Terparah dalam Sejarah, Defisit Perdagangan April 2019 Capai US$2,5 Miliar

Aktivitas ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok. (foto: goodnewsindonesia)

BADAN Pusat Statistik (BPS) merilis nilai ekspor dan impor pada April 2019 serta laporan neraca perdagangan. Pada periode tersebut ekspor tercatat US$12,6 miliar atau turun 13,1% year on year. Sedangkan impor mencapai US$ 15,10 miliar atau turun 6,58%. Demikian rilis yang dilakukan di Gedung 3, Lantai 1, BPS, Jakarta, pada Rabu (15/5/2019).

Dengan hasil tersebut neraca perdagangan pada April 2019 mencatatkan defisit hingga US$ 2,5 miliar. Ini merupakan angka defisit terparah dalam sejarah Indonesia. Sebelumnya, defisit paling besar tercatat US$ 2,3 miliar terjadi pada Juli 2013 lampau



Kepala BPS Suhariyanto, menuturkan defisit neraca perdagangan disebabkan karena jumlah ekspor lebih kecil dibanding impornya. Tercatat, ekspor April di angka US$12,6 miliar sementara impornya di angka US$15,10 miliar.

Ia menyebut nilai ekspor April ternyata turun 10,8% dibanding bulan sebelumnya yakni US$14,12 miliar. Menurutnya, hal ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah penurunan harga komoditas batu bara, timah, nikel dan bijih besi. Ini berpengaruh terhadap ekspor pertambangan yang turun 7,31 persen secara bulanan.

Kemudian, ekspor migas Indonesia juga turun sebesar 34,95% secara bulanan meski harga minyak mentah Indonesia ada di angka US$68,71 per barel atau meningkat dari Maret US$63,60 per barel.

Ekspor pertanian juga tertekan karena ada penurunan harga di minyak kelapa sawit meski volumenya meningkat. Sementara itu, produksi karet melemah meski harganya stabil. Akhirnya, ekspor pertanian harus turun 6,74 persen secara bulanan.

“Penurunan ekspor ini sebenarnya mengikuti pola yang sama dengan 2018 dan 2017, di mana ekspor pasti turun pada April dibanding Maret,” ujar Suhariyanto di Gedung BPS, Rabu (15/5).

Di sisi lain, laju pertumbuhan impor ternyata jauh lebih tinggi dibanding ekspornya. BPS mencatat, impor April naik 12,25% dibanding bulan sebelumnya US$13,45 miliar. (*)


sumber: cnbc, cnnindonesia

Bagikan:

Cari Berita

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*