Orang di luar Islam itu, ngeri betul melihat Islam itu bersatu. Bagi mereka-mereka ini, orang luar itu, Islam adalah suatu keindahan karena itu pula tak seharusnya umat Islam itu juga indah. Di pikiran mereka mungkin begini, “Manalah tahu, kalau jelek umat Islam itu maka jelek pulalah Islam itu. Jadi marilah kita jelekkan tampang umat Islam.”

Orang di luar Islam itu, tanpa mereka sadari, sebenarnya telah sangat-sangat terbius candu Islam sehingga mereka melihat Islam itu laksana semut mengelilingi gula. Seharusnya mereka juga paham, karena candu itu pula umat Islam selalu sibuk mengurusi agamanya sendiri sehingga tak sempat mengurusi agama lain. Bagi orang Islam, pekerjaan di dunia Islam itu sangat-sangatlah banyak, luas dan panjang. Umat Islam itu lebih disibukkan oleh “fastabiq al-khairat”, berlomba-lomba menuju akhirat dan kebaikan daripada mengurusi dapur agama lain.

Non-muslim akan sangat-sangat iri dengan agama ini, siapa pun itu. Mereka iri karena Islam ternyata punya surga untuk diperebutkan, mereka iri karena kematian dalam Islam rupanya menjadi pintu bagi kenikmatan hidup di hari akhir, sehingga sekaligus menjadi pintu bagi surga yang dinanti-nantikan itu. Surga yang bukan hanya satu, dua, tiga atau empat, tapi tujuh sekaligus!

Di mulut umat Islam tersungging senyum, mengandaikan ketika mereka berenang-renang di dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Setelah itu, umat Islam pun memetik buah di surga dan kemudian bersenda-gurau dengan para bidadari. Keindahan-keindahan itu telah dituliskan kepada mereka dan terus tertanam di backmind mereka yang paling dalam. Sehingga, mereka pun tak peduli dan menganggap surga-surga yang ditawarkan agama lain itu tak seindah seperti yang dilukiskan dalam Islam.

Mereka pun pastilah tertawa kepada mereka yang tak percaya kepada surga apalagi Tuhan. Kalaulah ada Tuhan yang begitu baik kepada mereka, mengapa pula mereka harus mengingkari adanya Tuhan ataupun tuhan-tuhan yang lain? Kalaulah mereka menganggap Islam adalah yang terbaik dan yang paling benar bagi mereka, mengapa pula mereka harus dipaksa mengakui kebenaran dari agama lain, dari konsep lain, dari filsafat lain, dari orang lain?

Mereka-mereka yang di luar Islam begitu iri dengan umat Islam. Mereka iri, karena umat di agama ini terus punya harapan, terus punya penantian yang tak pernah berhenti di dunia ini. Umat Islam tahu, janji Tuhan tidaklah seperti janji dari mulut manusia. Bukan janji-janji kebanyakan politisi yang bak musang berbulu domba.

Mereka menganggap dunia ini adalah sementara saja, sehingga bukan untuk didewa-dewakan. Tapi mereka mafhum, justru di dunia inilah investasi untuk akhirat itu bisa dilakukan. Karena itu, kesementaraan dunia ini bukan pula untuk diabaikan. Justru karena sangat sementara dan begitu cepat berlalu, maka ada kalimat “berlomba-lomba menuju akhirat”. Justru tempat perlombaan itu adalah dunia.

Janganlah heran kalau kemudian padanan dari fastabiq al-khairat adalah amar ma’ruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan dan memerangi kemungkaran. Maka mereka akan menyeru dalam satu kesatuan “ummah”, bukan lagi sekedar kaum dan komunitas. Mereka akan berkumpul, bersilaturahim, kemudian berorganisasi dan lantas bergerak dalam satu kesatuan tanpa disekat batas-batas wilayah negara, suku bangsa dan kebudayaan. Apalah lagi sekedar sekat-sekat provinsi atau kabupaten-kota. Tidak.

Kesatuan mereka sebagai suatu “ummah” karena landasan tauhid, kesatuan imani transendental kepada al-Khaliq, kepada ar-Rahman, ar-Rahim.  Maka kalau ada saudaranya diusik mereka juga akan sakit. Maka pahamilah solidaritas itu ketika mereka bangkit berdiri ketika mesjid-mesjid mereka dirubuhkan. Perasaan itu jauh lebih sakit, lebih terluka dari yang digambarkan oleh Ali Akbar Navis dalam Rubuhnya Surau Kami. Tidakkah engkau mengerti kegeraman mereka ketika Mesjid al-Aqsha, Palestina, hendak dirubuhkan? Apalah lagi bila mesjid yang ada di depan hidung mereka dihancurkan dengan semena-mena?

Bagi mereka, untuk saling berkasih sayang, silaturahim, tak perlu menunggu setahun sekali di Idul Fitri, karena mereka bisa melakukannya kapan saja. Nabi mereka pernah mengatakan shalat berjamaah itu lebih baik dari shalat sendiri. Di jamaah itulah mereka setiap saat berkumpul, saling bersalaman, saling tersenyum. Mereka pun mencontoh nabi mereka yang suci, Muhammad Al-Musthafa, yang selalu tersenyum ketika Abu Lahab dan Abu Jahal melempari dan berusaha membunuh dirinya.

