MEDAN-www.indhie.com | Tujuan dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan pelayanan kepada masyarakat, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan daya saing daerah.

Demikian disampaikan oleh Affan Al Quddus S.Sos, staf pengajar Jurusan Administrasi Negara FISIP UMSU yang sekarang memberanikan diri maju jadi calon legislatif  Partai Amanat Nasional (PAN) untuk DPRD Sumut dari Dapil 8 daerah Nias yang merupakan tempat kelahiranya.

Avvan mengatakan, tujuan pelaksanaan otonomi daerah ini harus menjadi fokus kebijakan Pemerintah Daerah dalam seluruh proses penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak terkecuali khususnya bagi daerah Pemekaran baru di Pulau Nias antara lain Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Barat, Nias Utara dan Kota Gunung Sitoli .

“Harus dimaklumi bahwa, secara akumulatif sektor pariwisata sebagai  potensi andalan pembangunan di daerah kabupaten/kota di Pulau Nias prospeknya mampu membuka lapangan pekerjaan dan memberikan kontribusi perekonomian di kawasan daerah tersebut,” ujar Affan.

Sektor pariwisata, kata Affan, mempunyai peran yang sangat potensial dan strategis dalam pembangunan. Pengembangannya dapat berfungsi sebagai pendekatan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan sebagai penyeimbang ekonomi daerah, karenanya pengembangan pariwisata harus diikuti dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada sebagai sumber pendapatan masyarakat setempat dan pendapatan daerah secara keseluruhan.

Dalam kaitan tersebut, Affan menambahkan,  penting bagi Pemerintah daerah di Pulau Nias untuk lebih fokus dan memberikan prioritas dalam mendorong pengembangan sektor pariwisata dalam program pembangunan sekaligus guna memajukan daerah otonom kabupaten/kota di pulau Nias.

“Kegiatan pariwisata khususnya di Pulau Nias memiliki banyak potensi objek wisata yang cukup menarik seperti alunan ombak yang mencapai ketinggian 2-3 meter, rumah adat, lompat batu, batu megalitikum, pantai, sun set, wisata bahari, adat istiadat dan kebudayaan yang mengundang daya tarik tersendiri bagi pengunjungnya,” kata Affan.

Affan menambahkan, pariwisata di Pulau Nias dapat menjadi salah satu komoditi ekonomi yang menjanjikan apabila dapat didukung oleh penyediaan komponen wisata dalam pengembangannya.

“Penyediaan komponen wisata yang ada di Pulau Nias masih perlu dibenahi, misalnya peningkatan intesitas dan kualitas transportasi dan perhubungan, sarana jalan, sarana perhotelan,  ketersediaan sumberdaya manusia, tenaga kerja dan tenaga ahli serta koordinasi antara berbagai instansi terkait,” tandasnya.

Dari itu, kata Affan, daerah perlu memberikan perhatian khusus untuk meningkatkan keberhasilan sektor pariwisata, antara lain dengan mengalokasikan dana APBD yang proporsional untuk membiayai pembangunan infrastruktur kepariwisataan (seperti jalan, listrik, dan telekomunikasi dll), memfasilitasi masyarakat dan pihak swasta dalam mengelola potensi wisata (seperti wisata budaya dan wisata alam), serta promosi dan pemasaran potensi wisata yang ada di daerah.

“Sinergi tiga pilar manajemen kepariwisataan, yakni Pemerintah Daerah, pihak swasta, dan masyarakat, merupakan kekuatan utama dalam meningkatkan perkembangan sektor kepariwisataan di daerah,” ucap Affan.

Kelemahan peran dari salah satu pilar, kata Affan, akan sangat menghambat upaya pengembangan kepariwisataan. Disisi lain tentunya keberhasilan pengembangan potensi pariwita Pulau nais wajib di dukung oleh adanya political will Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pusat. Hal ini penting untuk ditekankan mengingat bahwa selama ini ada kesan kurangnya pembinan dan dukungan pemerintah Provinsi dan pusat terhadap pengembangan  pariwitasa di kawasan Pulau Nias tersebut.

Diingatkan oleh Affan, kerjasama sinergis antara Pemerintah Daerah yang dudukung oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pusat, untuk mendorong sektor pariwisata akan sangat dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap daya tarik wisatawan, yang pada gilirannya akan sangat berarti dalam meningkatkan pendapatan asli daerah, pendapatan masyarakat, dan berkontribusi terhadap peningkatan devisa negara.”Diinsyafi bahwa kegiatan dibidang pariwisata sampai saat ini masih bersifat kompleks-dinamis dan berpeluang sebagai sumber pendapatan dengan diikuti pengembangan kawasan wisata yang mencakup integrasi semua komponennya,  beserta faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan pariwisata, namun potensi tersebut masih belum berkembang karena kurang didukung oleh penyediaan komponen-komponen wisata sebagai prasayarat daerah tujuan wisata,” tambahnya.

Dampak dari kurangnya pembinaan tersebut, lanjut Affan,  bisa jadi penyebab kian menurunya animo wisatawan baik mancanegara maupun domestik. Beberapa permasalahan pengembangan pariwisata yang ada di Pulau Nias harus lebih disempurnakan dengan penyediaan komponen-komponen wisata, yaitu: transportasi, atraksi wisata atau obyek wisata, promosi wisata, akomodasi hotel, akomodasi restauran, infrastruktur, dan sarana pelengkap wisata, karenanya Pemerintah Daerah di Pulau Nias dengan dukungan pembinaan Pemerintah Provinsi dan Pusat mesti melakukan akselarasi kebijakan guna mendukung pengembangan sektor pariwisata. (*)