Suara Rakyat (Bukan) Suara Tuhan
oleh Nirwansyah Putra
Vox Populi Vox Dei, suara rakyat suara tuhan. Di sini, demokrasi disandingkan dengan theokrasi; antara rakyat dan tuhan bak pengantin yang berikrar setia. Untuk? Katakanlah ada semacam nilai yang lahir di sana. Tentu nilai yang dianggap tinggi dan baik, tentu saja. Penyandingan ini kadang kala diniatkan untuk hal-hal yang dianggap baik. Namun, ada keraguan dalam kata “hal-hal” itu. Adakah yang (dianggap) baik itu berbilang ataukah tunggal?
Kita dihadapkan akan kebaikan jamak. Tapi bila dia jamak, seberapa banyakkah dia? Jangan-jangan dia tak berbilang, tak terhingga. Tapi jangan-jangan pula, kebaikan itu memang tak terbilang. Seperti sumur yang tak diketahui dasarnya, semakin dalam kita menyelaminya justru semakin lelah kita menemukan pangkalnya. Ini mungkin saja akan pelik, serumit kebenaran –kalaulah itu bisa dianggap sebagai yang dimaksud oleh kebaikan—yang selalu mendapatkan ujian untuk kesahihannya, keajegan, atau katakanlah keabadiannya.
Maka bolehlah kita menduga jika ada pertanyaan besar di antara suara rakyat dan suara tuhan.
* * *
Sungguh tak sedap bila kasus-kasus yang melanda partai-partai politik di Indonesia ditempat “prahara”. Tidak ada itu. Itu persoalan korupsi, suatu kejahatan dan katakanlah sebagai anak haramnya demokrasi. Mereka dan para elitnya terus saja menikmati korupsi.
Jangan pula dihubung-hubungkan dengan nabi apalagi Tuhan. Ada pula yang sungguh tega mengirim short message service (sms) di hadapan Ka’bah. Beribadahlah secara sungguh-sungguh, ikhlas dan mengharap ridho Tuhanmu dan jangan jadikan dia sebagai beking atas kekuasaan yang memang tak disandarkan pada Tuhan. Para penghamba demokrasi silahkanlah menuhankan demokrasi. Itu lumrah dan wajar, hak asasi setiap orang untuk memilih surga ataupun neraka.
Tapi ‘kan aneh benar, ketika Anda mentok dengan demokrasi, tiba-tiba Anda merasa butuh Tuhan untuk melegitimasi segala tindak-tanduk Anda yang pada mulanya tak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan. Apalagi itu disengaja dalam alam pikiran dan gerakan yang sekuleristik; pemisahan tegas antara agama dan politik.
Kalau dari sejak semula Anda sudah memilih politik sekuler, konsistenlah. Karena, kalau tiba-tiba untuk kekuasaan Anda harus mengemis kepada Tuhan, jangan salahkan orang kalau Anda dituduh sedang menjual Tuhan.
Sekurelisme politik di Indonesia memang didirikan atas dasar hipokritas. Agama disisihkan dari negara tapi diam-diam demokrasi yang diusung-usung itu senang benar untuk mengemis kepada agama. Alhasil, karena dasarnya adalah kemunafikan, standar ganda atas moral, maka orang-orang yang berada di dalamnya juga pelan-pelan menjelma menjadi manusia-manusia hipokrit. (*)

