Presiden Perancis Larang Warganya Mengaitkan Islam dengan Terorisme

Screenshoot foto di akun facebook Collectif Contre l'Islamophobie en France) yang menggambarkan dukungan terhadap Fatima.

PARIS | Presiden Prancis, Emmanuel Macron, memperingatkan warga Perancis tidak memberikan stigma kepada Muslim ataupun mengaitkan Islam dengan terorisme. Demikian dikabarkan BBC dari konferensi pers Macron dan Kanselir Jerman, Angela Merkel, pada Jumat (18/20/2019). “Kita harus berdiri bersama-sama dengan seluruh warga kita,” kata Macron.

Macron menyatakan hal ini pasca seorang warga perempuan Prancis yang mengatakan akan mengambil jalur hukum terhadap politikus sayap-kanan yang mengkritik pemakaian hijab di ruang publik. Untuk diketahui, Perancis memiliki 5 juta warga muslim dan menjadi kaum minoritas terbesar di Eropa Barat.

Sebelumnya, Prancis yang merupakan negara sekuler, diketahui telah melarang pemakaian hijab di sekolah, kantor pemerintah, dan beberapa ruang publik lainnya. Kebijakan ini telah menimbulkan sejumlah kontroversi.



Pada pekan lalu, seorang ibu yang disebut bernama Fatima, mengenakan hijab dalam acara wisata sekolah bersama putranya di gedung parlemen Bourgogne-Franche-Comté menerima pelecehan verbal dari anggota parlemen.

Seorang politikus dari Partai National Front yang berhaluan ekstrem kanan melihat Fatima saat debat dan memintanya mencopot hijabnya. Politikus bernama Julien Odoul itu mengunggah video saat ia meminta Fatima untuk mencopot hijabnya. “Setelah pembunuhan empat anggota polisi, kami tidak dapat menoleransi provokasi komunal ini,” cicit Odoul di Twitter.

Dalam wawancaranya dengan kelompok Kolektif Melawan Islamophobia di Prancis (CCIF), Fatima mengatakan saat itu ia sedang duduk tenang di pojok ruangan. Lalu ia mendengar ada seseorang yang berteriak “atas nama sekularisme”.

“Orang-orang mulai berteriak dan menjadi marah, yang hanya saya perhatikan kegelisahan anak-anak, mereka terkejut dan trauma. Saya mencoba menenangkan mreka, putra saya mendekati saya dan melompat ke pelukan saya, menangis. Saya beritahu anak-anak, saya tidak bisa (berada) di sana,” katanya.

Pengacara Fatima, Sana Ben Hadj, mengatakan, kliennya merasa dipermalukan setelah rekaman video itu dibagikan. CCIF mengatakan Fatima akan mengajukan pengaduan di kota Dijon atas kekerasan yang bersifat rasial yang dilakukan orang-orang yang memiliki otoritas publik.

Warga kemudian menunjukkan simpati terhadap Fatima. Di antaranya, lukisan seorang perempuan memakai hijab yang sedang memeluk putranya disebarkan di media sosial. Di antaranya link di bawah ini di akun facebook CCIF (Collectif Contre l’Islamophobie en France). 

 

🔸EXCLUSIF : ENTRETIEN AVEC FATIMA E. : « JE NE VOULAIS PAS CRAQUER DEVANT LES ENFANTS »« J’avais les larmes qui…

Dikirim oleh CCIF (Collectif Contre l'Islamophobie en France) pada Selasa, 15 Oktober 2019

 

Hal ini juga memicu unjuk rasa di sekitar lokasi kejadian dan perdebatan nasional tentang penutup kepala itu. Saat ini, Prancis sendiri tidak memiliki aturan yang melarang ibu mengenakan hijab saat menemani anak mereka di wisata sekolah.

Presiden Perancis, Macron, meminta warganya lebih memahami agama Islam di Prancis. Ia juga mengecam pengkaitan Islam dengan terorisme adalah jalan pintas yang fatal. “Di antara komentator politik banyak sikap yang tidak bertanggung jawab, komunalisme bukan terorisme,” katanya. (*)

Bagikan:

Cari Berita

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*