Islam adalah agama yang aneh. Suatu agama yang “lain”, agama yang tidak bisa dilahirkan dari seorang makhluk manusia yang mengaku baik apalagi yang memang berkarakter jahat. Ini bukan agama bumi, ini agama langit, ini agama samawi, ini bukan ciptaan manusia, bukan hasil kebudayaan, bukan pula produk kajian filsafat. Kalau agama ini diciptakan manusia, maka agama tak akan seindah itu, tak akan se-komprehensif itu, tak akan seluas itu, dan akan selalu punya kekurangan. “Ini bukan agama sembarangan,” begitu mungkin pikir mereka.

* * *

Namun, ketika itu pulalah umat Islam diserang. Oleh siapa? Jangan pula langsung menyangka kalau musuh umat Islam yang pertama itu di luar agamanya, atau yang tak Islam. Bagi umat Islam, musuh yang nyata itu bukanlah Yahudi dan Nasrani tapi dia adalah “setan”. Musuh umat Islam bukanlah “manusia lain”. Islam justru menegaskan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Muhammad menuturkan dengan lembut, “Tidaklah seseorang dikatakan beriman, jika dia tidak mencintai orang lain seperti dia mencintai dirinya sendiri.” Jelaslah sudah, humanisme dalam Islam bukanlah dalam kerangka penghambaan terhadap manusia itu sendiri, melainkan suatu jalan iman dan tauhid, thariqah kepada suatu yang suci, Tuhan.

Tapi, Islam juga bukan agama utopia. Dia memberitahukan, kalau setan itu terutama sangat bisa menyusup ke sanubari setiap manusia, tak peduli dia Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Yahudi, Hindu, Budha dan seterusnya, termasuk mereka yang tak mengakui Tuhan. Itu karena setan punya karakteristik khas: pembisik. Bukankah karakter pembisik-pembisik itu lembut dan halus betul suaranya sehingga hampir-hampir tak kelihatanlah wujudnya dan setiap orang akan menyangka kalau itu suara hati nuraninya?

Maka, setan-setan itu pun harus diusir dan setiap manusia yang dibisiki setan harus dimanusiakan kembali, disucikan kembali, seperti ketika dia dilahirkan dari rahim sang ibu, dari Tuhan yang Rahim. Lantas, berjuluklah Islam sebagai agama yang memanusiakan manusia. Islam pun menjadi kado Tuhan kepada seluruh manusia, kepada seluruh manusia dan kepada seluruh manusia. Hamzah, paman Muhammad, itu dulu tak Islam tapi kemudian jadi pembela Muhammad yang lebih dulu syahid daripada yang lainnya. Umar ibn Khattab itu dulu musuh Muhammad, tapi kemudian dikuburkan bersanding dengan Muhammad. Maka, Islam yang dulu itu hanya seorang, seorang Muhammad, telah menjelma menjadi kado bagi miliaran orang di seluruh dunia, di seluruh waktu.

Namun, lagi-lagi Islam juga memberitahukan hal yang lain, yaitu tidaklah semua manusia bisa dimanusiakan. Itu karena, mereka yang tidak bisa dimanusiakan itu telah tertutup hatinya, telah terbungkus dengan sekat dan penjara-penjara hitam, telah padam akal sehatnya, telah terkunci pintu hatinya.

Begitupun, Islam melarang umatnya untuk langsung membenci mereka. Itu karena kebencian bukanlah ciri Islam, karena makhluk dan alam semesta adalah ciptaan dari Tuhan juga. Kebencian sudah ada di luar Islam, karena itu jangan ditambahi lagi dengan memberi kebencian kepada mereka yang selalu tak senang itu. Islam adalah agama yang adil. Begitulah, janganlah karena kebencianmu kepada suatu kaum membuatmu menjadi tidak adil. Maka, perlakuan kepada manusia-manusia yang telah terpenjara tadi hanya ada tiga pilihan: mendiamkan dan meninggalkan mereka; bekerjasama dengan batas dan perjanjian tertentu; dan memerangi mereka bila mereka memerangi Islam dan umat Islam.

Begitulah, pekerjaan-pekerjaan yang dilakoni umat Islam itu begitu sulitnya. Tapi bukankah setiap manusia dilahirkan dengan menempuh kesukaran? Bukankah seorang ibu harus meraung-raung, menangis, berdarah dan ada pula yang mati, hanya untuk melahirkan manusia?

Karena itu pula, setiap orang Islam itu dilahirkan untuk menjadi manusia yang tangguh, manusia yang mampu bersaksi dan melawan kesulitan itu, manusia yang mampu berpuasa dari dunia, mendistribusikan zakatnya kepada yang haknya dan kemudian, ah … mereka semua pun akhirnya berkumpul di Makkah Al-Mukarramah, sama-sama mengelilingi sebuah Ka’bah dalam tawaf-tawafnya, laksana berkelilingnya planet-planet terhadap matahari, matahari terhadap galaksi, galaksi terhadap alam semesta, dan alam semesta terhadap Tuhan Seru Sekalian Alam, Allah Sang Pencipta. Dan lantas, pulanglah mereka ke tempatnya masing-masing sambil menggenggam doa kepada sanak keluarga.

Ceritakanlah, siapa pula yang tak dengki dengan Islam? (*)