Bentrok OTK VS Polisi, Kapoldasu Temui Pangdam I/BB
Medan-www.indhie.com | Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapolda Sumut) menemui Panglima Komando Daerah Militer satu Bukit Barisan (Pangdam I/BB), Mayor Jenderal TNI Lodewijk F Paulus, untuk membicarakan adanya beberapa kasus penganiayaan dan bentrokan antara anggota kepolisian dari satuan lalulintas dengan sejumlah orang tidak di kenal (OTK), yang memiliki ciri kerja TNI.
Kapolda Sumut, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, kepada wartawan, Senin (16/7) mengatakan, pasca terjadinya bentrokan antara sejumlah OTK dengan anggota kepolisian Satuan Lalulintas (Satlantas) beberapa waktu lalu, dirinya masih terus melakukan pengusutan dan penyelidikan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui OTK yang berani melakukan pemukulan hingga dua anggotanya mengalami luka cukup serius di bahagian kepala dan wajah, saat bertugas mengatur lalulintas di kawasan Jalan Ani Idrus Medan.
Bahkan untuk mengetahui kebenaran sejumlah saksi mata melihat sejumlah OTK memiliki ciri-ciri berambut cepak dan membawa senjata jenis pistol standar TNI/Polri, dirinya juga melakukan komunikasi dan membahasnya secara mendalam dengan Panglima Kodam I/BB, Mayor Jenderal TNI Lodewijk F Paulus. Meskipun ditegaskannya, hingga saat ini belum di temukan adanya keterlibatan oknum prajurit TNI dalam adu fisik dengan anak buahnya. Namun membantu penyelidikan tersebut, maka dianggap perlu melibatkan penyidik TNI dari Kodam I/BB.
“Saya sudah bertemu dengan Pangdam I/BB. Mungkin kasus hari Sabtu siang (14/7), ada keluarga oknum TNI yang ditilang dan gak senang. Tapi saya tegaskan belum ada arah ke oknum pasukan TNI yang menganiaya anak buah saya. Itulah yang saya diskusikan dengan Pangdam,” Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro.
Lebih jauh dirinya mengatakan, meskipun banyak pihak yang tidak menyukai sikap kepolisian menjalankan tugasnya, namun hal itu tidak akan menyurutkan aparat kepolisian dalam bersikap. Jika memang terbukti melanggar undang-undang, maka sanksi hukum wajib diberikan, tanpa pandang bulu.
Ke depannya, anggota kepolisian akan semakin mempersiapkan diri sebelum menjalankan tugasnya. Meski diakuinya, ketersediaan senjata di jajaran Polda Sumut masih kurang. Pengujian psikologi dan selektifitas sebelum di berikan izin memberikan senjata api, juga terus di lakukan. Melalui izin dan rekomendasi dari pimpinannya langsung, maka anggota kepolisian yang sudah lulus persyaratan itu, bisa di berikan keercayaan membawa senjata api jenis berbagai jenis.
“Itu perlu dilakukan. Karena banyak juga anggota saya yang meyalahgunakan senjata api itu untuk melanggar hukum. Pada intinya, kita mengabdi pada masyarakat. Jalankan tugas sebaiknya, meski nyawa taruhannya, ” tegas Wisjnu.
Sementara itu, khusus untuk kasus anggota kepolisian yang bertugas di satuan lalulintas, Wisjnu memerintahkan agar penindakan terhadap pengguna kendaraan tetap dilakukan. Dirinya juga menegaskan tidak boleh lagi ada oknum petugas yang “main mata” dengan pengendara yang menawarkan damai di tempat, karena selain merusak citra Polri, hal itu juga dianggap perbuatan tidak terpuji dan wajib diberikan tindakan tegas.
“Dua pekan terakhir, ada dua kasus bentrokan antara anggota kepolisian dari satuan lalulintas dengan OTK diduga membawa senjata api. Kita gak gentar, bekerja maksimal dan tulus itu kuncinya. Tiap bertugas, jangan sendiri, harus ada dua orang, jadi bisa saling back up,” Heri Surbakti. (*)


