Medan-www.indhie.com | Pemilu 2014 diperkirakan akan lebih sengit daripada Pemilu 2009 kemarin. Pasalnya, pertarungan politik menuju 2014 sudah terus menghangat saat ini. Karena itu, rakyat tidak boleh absen dalam perhelatan politik itu. Bila absen, maka yang dirugikan justru adalah rakyat sendiri dan itu menjadi bencana demokrasi.

Demikian kesimpulan yang dapat diambil dari Seminar Sosialisasi Undang-undang Pemilu 2014 No. 8 Tahun 2012” yang diselenggarakan Ikatan Masyarakat Peduli Sumatera Utara (IMPUS) di Aula Fakultas Hukum UMSU, pada Minggu (9/12). Seminar ini menghadirkan pembicara M. Risfan Siholoho, Koordinator Jaringan Pemilih Cerdas Sumatera Utara (JPCSU) dan Budi Arya Utama, S.Sos, Dosen Politik sekaligus Ketua LSM FIS. Seminar ini dihadiri peserta dari masyarakat dan mahasiswa dan berjalan cukup interaktif.

Menurut Risfan, Pemilu 2014 tidak bisa dianggap masih jauh. “Justru sosialisasi harus dilakukan jauh-jauh hari dan bukannya hanya menjelang pemilu saja. Pemilu itu untuk rakyat,” tegas Risfan.

Lebih lanjut dikatakannya, Pemilu 1955 disebut-sebut sebagai pemilu yang paling demokratis yang pernah dilakukan RI. “Partisipasinya cukup tinggi dan transparan, semua pihak bisa mengamati dan mengawasi dengan cukup terbuka. Harus dicatat, pemilu itu dilakukan ketika tingkat pendidikan masyarakat masih rendah,” kata Risfan. “Karena itu, adalah kewajiban kita bersama ketika tingkat pendidikan masyarakat di abad millenium ini sudah meningkat, maka kualitas pemilu juga semestinya harus ditingkatkan.”

Hal ini diamini oleh Budi AU. Menurut Budi, bila Undang-undang No. 12 Tahun 2012 dan Pemilu 2014 tidak disosialisasikan dengan gencar, maka itu akan menjadi bencana demokrasi. “Itu bencana demokrasi kalau masyarakat sampai tidak tahu soal Pemilu 2014. Masa kini disebut abad komunikasi dan teknologi informasi, semuanya serba terbuka, karena itu kalau masyarakat sampai minim informasi ini soal ini, maka itu bencana,” tandas dia. (*)