Laki-laki
Namaku Rani. Aku sangat membenci ayahku. Dia bernama Maftuh Jaya. Walau umurnya sudah enam puluh tiga tahun, tapi otot-otot badannya masih tampak kekar. Hobinya berkelahi. Aku pun sebenarnya heran, mengapa berkelahi yang dipilihnya menjadi hobi. Tak bisa kukatakan kalau itu “bukan hobi yang keren”, karena tak cocok tampaknya kata ‘keren’ itu disandangkan padanya.
Sekali lagi aku sangat membenci ayahku. Dia suka memukuliku dan emakku. Bukan hanya kami, tapi juga perempuan-perempuan yang nongkrong di warung di depan lapangan badminton dan sering diajaknya tidur dengan tarif dua puluh lima ribu perak. Mereka sering mengadu kepada kami. Tapi bagaimana mungkin kami menanggapinya? Mendengar kata-kata pelacur saja sudah membuat perutku mual. Konon pula ketika si pelacur tadi datang ke rumah.
“Hei! Kau bilang sama ayahmu. Kalau miskin jangan suka main perempuan. Sekarang bayar!”
Biasanya emak langsung melempar si pelacur tadi dengan panci atau apa yang sedang ada di tangannya, kecuali bila ia memegang uang tentunya. Tapi kini, emak tampaknya sudah mati rasa. Ia mendiamkan si pelacur itu dan menutup pintu. Aku juga tak habis pikir, mengapa emak masih saja mau diajak tidur si ayah bangsat itu. Ia sungguh sabar, persis seperti namanya Siti Sabariah.
“Cerai itu dibenci Tuhan. Apalah bandingnya ayahmu dengan Tuhan? Biarlah orang membenci emak asalkan jangan Tuhan.”
Emakku akhirnya mati dan si bangsat itu belum juga tobat. Semasa hidupnya, badan emak kupikir bak sansak saja. Walau terus dipukuli, badannya balik normal lagi. Pernah tak sengaja aku mengintip mereka berdua di kamar, karena aku mendengar emak mengaduh. Rupanya, mereka sedang bersenggama. Kulihat, ayah mengikat emak dan memukuli emak dengan tali pinggangnya. Emak terus dipukuli, sampai ayah mencapai klimaksnya setengah jam kemudian. Pastilah emak bukan merasakan nikmatnya hubungan suami istri, pikirku dalam hati. Kurasakan wajahku waktu itu sangat panas. Tapi aku tak berani mendobrak. Bisa-bisa aku dibunuh ayah.
Ayah memperlakukan kami sebagai babu. Baginya, perempuan yang dinikahinya itu dan anak yang dihasilkan dari spermanya ini, diciptakan Tuhan khusus untuknya. Kalaulah ada idiom perempuan itu bidang pekerjaannya hanya kasur sumur dan dapur, maka emak satu di antaranya. Aku? Pernah aku digeranyangi si bangsat itu, tapi untung saja waktu itu ada tamu datang mengetuk pintu. Aku hanya kalah di kasur dibanding emak.
Begitupun, emak masih saja sungkem pada si bangsat itu kalau idul fitri tiba. Prosesi yang kata orang sangat agung itu menjadi sangat memuakkan di hadapanku. Mungkin emakku ikhlas meminta maaf pada suaminya itu, tapi aku? Pastilah aku hanya menyelamatkan diriku saja. Kalau orang bilang aku munafik, pasti betul. Orang tak pernah melihat sejarah bagaimana kami diperlakukan si tuan yang disungkemi itu. Sesungguhnya kami terpaksa bersungkeman. Dan tradisi sungkeman itu berhenti ketika si bangsat itu mati di tusuk preman di warung dekat lapangan badminton itu.
