oleh Ingot Simangunsong
Penulis adalah Redaktur Senior www.indhie.com

Ingot Simangunsong

Aek Sipitudai dan Perkampungan Pertama Orang Batak

Bagi saya, hal ini sesungguhnya menjadi pengalaman tidak terlupakan sekaligus mendebarkan, karena setelah berulangkali mengunjungi Samosir dalam tugas jurnalistik, khususnya liputan Pesta Danau Toba, saya tidak pernah teringat untuk melakukan penyusuran rekam jejak peradaban Raja Batak tersebut. Sebagai putra Batak, seharusnyalah saya melihat Pusuk Buhit, tempat asal muasal Si Raja Batak.

Rombongan kami beranjak menuju pemandian Aek Sipitudai di Desa Sipitudai Kecamatan Sianjurmula-mula. Jarak menuju lokasi tersebut sekitar 9 kilometer dari Pangururan ibukota Kabupaten Samosir. Menuju lokasi itu, dapat ditempuh dengan spedamotor maupun mobil. Jalan beraspal boleh dikatakan mulus. Hanya saja ketika memasuki jalan menuju lokasi Aek Sipitudai, jalanan sudah tidak beraspal, hanya jalan bebatuan yang tidak teratur harus dilintasi.

Di kanan jalan memasuki lokasi pemandian terdapat plank bertuliskan “Welcome to Objek Wisata Budaya Aek Sipitudai”, kemudian perkampungan marga Limbong. Persis di ujung kiri jalan itulah, pemandian Aek Sipitudai dan di depan jalan yang buntu, membentang hamparan sawah pepadian.

Tempat pemandian ditutupi tembok tanpa atap, yang pada jalan masuk tertulis kata wanita dan pria, sebagai tanda siapa yang dapat memasuki kawasan tersebut. Dari tempat pemandian wanita, terdengar suara kaum ibu berdialog dalam bahasa Batak. Sementara di tempat peristirahatan bagi tamu yang datang, sejumlah anak-anak dari Kampung Limbong asyik bermain dan saling bercanda. Kami membaur dengan anak-anak, duduk di bangku terbuat dari semen.

Santun Sagala—pemandu dari Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Samosir—menyamperi kami. Setelah saling memperkenalkan diri, Santun menjelaskan tentang Aek Sipitudai. Objek wisata ini, merupakan salah satu dari situs rekam jejak peradaban Raja Batak di Sianjur Mula-mula.

Sianjur Mula-mula, dijelaskan Kadis Pariwisata Seni dan Budaya Ir Theodora Sihotang SH, adalah perkampungan pertama asal usul orang Batak yang disebut sebagai Bona Ni Pinasa. Dari desa inilah—dulunya—keturunan Raja Batak berpindah ke daerah lain yang kemudian perkampungan itu dikenal dengan sebutan Bona Pasogit (tanah kelahiran).

Menurut Santun Sagala, Aek Sipitudai yang dinilai sangat sakral itu, sudah banyak dikunjungi wisatawan dari Aceh, Sukabumi, Jogja, Jawa Tengah, bahkan dari Papua. Namun yang terbanyak kunjungan dari Kepulauan Riau (Pekanbaru).

“Mereka datang menyampaikan persembahan dan pengharapan terhadap apa yang diinginkan. Setelah mereka menyampaikan niat, kemudian membawa pulang air tujuhrasa (Aek Sipitudahi) yang diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit,” kata Santun Sagala yang mengaku bahwa dirinya bukan “juru kunci” atau “paranormal”, tetapi sebagai pemandu yang ditugaskan Dinas Pariwisata Seni dan Budaya.

Kelaziman yang terjadi di kawasan tersebut, setiap pengunjung yang datang dan memang ingin menyampaikan niat, akan dipandu oleh Santun Sagala untuk menggelar ritual penyampaian persembahan. Bentuk dan nilai persembahan, tidak ditetapkan, tergantung pada keikhlasan dan ketulusan hati pengunjung yang hendak melakukan ritual.

“Ada yang membawa ayam, kambing dan sebagainya. Bahkan, ada yang membawa atribut-atribut berupa bendera yang mereka pancangkan di sekitar lokasi Aek Sipitudai, sebelum menggelar ritual,” kata Santun Sagala.

Setelah ritual penyerahan persembahan selesai, kemudian pengunjung dipandu untuk melaksanakan mandi di pancuran Aek Sipitudai. Saya pun melaksanakan prosesi tersebut, sebagai napaktilas rekam jejak peradaban Raja Batak. Saya bersama Pemimpin Redaksi Hitler Manalu, Hatoguan Sitanggang dan lainnya menjalankan prosesi ritual serta mandi di pancuran Aek Sipitudai.

Santun Sagala mengingatkan kami, bahwa apa yang sudah dilakukan, tidaklah segampang membalikkan telapak tangan untuk merasakan dari apa yang disampaikan atau diniatkan.

Bagi Santun Sagala, semuanya harus beralaskan ketulusan dan keikhlasan hati dalam menjalankan proses pengharapan terhadap apa yang kita impikan. Itu pula yang dirasakannya ketika selama 4 tahun sejak 2006, dirinya tidak pernah mendapatkan gaji atau honor apapun ketika membersihkan kawasan sakral Aek Sipitudai. “Saya berkeyakinan, bahwa dengan mengerjakan sesuatu dari ketulusan dan keikhlasan hati, saya akan mendapatkan sesuatu yang diluar dugaan,” katanya.

Santun memang tidak mendapatkan apapun dari pemerintah, tetapi dari setiap pengunjung, karena pelayanan yang diberikannya, ia mendapatkan imbalan yang cukup untuk menghidupinya. Seiring waktu berjalan, tahun 2008, Santun diangkat sebagai honor daerah dengan penghasilan Rp850.000 per bulan. Pada tahun 2010, Pemkab Samosir yang baru dimekarkan dari Kabupaten Tapanuli Utara itu, membuka kesempatan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Santun Sagala yang selama 4 tahun memandu pengunjung untuk melaksanakan ritual penyampaian niat dan keinginan itu, kemudian melaksanakan hal sama. “Orang lain saja yang datang dibantu, kenapa saya yang asli putra Batak tidak mengajukan permintaan. Ketika itu, saya meminta diberikan kelancaran dan dijauhkan dari segala rintangan selama sebulan mengikuti seleksi,” katanya.

Hasilnya, Santu Sagala—ayah tiga anak itu—mengaku, semuanya berjalan dengan lancar dan ia lulus sebagai PNS. “Saya sekarang Golong IIC dengan gaji Rp1.700.000 per bulan,” katanya.

Begitulah pengalaman yang disampaikan Santun Sagala sebagai bagian dari rekam jejak peradaban Raja Batak yang dinilai memiliki kesakralan dan perlu dilestarikan. Sekarang, tinggal bagaimana berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Samosir dapat menjadikan sebuah kawasan objek wisata sebagai peninggalan yang dapat memberikan nilai-nilai pada peningkatan kemakmuran.

Apapun yang ada di Bona Ni Pinasa, Bona Pasogit ataupun di kawasan Danau Toba, merupakan bagian dari ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tergantung bagaimana kita memberikan nilai pada peninggalan-peninggalan yang ada. Yang perlu menjadi sebuah catatan, kenapa orang yang tidak ada keterkaitan dengan Batak, datang untuk melihat, sementara kita yang disebut Putra Batak tidak tersentuh hatinya untuk menyusuri rekam jejak Raja Batak. (bersambung)