Hisab Wujudul Hilal adalah Tajdid Muhammadiyah
Medan-www.indhie.com | Muhammadiyah sudah lama tidak lagi menggunakan rukyat sebagai metode penetapan awal bulan kamariah termasuk bulan-bulan ibadah. Hisab wujudul hilal yang dipakai dalam Muhammadiyah merupakan upaya tajdid untuk mengatasi masalah penanggalan Islam yang masih kacau karena ketidakmampuan menyatukan momen-momen penting Islam khususnya hari ibadah. Jadi, hisab wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah bukanlah sebuah taklid yang jumud.
Demikian yang dapat disimpulkan dalam Seminar Nasional bertajuk “Metode Penetapan Awal Ramadhan dan Awal Bulan Kamariah” yang digelar Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut, di auditorium Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara (UMSU), jalan Kapten Mukhtar Basri No. 3 Medan , Minggu (15/7) kemarin.
Dalam kesempatan itu, Ketua MTT PP Muhammadiyah, Prof Dr Syamsul Anwar MA, menyebutkan, sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh MTT PP Muhammadiyah, maka telah ditetapkan awal dimulainya bulan puasa atau 1 Ramadhan 1433 H pada Jumat 20 Juli 2012. Sedangkan Idul Fitri 1 Syawal pada Minggu 19 Agustus. Seminar nasional tersebut menghadirkan tiga narasumber dari kalangan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, yakni Ketua MTT Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Syamsul Anwar MA, Ketua Majelis Hisab Rukyat PB Al Washliyah, Drs H Arso MA, dan Ketua Lajnah Falakiyah PW Nahdhatul Ulama (NU) Sumut, Drs Khairul Zein MA.
Hadir dalam acara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut Prof Dr Asmuni, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Drs Agussani MAP, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumut (Gubsu) H Gatot Pujo Nugroho, Ketua Panitia Seminar Maulana Siregar MA dan sejumlah pimpinan ormas Islam di Sumut.
Dalam sambutannya, Plt Gubsu H Gatot Pujo Nugroho menyatakan bangga bahwa elit ormas Islam bisa duduk bersama membahas metode penetapan awal Ramadhan dan Syawal. “Kerelaan duduk bersama itu, adalah solusi menyatukan umat, kendati berbeda dalam satu hal seperti dalam penetapan awal Ramadhan,” kata Gatot.
Plt Gubsu berharap, saling menghargai perbedaan harus terus dibumikan, akar ukhuwah tetap terpelihara dengan baik. “Jika elit ormas Islam bisa duduk bersama, umat di tingkat grass root akan semakin tercerahkan. Dengan demikian situasi kondusif pun tetap terjaga,” tandas Gatot.
Sedangkan Rektor UMSU Drs Agussani MAP juga berharap seminar ini memberi pencerahan dalam rangka melahirkan kader Muhammadiyah berkualitas sesuai amanah Rakerwil MTT PWM Sumut yang juga diadakan pada hari yang sama. Menurutnya, tiga narasumber yang tampil pada seminar ini sudah sangat mewakili dan kompeten di bidang masing-masing.
Sementara itu, menurut Prof Syamsul Anwar, kendala alam di atas dapat diatasi. “Tapi selama kita memahami hadis-hadis rukyat secara tekstual dan harfiah yaitu dalam arti melihat hilal secara fisik maka selama itu pula kita akan terkungkung dalam belenggu konservatisme mematikan dan selama itu pula peradaban Islam akan tetap menjadi peradaban tanpa kalender unifikasi dan terpadu. Kita harus melakukan penafsiran berdasarkan semangat dan tujuan syariah, singkatnya kontekstualisasi pemahaman. Inilah yang dilakukan Muhammadiyah ketika tidak lagi menggunakan rukyat sebagai metode penetapan awal bulan kamariah termasuk bulan-bulan ibadah. Jadi, hisab wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah bukan sebuah taklid yang jumud,” tegas Prof. Syamsul Anwar.(*)


