Menyusuri Rekam Jejak Peradaban Si Raja Batak (2)
oleh Ingot Simangunsong
Penulis adalah Redaktur Senior www.indhie.com
Berjalan ke Pusuk Buhit “Berselimut” Ketulusan Hati
*****
Kamis, 25 Mei, sekira pukul 05.30 Wib, kami sudah berkemas-kemas meninggalkan penginapan Saulina Resort. Sesuai janji dengan Santun Sagala, pemandu dari Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Samosir, pukul 06.30 Wib, kami ngopi di sebuah warung pinggir jalan di Desa Sipitudai.
Santun Sagala menanyakan apakah kami sudah mempersiapkan kebutuhan ritual yang akan digelar di puncak Pusuk Buhit. Ketika kami belum membawa cawan, Santun kembali ke rumahnya untuk mengambil cawan (mangkok berwarna putih) bersama pisau yang akan dipergunakan untuk membelah jeruk purut).
Setelah semua kebutuhan ritual lengkap (ayam putih, jeruk purut, telur, sirih, cawan dan pisau), kami (tujuh orang) dengan kendaraan mobil, bergerak dari Desa Sipitudai menuju Pusuk Buhit. Sebelum dan sesudah dalam perjalanan, wartawan kami, Hatoguan Sitanggang, terus ngoceh memaparkan pengalamannya yang sudah dua kali naik hingga ke puncak Pusuk Buhit. Celoteh kekaguman dan kebanggaannya sebagai Putra Batak yang sudah menyusuri jejak peradaban Raja Batak.
“Jangan merasa bangga, kalau Putra Batak berhasil menyusuri puncak bukit atau gunung apapun di dunia ini, sebelum berhasil menjejakkan kaki di Pusuk Buhit tempat asal muasal orang Batak. Saya bangga, sebagai putra Batak sudah sampaikan ke tempat paling sakral dan bersejarah bagi peradaban orang Batak,” kata Hatoguan Sitanggang.
Saya resapi apa yang diucapkan Hatoguan itu. Kemudian saya mendecak kagum dan tidak dapat membayangkan, jika semua keturunan orang Batak, datang ke Samosir untuk menyusuri rekam jejak peradaban Si Raja Batak. Sungguh luar biasa, dan makmurlah masyarakat Kabupaten Samosir. Penginapan akan ramai dihuni dan perputaran uang akan semakin tinggi.
Hatoguan kembali kumat-kamit, “orang lain saja, yang tidak ada kaitannya dengan sejarah Raja Batak, datang kemari. Kenapa kita yang berkaitan langsung, tidak tertarik. Saya ingat apa yang dikatakan para pendahulu, bangsa yang besar, bangsa yang mengingat sejarahnya. Itu artinya, orang Batak akan menjadi besar, jika ingat menyusuri rekam jejak peradabannya,” katanya.
Mobil kami terhenti di ujung jalan yang sudah tidak dapat dilintasi, dan tidak juga ada hamparan luas tempat memutar kendaraan. Kami pun turun, dan memulai perjalanan. Tanpa ada komando, kami membawa satu demi satu kebutuhan ritual dan dua jerigen untuk tempat air tawar (yang memiliki kekhasiatan menjadikan apapun terasa tawar, termasuk apabila seseorang berbuat dengki dengan memanfaatkan ilmu kedukunan).
Semua yang disampaikan Hatoguan itu, menarik dan menggugah perasaan saya, sebagai putra Batak, yang di usia 50 tahun, baru melakukan penyusuran rekam jejak peradaban Si Raja Batak. Saya menatap jauh ke arah tujuan perjalanan kami. Di dalam hati saya bertanya, “sanggupkah saya mencapai puncak dimana asal mula Si Raja Batak.”
Hatoguan seperti mengingatkan kami. Perjalanan ini harus dilakukan dengan ketulusan hati. Jauhkan kesombongan dan mengandalkan kekuatan fisik. Intinya, kita harus memasrahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kepercayaan masing-masing. Dengan membaca “Bismillahirahmanirrahim”, saya langkahkan kaki.
Berulangkali kami harus menghentikan langkah kaki karena terasa letih. Setiap kali istirahat, napas saya terasa sesak, ngos-ngosan. Saya pun merasakan, betapa alam yang diciptakan Allah Swt, menyimpan kekuatan yang tiada terhingga. Bersyukurlah manusia diberikan kelebihan akal, sehingga dapat mempersiapkan diri untuk mengatasi setiap apapun yang dirasakan dari kekuatan alam. Benar apa yang dikatakan Hatoguan, “hanya ketulusan hati yang membuat kita dapat menyatu dengan alam. Kesombongan dan keangkuhan, tidak akan mampu bertahan melawan letihnya menyusuri tanjakan menuju puncak dan melawan dinginnya udara yang menusuk hingga tulang sumsum.”
Selangkah demi selangkah, akhirnya kami sampai juga ke tempat sakral yang disebut “Tala-tala”. Jam menunjukkan pukul 09.30 Wib, kami menyelonjorkan kaki di sebuah hamparan luas yang terbuat dari semen. Santu Sagala menjelaskan bahwa kawasan yang sudah kami capai itu, merupakan tempat 7 bidadari cantik, yang menurut cerita, ketujuhnyalah yang melayani Raja Batak, setiap kali melaksanakan pesta.
