Moskow-www.indhie.com | Pemerintah Rusia boleh bangga setelah produksi minyaknya berhasil digenjot hingga melampaui zaman Uni Soviet. Tingginya produksi minyak Rusia ini bisa menjadi hal positif di tengah krisis ekonomi Uni Eropa.

Berdasarkan data Kementerian Energi Rusia, Senin (3/9), Rusia memproduksi 10,38 juta barel per hari di Agustus lalu, naik signifikan dari bulan sebelumnya hingga mencapai posisi tertinggi dalam dua puluh tahun terakhir.

Hampir seperempat dari produksi itu disumbang oleh perusahaan milik negara, Rosneft, yang baru saja menemukan cadangan baru di Antartika bersama raksasa minyak Amerika Serikat (AS) ExxonMobil juga perusahaan dari Italia dan Norwegia.

Analis memperkirakan produksi tersebut sengaja digenjot supaya perusahaan bisa memanfaatkan tingginya harga minyak sebelum ada sentimen negatif yang bisa menjatuhkan pasar, salah satunya adalah potensi keluarnya Yunani dari Uni Eropa.

Penambahan produksi ini masih menunggu anggaran dari belanja pemerintah, yang tahun lalu hampir setenganya didapat dari hasil pejualan minyak dan gas. Presiden Rusia Vladimir Putin pun sudah berjanji untuk mengucurkan dana cukup besar untuk penambahan produksi minyak.

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menyombong tak lama lagi Rusia akan kembali menyandang nama sebagai negara pengekspor minyak dan gas terbesar di dunia.

Tahun lalu, Rusia sudah hampir mendapat gelar tersebut jika bukan karena produksi minyak Arab Saudi yang naik cukup tinggi. Akan tetapi Rusia memang masih menjadi pengekspor gas terbesar di dunia berkat BUMN raksasa Gazprom.(*)