Kebijakan Hidayat Batubara Kecewakan Warga Madina
Spanduk yang diduga merupakan ekspresi kekecewaan
masyarakat Madina atas kepemimpinan Bupati Hidayat
Batubara, yang dipajang OTK pada 19 November 2012. (ist)
Medan-www.indhie.com | Bupati Mandailing Natal (Madina), Hidayat Batubara, didesak segera membenahi kepemimpinannya. Sebab, selama satu setengah tahun ia menjabat bupati, banyak kekecewaan dirasakan masyarakat atas sejumlah kebijakannya. Desakan dan kekecewaan ini disampaikan salah seorang tokoh masyarakat Madina, Shafron, saat berbicara kepada sejumlah wartawan di sebuah hotel di Medan, Minggu siang (25/11).
“Terus terang saya sangat kecewa dengan kebijakan dan kepemimpinan Bupati Madina, Hidayat Batubara. Karena janji-janji dia sewaktu kampanye dulu jauh dari harapan rakyat. Bahkan kebijakannya terkesan menguntungkan keluarga dan kelompoknya,” tegas Shafron.
Ia mengungkapkan sejumlah kebijakan Hidayat Batubara yang dinilainya menyalah antara lain ketika dia mengaktifkan kembali tambang emas Madinah Madani Maining di Desa Suka Makmur, Kecamatan Sinunukan, Madina. Padahal pertambangan ini telah pernah ditutup Pjs. Bupati Madina, Aspan Sofyan Batubara.
“Sebab tambang ini bertentangan dengan UU No. 4 Tahun 2009 tentang mineral dan batubara. Sebab mereka memiliki izin usaha pertambangan (IUP) bauksid (jenis bahan untuk aluminium), namun yang ditambang adalah emas. Dan banyak poin lain yang menyebakan izin tersebut dicabut. Namun bupati mengaktifkan kembali tambang tersebut,” tandas Shofran.
Kemudian, lanjut Shofran, pihaknya memiliki bukti adanya praktek jual-beli proyek di Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang bersumber dari DAK (Dana Alokasi Khusus) tahun anggaran 2012. Karena diduga kuat telah terjadi kongkalikong antara oknum kontraktor dengan oknum kepala dinas, dimana disinyalir kontrkator memberikan setoran kepada oknum kepala dinas.
“Dan yang lebih mengherankan lagi, oknum kepala dinas tersebut merupakan mantan narapidana yang tersangkut kasus korupsi sewaktu menjabat di Dinas PU Kota Medan. Dengan jejak rekam yang begitu negatif, maka sangat mengherankan kenapa dia dihunjuk lagi sebagai Kepala Dinas PU Madina,” kata Shofran.
Selanjutnya, kata Shofran, pihaknya juga mempertanyakan kebijakan Hidayat Batubara tidak memperpanjang izin prinsip perkebunan Koperasi Pengembangan USU Medan, dan malah memasukkan atau mengajukan perusahaan yang diduga miliknya (PT. Sumberjaya Dinamikatama) untuk menguasai perkebunan tersebut.
“Saya punya bukti perihal tersebut. Meskipun itu haknya bupati, namun ini kan jelas diduga adanya unsur kolusi pengelolaan perkebunan tersebut. Tentu saja hal ini sangat mengecewakan rakyat,” tegas Shafron.
Tuntaskan Isu Narkoba
Yang tidak kalah pentingnya, lanjut Shafron, munculnya keresahan di tengah masyarakat terkait adanya terpasang sebuah spanduk di depan Pasar Lama Kota Panyabunan yang bertuliskan “Jangan Menyabu Saja Kerjamu Bupati”. Spanduk ini dipasang tanggal 19 November 2012, dan saat ini telah diturunkan.
Menurut Shafron, Bupati Madina, Hidayat Batubara, harus segera mengklarifikasi persoalan ini. “Karena hal tersebut menyangkut marwah Pemkab Madina. Artinya, jika hal ini tidak benar, maka bupati bisa meminta pihak berwajib mengusut tuntas penyebar fitnah tersebut karena telah menjadi pergunjingan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Namun Shafron mengaku heran karena ketika persoalan spanduk ini ia konfirmasikan kepada Kapolres Madina, AKBP Ahmad Fauzi Dalimunte, diperoleh keterangan bahwa pihak polres belum ada menerima laporan pengaduan dari bupati terkait keberadaan spanduk tersebut. “Ada apa ini?” kata Shafron yang menghubungi kapolres via handphonenya di hadapan wartawan, Minggu sore (25/11).
Shafron menilai, jika persoalan spanduk ini dibiarkan begitu saja, hal ini dipastikan akan menimbulkan multitafsir di tengah masyarakat. “Kan bisa saja ada masyarakat yang menganggap isi spanduk tersebut benar. Supaya hal tersebut tidak menimbulkan fitnah dan meresahkan masyarakat, maka bupati harus mengklarifikasinya segera,” tegasnya.
Demikian juga dengan beredarnya selebaran yang isinya menuding Bupati Madina bertambah serakah dan rakus, dimana Kabupaten Madina telah salah urus. Hidayat Batubara dituding ingkar dari janjinya saat kampanye dulu.
“Munculnya spanduk dan selebaran tersebut tentunya akumulasi dari kekecewaan masyarakat selama ini atas kepemimpinan Hidayat Batubara. Jadi kita sangat berharap hal ini harus segera disikapi, demi kelangsungan pemerintahan dan kondusifitas masyarakat Kabupaten Mandailing Natal. Saya bicara ini tak ada kepentingan pribadi, tapi demi kemaslahatan ummat,” pungkas Shafron yang mengaku dulunya pendukung Hidayat Batubara saat Pilkada kedua. (*)

