Sotoy, Ketika Kegantengan Mengalahkan Segalanya
oleh Kyo Rizki Han
Sekretaris Kadri Forum Lingkar Pena Sumut
* * *
Sebuah kisah lelaki bernama Sutoyo yang memiliki ketampanan yang mampu mengalahkan segalanya dan memerlicin semua urusan.
Sotoy nama panggilannya. Nama aslinya, sih, Sutoyo. Ternyata, nama Sutoyo memiliki makna luar biasa. Su artinya bagus, dan Toyo artinya air. Jadi Sutoyo artinya air yang bagus yang akan mengalir sampai jauuuh… hehe. Kayak Bengawan Solo, dong.
Kelebihan luar biasa pada diri Sotoy adalah kegantengannya yang melebihi kegantengan orang rata-rata. Ketika masih bayi, kegantengan Sotoy sudah menyebabkan perpecahan para perawat yang ingin mengurusnya. Lesung pipi Sotoy kayak orang Cina, hidungnya mancung kayak orang Italia, pipinya montok kayak orang Mongolia, dagunya belah kayak orang Australia, dan kepalanya suka geleng-geleng kayak orang India.
Sotoy pun tumbuh menjadi cowok super ganteng. Semakin dewasa kegantengannya semakin meningkat. Hebatnya, cowok ini tetap ganteng meskipun dilihat dari sudut pandang mana pun.
Tapi yang namanya manusia, nggak ada yang sempurna. Begitu juga Sotoy. Waktu proses persalinan Sotoy kayaknya ada yang salah. Seharusnya otak Sotoy berada di kepala, tapi justru pindah ke dengkul. Oooh…
***
Dalam pengantar buku ini, Boim memperkenalkan sosok lelaki bernama Sotoy yang menjadi idola sejak kecil hingga dewasa, karena ketampanannya dianggap sebuah mukjizat yang luar biasa bagi orang–orang di sekitarnya. Guyonan yang renyah dan menggelitik mampu memberikan kesegaran sehingga membuat penikmatnya ingin terus membaca bab–bab selanjutnya.
Boim mencoba menangkap dan mengemas sebuah ide dari fenomena yang marak dalam dunia hiburan tanah air. Banyak remaja yang berduyun–duyun ingin menjadi artis, namun memilih cara–cara instan dengan mengandalkan fisik tanpa disertai bakat. Dengan kata lain, artis karbitan mulai bermunculan yang diapresiasikan pada sosok Sotoy pada Bab Dahsyatnya Nasibox.
Dua belas Bab yang disajikan dalam buku ini selalu memiliki kejutan di dalamnya. Masa–masa Sotoy sebagai mahasiswa jurusan broadcasting di Universitas Mercu Suar menarik untuk disimak. Hari–hari yang selalu dikejar tiga cewek bernama Tyas Mirebus, Dewi Permanen, dan Intan Nurunin. Notabene, cewek-cewek ini anak orang kaya yang berusaha mendekati Sotoy dengan menyediakan jasa untuk memenuhi kebutuhan Sotoy. Mulai dari mengantar jemput Sotoy secara bergantian, mentraktir makan siang, hingga membayar uang kuliah Sotoy.
Ternyata tidak semua wanita mengejar–ngejar Sotoy, Sotoy mulai jatuh hati pada sosok Epoy, cewek lugu bertubuh tambun, pada ketemu gadis lugu. Boim berusaha memberikan solusi dari semua intriks yang terjadi, namun justru membuat pembaca terpingkal–pingkal di dalamnya.
Ada beberapa bagian cerita yang justru terkesan menjadi komedi yang garing dan tanggung. Sehingga menjadi kelucuan yang tidak sampai pada pembaca.
Tak sekedar cerita humor yang hanya sekedar untuk dinikmati sebagai teman duduk saja. Namun, Boim berhasil menutup dengan ending yang sarat hikmah di dalamnya pada judul Rebutan Sotoy? Berangkaaat!.
“ Sotoy, Apabila Kegantengan Di Atas Segala-Galanya” layak disejajarkan dengan buku–buku fenomenal Boim lainnya. Jika Anda penggembar buku–buku Boim, buku ini patut dijadikan daftar koleksi perpustakaan Anda.



