Kebudayaan media yang pop, ringan dan penuh gelak tawa memenuhi hampir 24 jam selama Ramadhan lalu. Proses imitasi dan malah mungkin plagiat lebih banyak muncul. Di sisi lain, fenomena Ustadz Jefri yang merombak lagu Jablay jadi salah satu ukuran kalau fenomena momentum (sebuah istilah lain dari aji mumpung) rupanya menjalar kuat di kalangan agamawan. Agama pun seperti kerupuk.

* * *

“Allah, Allah, Allah
Allah ya Rasullulah …”

Cobalah lirik di atas nyanyikan dengan nada lagu “Jablai” miliknya Titi Kamal. “Lai..lai..lai..lai..lai…memang aku si jablai… Lai..lai..lai..lai..lai…aku jarang dibelai.” Sejumput senyum pun akan mengembang di bibir. Apalagi ketika yang menyanyikannya adalah ustadz gaul, Jefri Al Buchori. Ya, itulah “kreativitas” teranyar dari ustadz yang dulunya adalah pecandu narkoba ini. Lagu itu kemudian menjadi salah satu andalan dalam album “Repackage Shalawat; The Best of Ustadz Jefri” yang dirilis pada ramadhan ini. Tahun sebelumnya, ustadz ini juga mengeluarkan album yaitu “Lahir Kembali”.

kerupukNamun tak hanya Jefri, melainkan juga Opick, Ungu, Gita Gutawa dan lain-lain lagi. Momentum Ramadhan memang menjadi ajang penjualan besar-besaran dari album religi yang dimiliki Indonesia.

Tontonan yang lain adalah bejibunnya tayangan ramadhan yang menawarkan tawa dan hadiah berlimpah. Bahkan sinetron “Para Pencari Tuhan” miliknya Dedy Mizwar yang banyak dipuji sebagai tayangan terbaik pun tak luput membagi-bagikan hadiah uang dan paket umroh.

Pola
Pola kebudayaan di masa ramadhan memang tak bisa dilepaskan dari perilaku budaya masyarakat Indonesia. Bahkan penyambutan lebaran yang cenderung sangat konsumtif itu, sebenarnya sudah ditapaki bahkan sebelum ramadhan dimulai. Untuk menyebut di antaranya adalah adat memegang, punggahan, mangan-mangan sampai marpangir yang lazim dilakukan beberapa suku budaya kita.

Bahkan ditelisik lebih jauh ternyata, tradisi ini sudah mengalami proses asimilasi dengan kebudayaan yang terjadi pada ritual agama non Islam. “Misalnya reramuan mandi pangir mempunyai kemiripan dengan mandi kembang ala umat Hindu,” kata Shohibul A Siregar, dosen sosiologi UMSU.

Menurutnya, tradisi penyambutan itu pada umumnya dalam kerangka memasuki suatu fase peralihan dari keseharian pada situasi yang tidak seperti biasanya.

Tak pelak, umat kemudian terjebak pada perilaku berlebih-lebihan. Hal ini kemudian terbawa-bawa dalam ritus puasa itu sendiri. Fenomena “puasa dendam” yang sangat berlebihan ketika waktu berbuka sudah mempunyai bibitnya sejak di awal puasa.
a pun, di satu sisi, membuat setiap orang diberi hak-hak tertentu oleh Tuhan untuk berlapar dan haus, sebuah pola yang dimonopoli oleh fakir miskin. “Orang-orang diberi hak prerogatif untuk mengaku miskin,” kata Shohibul.

Budaya kemiskinan yang tak lazim dan salah kaprah inilah yang kemudian menumbuhkan konsumerisme, yaitu selalu merasa kekurangan terhadap nikmat. Hal ini kemudian dilihat oleh para pedagang yang sudah mencium adanya momentum untuk mencari keuntungan di tengah pasar yang sedang lapar dan haus itu.

Marketing product
Nyanyian ustadz Jefri dan artis lainnya tentu saja hidup dalam kerangka budaya yang demikian. Untuk kerangka seperti ini maka yang menjadi pelekat erat atau semacam lemnya adalah budaya pop. Jalaluddin Rakhmat, pakar komunikasi sekaligus cendekiawan Islam memberikan petunjuk soal ini.

Dalam tulisannya yang menyindir soal “marketing dakwah” dia menyebut, para dai-dai modern tak perlu mempunyai ilmu agama tingkat tinggi. Cukuplah di satu masa, ia mengungkapkan dirinya suatu hari menemui titik balik dari perjalanan hidupnya, atau pun bermimpi berjumpa Rasulullah dan mengaku mendapatkan ilmu laduni (ilmu yang diajarkan langsung oleh Tuhan).

