Alex Kalah, Peringatan Bagi Golkar
Jakarta-www.indhie.com | Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dari Partai Golkar Alex Noerdin dan Nono Sampono diprediksi hanya mendapatkan suara sebanyak lima persen. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tandjung, menyatakan hasil ini menjadi warning bagi Golkar untuk pencalonan Aburizal Bakrie dalam Pemilihan Presiden 2014.
“Ini warning bagi kepemimpinan partai dalam pencapresan, karena terdiri dari beberapa unsur seperti tim pemenangan pemilu di DPP, tapi muaranya akan kepada Ketua Umum partai,” kata Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tandjung.
Kekalahan Alex-Nono ini, Akbar melanjutkan, memiliki dampak bagi partai dan berdampak pada pencapresan. Meski begitu, Akbar melanjutkan, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden masih memiliki waktu dua tahun lagi. Partai Golkar masih bisa memperbaiki kesalahan. “Pemilu penting karena proses pencapresan tergantung perolehan suara pemilu karena ada syarat besaran dukungan capres,” kata dia.
Oleh karena itu, pada 2014 mendatang, Akbar melanjutkan, harus diperjuangkan dengan suara sendiri dari partai Golkar. “DKI barometer nasional, pilkada punya dampak. Secara imej, Golkar tidak bisa meraih suara banyak di DKI yang jadi barometer. Kalau imej menurun, ini akan berdampak pada capres Ical. Tapi ini masih panjang kita masih ada waktu mengatur strategi,” kata Akbar.
Memang sejak awal, Akbar melanjutkan, penetapan Alex menjadi capres tak sejalan dengan sistem partai yang sudah terbangun, yaitu survei. “Kami tidak tahu apa survei Alex bagus. Tahu-tahu sudah ada nama Alex. Tapi tentu mungkin ada pertimbangann khusus untuk memilih Alex. Tapi pertimbangan khusus kalau tidak mendapat suara akhirnya malah membuat sedih,” kata dia.
Kekalahan Alex-Nono ini, kata Akbar, sangat menyedihkan bagi partai Golkar. Bahkan yang paling menyedihkan, suara Alex berada di bawah Faisal Basri yang notabene calon gubernur independen. Sementara Partai Golkar berkoalisi dengan PPP dan PDS.
“Ini bisa dikatakan, mesin partai tidak bisa berfungsi secara efektif. Mesin partai yang memberi dukungan tidak berjalan secara efektif padahal ada tiga partai,” kata dia. (*)

