Umumnya, kalimat ini yang lebih sering dipakai: Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Saya tak berani menyamakan makna saya dengan makna yang dimiliki Tuhan. Karena itu saya memakai kalimat: demi pena dan apa yang dituliskannya.

Tak terbilangnya pena yang telah menulis dan akan terus menulis, mengungkapkan, pena mempunyai keabadian sendiri; ia akan terus “sedang menulis”. Dan karena yang tak terbilang itu adalah satu, maka cukuplah saya mengatakan “yang dituliskannya” dengan akhiran pengganti “nya” untuk “dia”.

Pena pulalah yang membedakan sebuah zaman. Arkeolog dan antropolog mengatakan, zaman dibagi dua yaitu zaman pra sejarah dan sejarah. Sejarah dimulai ketika “huruf” sudah mulai dituliskan.

Ketika ia dituliskan, ia sudah lebih dulu ada di dalam pikiran dan kemudian diseleksi, oleh pikiran juga, yang tentu saja proses seleksi ini sangat panjang dan ukurannya tidak akan pernah hanya satu.

Karena itu, tulisan adalah sebuah “makhluk” bagi manusia. Ia akan berbicara sendiri dan kemudian orang lain, yang membacanya, akan punya persepsi, asumsi, bantahan sampai pada pengetahuan dan teori sendiri mengenai diri “kata”. Seterusnya, seterusnya, seterusnya, sampai kemudian tak berbilang.

Pena memang tak akan berhenti.