Maya…

ilustrasi


Nirwansyah Putra
~ indhie


PANDEMI Covid-19 telah membuat dunia seakan-akan berhenti sekejap dari keriuhan modern. Beberapa postingan di dunia maya menyebut soal langit yang menjadi lebih cerah dan bersih. Gunung-gunung lebih terlihat walau dari jarak yang sangat jauh. Biasanya mereka yang memposting ini tak bisa melihat fenomena alam itu karena wilayah langit penuh sesak oleh polusi udara. Dan kini, mereka menyaksikan alam yang lebih segar.

Sewaktu beberapa wilayah dunia di karantina, fenomena itu mengemuka. Beberapa postingan pun menyebut itu sebagai salah satu “hikmah” dari pandemi. Ini dilukiskan seperti bumi yang dapat mengambil waktu untuk lebih relaks, beristirahat dari kerusakan-kerusakan akibat ulah manusia.

Karantina negara, wilayah besar dan kecil memang seakan-akan membuat bumi berhenti berputar. Foto-foto para jurnalis menangkap fenomena seperti gedung-gedung, jalan, pabrik, sungai di perkotaan, stasiun, terminal, stadion olahraga dan seterusnya, yang hanya berdiri diam tanpa ada manusia lalu-lalang. Ketiadaan gerak manusia membuat seakan-akan waktu telah pula dianggap “berhenti”.

Gerak, yang hanya bisa terjadi dalam ruang, menjadi tak bergerak. Itu bukanlah pernyataan yang dimaksudkan sebagai sebuah pernyataan filosofis. Ini pernyataan sederhana saja yang melihat bahwa alam punya gerak mandiri yang selama ini tertutupi oleh riuhnya gerak yang dibuat makhluk manusia. Semilir angin, hujan, aliran sungai dan lain-lain adalah di antara gerak alam. Kita tahu ada gerak bumi seperti gerak evolutif dan rotasi bumi. Namun, tentu saja dia tak bisa diinderai dengan kemampuan manusia.



Lalu, ada gerak hewan-hewan dan tumbuhan yang selalu seiring dengan alam. Hewan dan tumbuhan tak pernah melawan alam, mereka mengikutinya. Mereka menyerasikan dirinya dengan alam tempat mereka berdiri, tumbuh, berpijak, berenang, hingga melayang terbang.

Mereka tidak seperti manusia yang mulanya beradaptasi tapi kemudian berusaha mengendalikan, menaklukkan dan akhirnya menghancurkannya. Manusia-manusia berargumen, kita dapat membuat alam yang baru, apakah mirip dengan yang sebelumnya ataupun yang lebih dari itu dan malah yang lain sama sekali dengan alam ini. Di antara alam baru yang mereka ciptakan adalah dunia maya. Begitu hebat manusia itu.

Lalu datanglah momen wabah itu. Si manusia terpaksa berondok di rumah-rumah mereka yang berdinding batu berlantai marmer. Si manusia tadi pun hanya bisa menyaksikan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan yang berjalan-jalan, berenang dan terbang dari televisi dan gadget mereka yang berteknologi luar biasa. Tapi si manusia hanya bisa menyaksikan. Karena yang bisa menikmati alam dan bergerak bebas ternyata makhluk-makhluk lain yang tak memiliki gelar doktor dan profesor, tak punya uang dan emas, tak punya apa-apa. Dan, yang sebagian makhluk-makhluk itu justru menjadi bahan umpatan dan ejekan si manusia tadi seperti “monyet”, “anjing”, “babi”, hingga “keledai”.

Manusia hanya bisa berbicara di alam baru yang diciptakannya tadi: dunia maya. Seluruh aktivitas dalam pandemi, dialihkan ke dunia maya. Ada kebanggaan bahwa si manusia tadi masih tetap bisa “bergerak”. Begitu hebat mereka.

Namun, mereka-mereka lupa terhadap arti dan substansi dari alam yang mereka ciptakan itu: dunia maya. Lihatlah kamus si manusia tadi memberi arti pada “maya”, yaitu hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada; hanya ada dalam angan-angan; khayalan. Betullah bahwa manusia adalah makhluk yang zalim dan sangat bodoh. (*)


BACA JUGA:


Bagikan:

Cari di INDHIE

1 Trackback / Pingback

  1. Anak Orang Kaya Berpolitik di Pilkada – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*