Jakarta-www.indhie.com | Sekretaris Jenderal DPP PPP, M Romahurmuziy, menyatakan partai politik hanya melihat ajang Pilkada DKI Jakarta sebagai prestise. Dia menolak jika pilkada disebut sebagai barometer pemilihan umum 2014.

“Tidak rasional menggunakan DKI yang hanya meliputi 7 juta pemilih dan 6 dati II, sebagai barometer pileg atau pilpres yang meliputi 491 kabupaten/kota dan 174 juta pemilih,” kata Romi, Jumat (13/7).

Putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2012 yang digelar 11 Juli lalu menghasilkan dua pemenang yang kemungkinan bisa melaju ke putaran dua, berkaca pada beberapa hitung cepat (quick count). Pasangan Joko Widodo dan Basuki T Purnama yang didukung PDI Perjuangan serta Gerindra duduk di urutan tertinggi. Disusul kemudian oleh pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli.

Sebenarnya, hasil hitung cepat ini anomali terhadap beberapa survei sebelum pilkada. Survei-survei justru menunjukkan kemenangan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Survei gagal memprediksi.

Romi menilai kemenangan Joko Widodo yang biasa disapa Jokowi dan Basuki (Ahok) adalah keberhasilan sementara dalam mengelola kegagalan konsep pasangan calon lainnya. Jokowi-Ahok dinilai mampu tampil sebagai figur simpatik yang merakyat dan mengesankan siap membela usaha kecil tertindas. Sementara kandidat lainnya hanya menonjolkan program solusi masalah Jakarta.

“Baik pengelolaan lapangan maupun pengelolaan kemasan, pasangan ini mampu membawakan diri sebagai calon underdog yang lahir dari rakyat. Semua pollster meleset, dan semua timses kaget, termasuk timses Jokowi sendiri. Mengingat seluruh angka swing voters akhirnya memilih Jokowi, sesuatu yang sangat jarang terjadi di banyak pilkada,” kata Romi.

Tapi, Romi mengingatkan putaran kedua belum tentu meneruskan hasil putaran pertama. “Karena pada putaran kedua semua parpol akan lebih serius dan pola dukungannya tidak lagi bersifat taktis, melainkan ideologis,” kata Romi.

Selain itu, Romi menilai kemenangan Jokowi -Ahok pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta juga membuktikan ketidakmampuan lembaga-lembaga survei menangkap aspirasi massa mengambang.

“Lembaga survei terbukti tidak akan pernah mampu menjelaskan arah pilihan swing voters. Melompatnya perolehan quick count Jokowi dari prediksi seluruh pollster yang berkisar 17-20 persen, menjadi 44 persen, menunjukkan Jokowi mampu menyedot hampir seluruh perkiraan swing voters yang di pollster tertangkap sebesar 26 persen. Dan ini tidak bisa dijelaskan oleh pollster manapun,” kata Romi. (*)