Kini, aku sudah dewasa, menurutku. Aku tidak mau kawin, terutama mengawini laki-laki. Bagiku mereka hanyalah hewan buas yang dikirim Tuhan ke muka bumi untuk menguasai kami, kaum perempuan. Karena sikapku ini, aku dibawa temanku ke salah satu organisasi perempuan. Dia bilang, sikapku radikal. Aku tak mengerti radikal itu apa. Itu hanyalah yang kurasakan. Aku benci ayah dan karena itu aku benci laki-laki.
Temanku itu namanya Nita. Dia bukan temanku dari kecil. Kami hanya bertemu ketika ia dipalak beberapa orang preman di kereta api. Sebenarnya preman-preman itu anak buahku, tapi mereka menyalahi aturan yang kubuat yaitu haram hukumnya mendapatkan uang dari perempuan. Kalau laki-laki, segalanya kuserahkan pada mereka. Melihat mereka memukuli dan menghajar laki-laki yang diperas mereka, sungguh hati kecilku tertawa senang. Darah yang muncul dari hidung dan sela-sela bibir si korban, bak kopi susu yang selalu kuteguk ketika begadang malam. Dan aku marah besar ketika mereka memeras Nita.
Aku tak perduli ketika mereka bilang di tas Nita ada uang puluhan juta. Kata Nita di kemudian hari, uang itu adalah uang gaji pengurus organisasi yang baru ditransfernya dari sebuah bank bikinan Amerika. Anak buahku memang melawan dan sesaat melupakan ketakutan mereka waktu dulu mereka berkelahi denganku. Dulu mereka takjub karena badanku kebal pukulan, dan walau berdarah aku bisa semakin kesetanan berkelahi. Dan, perlawanan mereka yang ini sama juga hasilnya. Mereka bertekuk-lutut di dengkulku. Sudah belasan tahun aku dipukuli ayahku dan pukulan mereka hanya seperti gigitan nyamuk di kulitku.
Dan di usia yang menurutku sudah besar ini, aku menjadi pengurus organisasi. Kehidupan modern menjadi teman akrabku. Tidak seperti ketika aku di kampung dulu. Sekarang aku tak pernah memakai sarung, tapi jeans. Potongan rambutku pendek, seperti Nurul Arifin. Dulu pernah terinspirasi Sinead O Connor, selebriti Amerika yang menggundul rambutnya. Gaya Demi Moore juga bagus. Tapi, kata Nita, sekarang gaya rambut Nurul Arifin adalah salah satu simbol dari feminisme. Kuiyakan saja kata Nita, karena aku merasa gagah dengan rambut Nurul Arifin.
Aku pernah berjumpa dengan seorang feminis dari organisasi yang mengurusi orang miskin dan ia memuji potongan rambutku yang seperti artis. Tapi aku marah waktu itu.
“Pujianmu itu seperti laki-laki melihat perempuan cantik saja. Mula-mula kau puji aku tapi setelah itu engkau pun pasti memakanku. Dirimu tak beda dengan srigala,” ketusku. Huh, dia langsung merah padam dan meninggalkanku. Mana aku perduli.
Tapi Nita tidak seperti aktivis itu. Dia orangnya lembut dan sabar. Paling kelihatan kalau ia sedang menjahit baju-baju anak jalanan yang sering mampir di teras depan kantor organisasi. Dia juga pernah memujiku tapi tidak seperti aktivis lainnya. Katanya, aku orang pemberani. Pernah juga ia membelikanku lipstik dan bedak, dua hal yang sudah tak pernah menyentuh kulitku sejak uang yang aku dan emakku kumpulkan sering dijadikan modal untuk menyewa pelacur oleh ayah bangsatku itu.
Tapi Nita langsung melengos meninggalkanku ketika aku dengan serta-merta membuang pemberiannya itu ke tong sampah. “Kau telah mengundang laki-laki untuk menguasai diriku, Nit,” hardikku.
