Yusuf Rizaldi di Mapoldasu.

Yusuf Rizaldi di Mapoldasu.
(foto: rendra.indhie)

Medan-www.indhie.com | M Yusuf bin Hasan alias Rizaldi Yusuf alias Abu Totok (41), anggota jaringan teroris kelompok Toriq, menyerahkan diri pada polisi, Selasa (12/9) sore, setelah dinasehati ibunya.

“Jadi setelah bom di Depok meledak, Yusuf melarikan diri ke kampung orangtuanya di Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat. Di TV, orangtuanya lihat tayangan bom yang meledak dan ada gambar Yusuf. Ibu dan keluarganya menasihati dia agar tidak ikut-ikutan dan segera menyerahkan diri,” kata Kabid Humas Poldasu, Kombes Raden Heru Prakoso, Kamis (13/9) di Mapoldasu Jalan Sisingamangaraja Km 10,5 Medan.

Heru yang didamping Wakil Direktur Ditreskrimum Reserse Kriminal Umum (Wadir Ditreskrimum) Poldasu, AKBP Mashudi menyebutkan, saat itu Yusuf bimbang. Dia pun sebenarnya sudah takut setelah melihat temannya Wahyu alias Anwar tewas. Beberapa jaringan Toriq pun sudah ditangkap.

“Akhirnya dia menyerahkan diri ke Polsek Pangkalan Susu. Lalu diserahkan ke Polres Langkat dari situ diinterograsi, dia mengaku takut,” kata Heru.

Saat menyerahkan diri, Yusuf tidak membawa senjata api atau bom. Berbeda dengan Toriq yang membawa sabuk bom. “Untuk peran Yusuf ini dia melihat Toriq merakit bom. Rencananya Toriq akan meledakkan bom ini di sebuah tempat ibadah. Tapi Yusuf tidak melaporkan karena kasihan pada teman-temannya,” jelas Heru.

M Yusuf bin Hasan alias Rizaldi Yusuf alias Abu Totok merupakan pengontrak rumah yang meledak di Beiji Depok, Jawa Barat, Minggu (9/9) lalu, sedang berada di Kebon Jeruk saat ledakan terjadi. Dia langsung kabur saat mengetahui peristiwa itu. “Saat itu dia berada di rumah pasiennya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dia mengetahui kejadian itu dari pasiennya,” ungkap Heru.

Setelah mengetahui adanya ledakan, Yusuf langsung meninggalkan pasiennya. Dia menuju Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Dari sana Yusuf naik bus ke Merak, Banten. Setelah menyeberang ke Lampung, dia naik bus lagi ke Pekan Baru, Riau, sebelum bertukar bus menuju Terminal Pinang Baris, Medan. Dari Medan, Yusuf naik bus lagi ke rumah orang tuanya di Pangkalan Susu, Langkat.

“Pengakuannya, dia tiba di Pangkalan Susu kemarin, Selasa (12/9) setelah dinasehati ibunya, dia kemudian menyerahkan diri,” ujar Heru.

Yusuf menyerahkan diri ke Polsek Pangkalan Susu, Langkat, diantar orang tua dan adik-adiknya kemudian ke Polres Langkat juga keluarganya ikut mengantarkan.

Disebutkan, Yusuf menjadi buronan setelah terjadi ledakan bom di rumah yang disewanya di Beji, Depok. Yusuf Rizaldi, terlibat kasus terorisme bermula ketika dia merantau ke Jakarta pada 2002. Saat berangkat dari kampung halamannya di Desa Sei Siur, Pangkalan Susu, Langkat, Sumatera Utara, usianya masih 31 tahun. Semula dia tinggal di Jakarta Barat.

Di Jakarta, kata Heru, Yusuf berkenalan dengan S. Pria ini bahkan sudah dianggapnya sebagai saudara. “Kemudian oleh A, dia (Yusuf, red) dikenalkan dengan MT, lalu dengan A, lalu A. Kawan-kawannya inilah kelompok M Toriq,” ungkap Heru.

Disebutkan, pada 2004 Yusuf menikah dengan Hafsah, kemudian tinggal di rumah mertuanya di Petojo, Gambir, Jakarta Pusat. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai anak kembar berusia 2,5 tahun.

Sekitar pada Juli 2012, lanjutnya, Yusuf mengontrak di Jalan Nusantara, Beiji, Depok, yang kemudian menjadi klinik pengobatan dan Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara. “Teman-temannya sudah sering datang dan bertamu, berawal dari pertemanan,” papar Heru.

Dalam pertemuan itu, Yusuf mengaku mengetahui Toriq merencanakan bom bunuh diri di salah satu rumah ibadah di Jakarta, Senin (11/9). Dia bahkan melihat Toriq merakit bom, namun meninggalkannya.

Sementara Dansatgas Densus 88 AT Sumbagut, AKBP Ibnu menyebutkan belum tahu peran Yusuf. “Masih kita dalami. Dengan menyerahkan dirinya yang bersangkutan, apakah kemungkinan masih ada jaringan teroris yang lainnya. Pastinya dia (Yusuf, red) punya rekannya di sini dan kita masih dalami lagi,” ungkapnya.

Ditanya apakah sudah ada teridentifikasi rekan dari pelaku di sumut, Ibnu mengatakan, sejauh ini belum ada. “Ini tidak ada kaitan dengan keluarga pelaku dan ini murni rekan-rekan mereka,” ujarnya.

Disinggung apakah ada keterkaitan dengan jaringan Abu Bakar Ba’asyir, Ibnu mengaku belum mengetahuinya dan masih mendalaminya. Ia juga membantah bahwa pelaku tidak terkait dengan perampokan Bank CIMB Niaga di Medan. “Pelaku tinggal di rumah orang tuanya. Pimpinan mereka ya thoriq itu. Dia mengontrak di Depok sekitar empat bulan. Yang jelas masyarakat harus lebih waspada, deteksi dini harus jalan supaya tidak ada kejadian seperti ini lagi. Tapi ternyata orang Medan terlibat teroris di jakarta. Dia merupakan pemilik kontrakan,” bebernya.

Usai gelar pengungkapan menyerahkan diri tersangka terduga teroris, Yusuf Rizaldi dibawa dengan Barracuda menuju Bandara Polonia dengan pengawalan petugas Brigadir Mobil (Brimob) bersenjata lengkap dan personel Densus 88 AT, sekitar pukul 12.30 WIB.

Yusuf yang mengenakan penutup wajah dan kemeja kotak-kotak dibawa masuk ke mobil Barracuda yang akan membawanya ke Bandara Polonia Medan. Selain itu, sejumlah anggota Densus 88 dan aparat Brimob dan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut juga mengikuti dari belakang. Mereka mengendarai tiga mobil pribadi. Yusuf dan rombongan Densus 88 terbang ke Jakarta pukul 13.55 WIB dengan menumpang pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 189.

Seperti diberitakan, Yusuf jadi buronan setelah terjadi ledakan bom di rumah yang disewa Yusuf Rizaldi di Depok. Dari sana polisi menyita bahan-bahan untuk membuat bom, tiga granat, sepucuk senjata Baretta, dua senjata, dan beberapa butir peluru, sepeda motor, bahkan surat wasiat.

Rumah Yusuf di Petojo, Jakarta Pusat pun digeledah Densus 88. Dari rumah itu, polisi membawa dan menyita satu kardus. Istrinya, Hafsah, dan dua anak kembarnya berusia 2,5 tahun diamankan polisi. (*)