Tidak jauh dari tempat kami berselonjor, Santun menunjuk tempat pelaksanaan ritual dan kolam air permandian para bidadari. Dari kolam itulah, pengunjung dapat mengambil air yang disebut-sebut memiliki khasiat untuk penyembuhan penyakit. Kami pun melaksanakan acara ritual di tempat itu.
Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Samosir Theodora Sihotang menjelaskan, ada 7 titik situs yang dilintasi saat naik dan turun. “Rekam jejak naik dan turun itu, dilakukan dengan tidak sama. Lain jalan naik dan jalan turun,” katanya.
Tujuh titik situs yang dilintasi saat naik, yakni Perkampungan Tuah Si Raja Batak dan Aek Bintatar Desa Sianjur Mulai-mula, Harbangan (gerbang masuk), Sipiso-piso (jalan berkelok-kelok), Sitapangi (Tala-tala, mata air pemandian para bidadari), Sitampahan (hamparan luas), Junjungan (tempat pelaksanaan persembahan) dan Raga-raga Nabolon.
Kemudian tujuh titik situs yang dilalui saat menuruni bukit, yakni Batu Kursi (yang dijadi tempat berisitirahat Ompu Mula Jadi Nabolon), Batu Sopo (batu-batu raksasa), Batu Martangga-tangga (Batu Nanggarjati), Batu Anduhur (batu yang memiliki keunikan, ketika angin kencang menyentuh batu tersebut, maka akan terdengar seperti suara burung berkicau), Batu Palangka (ada mata air), Siharbangan dan Batu Parbiusan (yang berdekatan dengan Aek Sipitudai).
*****
USAI ritual di Tala-tala, perjalanan menuju puncak Pusuk Buhit, kami lanjutkan. Tanjakan dakian kembali membentang di hadapan. Kami melangkah dengan membawa perasaan masing-masing dengan berselimutkan ketulusan hati.
Perjalanan pun tetap tidak mulus. Fisik yang sudah mulai terasa lelah, membuat kami harus tetap menghentikan langkah dan istirahat.
Tidak terasa, kami sampai juga di puncak Pusuk Buhit. Di puncak tertinggi itu, terdapat hamparan tempat pelaksanaan ritual berbentuk piramida. Pada ujungnya terdapat cawan putih, yang kemudian tiga cawan lainnya di kiri-kanan, dan keseluruhan berjumlah 7 cawan. Kemudian, di kirinya terdapat satu tiang penyanggah cawan. Di kedua tempat inilah pengunjung melalui pemandu menyampaikan persembahan.
Tidak terlupakan, pada bagian kanan berdiri tiang bendera, yang mengibarkan bendera Batak berwarna merah, hitam dan putih.
Dari ketinggian itu, kulepaskan sebebasnya tatapanku ke hamparan luas di bawah sana. O, Tano Batak. Betapa besarnya kekuasaan Allah Swt yang memberikan nikmat kekuatan, pengetahuan, ilmu dan rezeki kepada Si Raja Batak di Pusuk Buhit, kemudian keturunannya berserak ke seluruh penjuru bumi.
Betapa tidak terhingganya rezeki yang ditinggalkan Si Raja Batak kepada anak-cucunya hingga sekarang ini. Tinggal bagaimana, keturunannya memberikan penghargaan terhadap apa yang ditinggalkan Si Raja Batak.
Theodora Sihotang menjelaskan, cerita ini bermula pada tiga kali ledakan Gunung Toba. Pertama, terjadi 850.000 tahun silam, dan hanya membentuk lobang besar. Kedua, 500.000 tahun silam, ledakan membentuk lubang besar berisikan air. Ketiga, 75.000 tahun silam, merupakan ledakan paling dahsyat yang mengakibatkan munculnya Danau Toba Purba.
Ledakan dahsyat dengan volume buangan sejauh 3.000 kilometer kubik. Ini merupakan volume buang terbesar yang mengakibatkan seisi bumi mengalami kegelapan selama 6 tahun dengan suhu udara 5 derajat celcius. “Kondisi itu mengakibat tumbuh-tumbuhan dan seisi alam bermatian, tidak ada sinar matahari, dan 60 persen umat manusia meninggal dan diperkirakan yang tersisa pada masa itu hanya 15.000 jiwa. Sunggu luar biasa,” kata Theodora Sihotang.
Kemudian, proses lanjutan dari meletusnya Gunung Toba itu, tekanan dari bawah Danau Toba Pura, muncullah dua daratan yang menjulang tinggi, yang kemudian disebut Pusuk Buhit dan Pulau Samosir.
Saya merasa bangga menjadi orang Batak. Banggakah Anda juga sebagai orang Batak? Jika kebanggaan itu, masih ada dalam hati yang terdalam, mari lapangkan dada untuk menjaga, melestarikan dan memperjuangkan Geo Park Toba, karena sesuatu yang berharga dan tidak ternilai ada pada rekam jejak peradaban Si Raja Batak.
Niat yang ada dalam pikiran saya, hanya saya sebutkan di dalam hati terdalam. Semoga apa yang dipikirkan dan dirasakan, memberikan pengertian dan pemahaman bagi saya, tentang kebesaranNYA.
Syukur Alhamdulillah, saya sudah diberi waktu dan kesempatan untuk menyusuri jejak peradaban Si Raja Batak, yang merupakan bagian dari perjalanan hidup saya sebagai putra Batak dari keturunan Raja Simangunsong. (habis/*)