Tapi ketika ia pergi, rasa bersalah tiba-tiba menyergapku seperti deruan angin kereta api. Kuketuk pintu kamarnya dan dari balik daun pintu itu kedengar ia sesunggukan menangis. Seketika memori ketika ayahku bersenggama dengan emak langsung menghampiri. Kali ini tak akan kubiarkan. Kudobrak pintu itu dan Nita berbalik terkejut melihatku. Mukanya pucat pasi.
“Pergilah. Kau telah membuatku takut.”
“Mengapa?”
Tanganku menggapai jemarinya yang basah dengan air mata.
“Aku cuma ingin memberimu hadiah tapi kau langsung marah.”
“Kan sudah kukatakan, engkau sudah mengundang laki-laki untuk menguasaiku.”
“Laki-laki mana?! Kita di sini perempuan semua!” suara Nita langsung meninggi.
Aku pergi tapi malamnya aku kembali lagi dan aku langsung menuju kamarnya. Di tanganku ada dua buah arum manis. Aku berniat minta maaf. Lipstik merah jambu yang sore tadi digores mantan anak buahku menghiasi bibir. Tanganku mengepal ketika mantan anak buahku menyembunyikan senyumnya saat prosesi menghiasi bibir itu selesai. Rasa-rasanya ingin kutinju wajahnya waktu itu.
Di dalam kamar, aku terduduk di sisi ranjang. Aku memang punya kunci kamar Nita. Pintu kamar mandi terkuak dan wajah Nita agak terkejut melihatku. Tubuhnya bersinar karena bilasan cahaya lampu menerjang kulitnya yang masih berair. Handuknya diikat hingga dadanya yang gempal itu. Sungguh alami.
Aku tercenung. “Mengapa dia bisa begitu indah?” desirku dalam hati. Desiran itu membuatku beranjak dari sisi ranjang dan menghampirinya, tanpa dua buah arum manis yang kubawa tadi. Nita diam saja.
“Kau sungguh indah dan cantik, Nit.”
“Dan engkau memang tak pantas memakai lipstik pemberianku itu. Sudahlah hapus saja, ya,” ujar Nita sambil tersenyum. Nita mengusapkan jarinya di bibirku. Satu tangannya lagi memegang handuk.
Tapi aku tak tersenyum. Kurengkuh jarinya yang memegang handuk dan handuk itu pun terlepas. Nita terkejut. Tapi dia tak mengambil handuknya dan seakan menunggu. Bibir kami tinggal sejarak ari bawang. Nafas Nita menghembus makin cepat di daguku.
“Pakai bibirmu untuk menghapus lipstik ini, Nit. Bukankah aku laki-laki itu dan engkaulah sang perempuannya?”
“Tidak. Perempuan itu aku dan engkau … lelakiku.”
“Apakah kau tidak benci terhadapku.”
“Aku sungguh benci padamu, lelakiku…”
* * *

Suatu senja di sebuah pekuburan umum. Seorang dengan gaya rambut Nurul Arifin terlihat sedang berdiri di depan sebuah makam yang dinisannya tertulis Siti Sabariah. Ia menggenggam sebuah pusara bertuliskan: Rani.
===============
foto source :
1. http://wiki.bibletwo.com/images/4/41/Lesbian.jpg
2. http://991.com/newGallery/Mew-A-Triumph-For-Man-359229.jpg


begidik lha baca paragrap yang terakhir,,
cuinihin banged itu perempuan
ni si bapak nya pasti g pernah ikutan ngerumpi, jadi g kenal sama bang toga, g baca pulak postingan2 si abang soal wanita. jadi bego’ total dia, g ngerti en g bisa memahami wanita. pake acara pa itu istilahnya, sadokisme apa masokisme,, syerem.
yang ini diriku g mudeng bang,
“Suatu senja di sebuah pekuburan umum. Seorang dengan gaya rambut Nurul Arifin terlihat sedang berdiri di depan sebuah makam yang dinisannya tertulis Siti Sabariah. Ia menggenggam sebuah pusara bertuliskan: Rani”
jadi yang rambutnya gaya nurul arifin enih siapa,,??