraedi, pemilik Ody Lestari Advertising. Ciri khas tiang billboardnya berwarna biru muda. Salah satu billboardnya pernah memasang wajahnya, misalnya sebuah billboard di kawasan Sei Batanghari. Dia pernah disebut-sebut aktif di organisasi kemasyarakatan, Pendawa Lima. Ya, Ody memang seorang keturunan suku Jawa. Dia juga pernah menjadi Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Sumut.

Seperti disebut sebelumnya, pundi-pundinya semakin kencang ketika dia bersama Ajie Karim berhasil mendapatkan kontrak iklan dengan perusahaan provider telekomunikasi dan consumer good terkemuka. Berdua bersama Ajie, iklan produk ini terpasang di billboard milik berdua di sepanjang pulau Sumatra.

Kepada media beberapa tahun lalu, dia sempat bicara soal iklan politik, layanan umum dan komersial. “Memang, untuk iklan politik tidak ada retribusinya,” kata dia. Pemasukan perusahaan sempat diinformasikan tidak bertambah dari pemasangan iklan politik dan layanan umum itu.

Beberapa waktu lalu, pada Februari 2010, di sebuah media, Edy mengaku kalau P3I Sumut pihaknya perlu dilibatkan dalam pemasangan reklame khususnya di Kota Medan untuk menekan kesemrawutan. Bahkan permintaan itu sudah diajukan sejak 2003 lalu. Kini, entah bagaimana status permintaan itu.

Sama seperti Ajie Karim, Edy juga masuk ke jalur politik. Ketika Pemilu 2009 kemarin, dia maju sebagai salah satu calon anggota legislatif di Deliserdang melalui Partai Indonesia Sejahtera (PIS) yang diketuai mantan Gubernur Jakarta, Sutiyoso.

Iskandar ST (foto: twitter)

Pemain besar lainnya adalah Iskandar ST. Billboard milik Iskandar punya ciri khas berwarna hitam. Dia merupakan pemain utama reklame di Kota Medan. Lobinya dengan Pemerintah Kota Medan disebutkan sungguh kuat. Perusahaannya, PT Star Indonesia, mendapatkan kontrak-kontrak iklan dengan Pemko Medan dengan jangka waktu panjang. Bahkan, even dari Pemko Medan dan Pempropsu tampak selalu melibatkan dirinya. Misalnya Ramadhan Fair dan Pekan Raya Sumatra utara (PRSU). Tapi kini Iskandar sudah tidak lagi tampak main di even itu.

Iskandar tak hanya bermain di bisnis event organizer dan reklame, melainkan juga media massa. Dia memiliki beberapa media mulai dari media elektronik seperti radio hingga media online.

Iskandar pernah dikatakan pebisnis tulen yang kurang tertarik dengan masalah sosial politik. Waktu itu, namanya memang tidak pernah diketahui tercatat dalam satupun partai politik maupun organisasi kemasyarakatan. Tapi di organisasi periklanan, dia merupakan mantan Ketua P3I Sumut. Tapi itu dulu. Kini, Iskandar adalah juga seorang politisi. Dia kini menjabat sebagai Sekretaris DPW Partai Nasdem Sumatera Utara.

Albert Khang (foto: metro24.co)

Dari catatan yang dimiliki, pria ini memang “pelit bicara”. Komentarnya kebanyakan didapat ketika dia menghadiri even yang diselenggarakan perusahaannya bersama pemerintah. Namun, feeling bisnisnya cukup tajam. Dia paham hubungan bisnis antara kegiatan sosial politik dengan ekonomi. Dalam satu satu waktu, kepada suatu media di Sumut –yang terdapat dalam catatan–, dia pernah mengungkap kalau pada Pilgubsu 2008 lalu, kue iklan di Sumut  mencapai angka Rp25 miliar–Rp30 miliar. Di media itu juga tercatat, kalau Iskandar sempat berujar, pada 2008, kue iklan di Sumut telah mencapai angka Rp 1,2 triliun. Iklan politik menjadi salah satu penyumbangnya. Sayangnya, soal ini tidak bisa lagi dikonfirmasi ke Iskandar.

Pemain reklame kelas kakap yang lain adalah Albert Khang. Dia merupakan pemilik Multi Grafindo Advertising. Ciri  tiang billboard Multi Grafindo adalah berwarna oranye. Sama seperti Aji Karim dan Edy Kusraedi, Albert Kang juga mendapatkan kontrak iklan dengan salah satu operator seluler besar di Indonesia yang punya ikon khas berwarna kuning. Dia sudah menjalin kerjasama dengan operator itu selama beberapa tahun belakangan ini dan menjadi penyumbang terbesar dari pemasukan perusahaannya.

Hans Advertising (foto: internet/nusanet)

Pemain “lama” yang lain adalah seorang yang sudah dikenal lama dalam dunia entertain Medan, namanya Johan Sipahutar, pemilik Hans Advertising. Ciri billboard milik Johan adalah tiangnya berwarna emas. Hans Advertising diketahui memenangkan kontrak iklan dengan salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Namun, selain bermain di bisnis reklame, Hans Advertising juga aktif bermain di pasar media massa dan event organizer.

Dia pernah menjadi salah satu Dewan Pembina P3I Sumut dan dianggap sebagai salah satu senior. Johan kini juga aktif memprakarsai pembentukan Persatuan Event Organizer di Sumut.

Gaharu Advertising (foto: internet)

Namun, pemain senior di dunia iklan reklame adalah Gaharu Advertising kepunyaan M Hasan Meliala SE. Dia sempat memiliki kontrak jangka panjang dengan produk rokok terbesar di Indonesia. Di kalangan periklanan, dia dikenal sebagai “sesepuh” dunia reklame di Medan. Salah satu dasar penyebutan itu adalah karena Gaharu Advertising merupakan yang pertama berdiri di Kota Medan.

(bersambung…)

Bagikan:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*