Karena kadar keraguan terhadap keilmuannya sudah tertutupi, maka para da’i ini kemudian punya menu untuk memberi orang yang sedang lapar dan haus itu. Orang yang sudah lapar dan haus itu, tentulah orang yang selalu tersiksa dan ditekan terus-menerus dalam sebuah sistem di di mana kemiskinan, bencana, kelaparan dan seterusnya menjadi santapan sehari-hari. Apa resepnya? Tentu saja hiburan.

Maka, kata Jalaluddin Rakhmat, para dai mestilah orang yang bisa menghibur dan menimbulkan gelak tawa. Lantas, supaya para jamaah pun tak sumuk, maka dicarilah para ustadz yang berwajah tampan dan bersuara emas. Itu makanya polesan para ustadz di televisi sungguh memikat hati alias camera face. Maka Anda pasti sudah terbiasa bila siapapun di depan televisi akan berkata, “Untuk masa sekarang ini, untuk apalah membebani masyarakat dengan yang berat-berat.”

Maka kemudian, ketika Opick menelurkan ”Tombo Ati” dan meledak di ramadhan tahun lalu, kebanyakannya justru terbuai dengan lantunan suara emas Opick dan nada melodi lagu tersebut. Tidak pula banyak orang mengukur, apakah orang yang mendengarkan ataupun membeli kaset itu akan mempraktekkan shalat malam setiap hari, misalnya. Umat juga tak terlalu perduli apakah ia dulu pernah dilantunkan oleh Emha Ainun Nadjib ataukah bermula dari Sunan Kudus.

Karena ghirah (rasa) keberagamaan umat akan meningkat tajam di waktu ramadhan, maka momentum ramadhan menjadi waktu tepat untuk marketing product. Maka ketika misalnya Rhoma Irama menohok keras ketika grup band GIGI mengeluarkan album religi, kemungkinan besar kerangkanya adalah soal market ini.

Mass culture yang sering dikatakan rapuh memang tak relevan dikatakan di sini. Media jelas mempunyai hak untuk set the mass agenda. Media jelas punya hak untuk tidak menggunakan fungsinya misalnya to educate and to control. Media pun tentu punya kewenangan sendiri bila seandainya mereka lebih menekankan fungsi entertain di banding dengan fungsi-fungsi lainnya.

Yang jadi masalah memang ketika ada alasan bahwa masyarakat sudah dewasa, cerdas dan bisa menentukan pilihannya sendiri. Tentu saja alasan ini aneh bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah (ingat anggaran pendidikan di APBN saja tak pernah terpenuhi), pemerataan infrastuktur pendidikan dan kebudayaan yang kacau, faktor kemiskinan dan tingkat pendapatan, budaya patronase dan seterusnya, seterusnya.

Dengan status masyarakat yang demikian, adalah disayangkan bila kemudian para pemuka masyarakat yang biasanya didapuk kepada para tokoh-tokoh agama justru semakin membuat agama seperti kerupuk. Bagaimanapun kadar keilmuwan ustadz Jefri, tetap saja yang mesti diingat adalah ketika ia telah menjadi tauladan untuk beberapa kelompok masyarakat pop ini.

Kerupuk
Sebuah sinetron berjudul Para Pencari Tuhan kelihatan sedang berkaca dan merupakan potret terhadap fenomena masyarakat dan gejala kebudayaan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Dedy Mizwar, yang merupakan produser sinetron tersebut, tidak membuat satu tokoh pun dengan karakter yang serius dan tidak main-main. Ada ustadz Ferry yang selalu ingin terkenal, ada Asrul dan Udin yang tak pernah bisa kaya-kaya dan selalu ngedumel terhadap nasibnya, trio bajaj yang mantan begundal pun di-set Dedy penuh humor dan tentu saja Bang Jacky (Dedy Mizwar) yang menjadi marbot.

Yang bisa digarisbawahi adalah karakter ini dimainkan seluruhnya oleh komedian dan pelawak. Kenaifan dan keluguan yang dijahit dengan beberapa pesan agama, seolah-olah menjadi daerah tersendiri yang tak berjejak di bumi Indonesia. Konsepnya mungkin serupa dengan Republik Mimpi di Metrotv.

Bandingkanlah kemudian dengan niat Jefri yang merubah lirik lagu Jablai gara-gara prihatin terhadap banyaknya ibu-ibu dan anak-anak yang menyanyikan lagu Titi Kamal itu. Dan simsalabim, Jefri kemudian hanya mengganti lirik dan judulnya menjadi Ya Rasulullah.

Lucu memang. Setiap Jefri menyanyikan lagu itu, kok malah timbul yang sebaliknya: yang teringat justru lagu Jablai-nya Titi Kamal.L

Mungkin, inilah kejadiannya bila agama sudah seperti kerupuk.

* * *

foto: www.ithb.ac.id