Bendera Dibakar, Alumni IMM Pinta Rektor Pecat Oknum Mahasiswa dan Evaluasi Pola Pembinaan
Medan-www.indhie.com | Tokoh dan alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-Sumatera Utara mengutuk keras aksi pembakaran bendera IMM yang terjadi di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) jalan Kapt Mukhtar Basri No 3 Medan, pada Sabtu, 17 Nopember dinihari. Menurut para alumni, pembakaran itu secara langsung merupakan penistaan terhadap Muhammadiyah karena IMM merupakan organisasi otonom dari Muhammadiyah. Para alumni meminta Rektor UMSU untuk bertindak tegas terhadap pelaku pembakaran. Kalaupun Rektor UMSU merasa khawatir terhadap tindakan yang akan diambil olehnya karena adanya ancaman dari pihak-pihak tertentu, para alumni IMM dan Muhammadiyah siap mem-backup pimpinan PTM. Alumni juga menyerukan kepada seluruh warga Muhammadiyah untuk menuntaskan kasus ini.
Demikian dinyatakan oleh para tokoh dan alumni IMM di antaranya Drs. Anwar Bakti (Ketua Keluarga Besar Alumni/KBA IMM), Amirsyah Tambunan (Wakil Sekretaris MUI Pusat), Moeslim Simbolon (mantan Ketua DPD IMM Sumut periode 2000-2002 dan anggota DPRD Sumut), Drs Adi Munasip MM (mantan Ketua DPD IMM Sumut), Subandi (Ketua Majelis Ekonomi PD Muhammadiyah Medan), M Khalik (mantan pengurus DPD IMMSU) dan beberapa tokoh lainnya pada Kamis (6/12).
Menurut Anwar, pembakaran itu merupakan penistaan terhadap Muhammadiyah. “Kalau pimpinan Muhammadiyah dan amal usaha Muhammadiyah tidak sanggup membela kehormatan Muhammadiyah, lebih baik mundur saja,” tegas Anwar. Anwar juga akan membawa persoalan ini kepada Ketua PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsudin dan memberi laporan tertulis kepada Majelis Dikti PP Muhammadiyah agar dapat mengambil sikap tegas dalam permasalahan ini serta menurunnya pembelaan terhadap persyarikatan Muhammadiyah di tubuh Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).
Drs. Anwar Bakti menyatakan pihaknya sudah bersilaturahim dengan Ketua PW Muhammadiyah Sumut, Prof Asmuni mengenai kasus ini. “Beliau kita lapori ini sebagai ayahanda. Kepada kami, Ketua PWM Sumut menyatakan beliau sudah menyarankan untuk mengambil tindakan akademis yang harus dilakukan oleh Rektor UMSU,” kata Anwar.
Sementara itu, Dr Amirsyah Tambunan, mantan Ketua PC IMM Medan 1986-1988 yang sekarang menjadi Wakil Sekretaris MUI Pusat, sangat menyesalkan kejadian tersebut. “Tidak pantas itu terjadi di lingkungan PTM. Itu merupakan pelecehan atribut yang merupakan organisasi otonom dari Muhammadiyah. Pimpinan UMSU harus mengambil sikap dan tindakan tegas sesuai statuta UMSU dan perundang-undangan yang berlaku terhadap oknum mahasiswa tersebut,” tegas Amirsyah.
Bahkan, Moeslim Simbolon menyatakan lebih tegas lagi. “Tragedi ini tidak hanya melukai kader melainkan secara langsung merupakan penistaan terhadap Muhammadiyah. Bendera itu merupakan simbol yang sakral,” katanya. Pasalnya, IMM merupakan ortom Muhammadiyah dan pembakaran itu dilakukan di dalam kompleks PTM. “Itu artinya di rumah sendiri,” cetusnya.
Moeslim tidak habis mengerti mengapa persoalan ini didiamkan begitu saja. “Kok diam ada apa? PTM harus bersikap tegas, memecat mahasiswa yang bersangkutan. Apa yang ditunjukkan pimpinan PTM sekarang belum tegas,” katanya.
Moeslim menambahkan, mereka siap memback-up Rektor UMSU seandainya keputusan tegas itu dipertanyakan atau diganggu oleh pihak-pihak tertentu. “Dulu KH Ahmad Dahlan perang menghadapi penjajah Belanda, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebagai alumni IMM sudah tentu kita akan melindungi amal usaha Muhammadiyah. Kita back-up penuh,” tegas Moeslim.
Namun untuk itu, pimpinan PTM juga harus menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi pola pembinaan mahasiswa yang tidak benar. “Evaluasi pola pembinaan mahasiswa, paling tidak agar tidak ada kebencian kepada Muhammadiyah,” tandas Moeslim.
Sementara itu, Adi Munasip mendukung kebijakan tegas yang dijatuhkan oleh Rektor UMSU. “Bendera itu kan maruah, martabat. Kalau ini terjadi di kampus Muhammadiyah, itu keanehan, perlu dipertanyakan. Dalam lingkungan PTM, IMM merupakan satu-satunya organisasi intrauniversitas. Itu sudah kebijakan PP Muhammadiyah dan IMM adalah sub atau ortom Muhammadiyah,” kata Adi Munasip. “Mesti ada perbaikan pola pembinaan mahasiswa yang jelas dan mendukung program persyarikatan Muhammadiyah.”
Sedangkan Subandi, Ketua Majelis Ekonomi PD Muhammadiyah Medan, mengatakan pembakaran itu harus diselesaikan. “Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, kita kembalikan ini ke induk organisasi Muhammadiyah. Sebagai orang tua harus cepat dipanggil. Kita ‘kan satu kesatuan Muhammadiyah. Harus cepat diselesaikan sebelum meluas,” katanya.
Di sisi lain, M Khalik, alumni IMM dan Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi menyatakan, Rektor UMSU harus mengambil tindakan tegas. “Pecat saja atau diskors. Itu bentuk penghinaan terhadap ortom yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Muhammadiyah,” tegas Khalik. (*)


