Analisis Ekonomi: Kemandirian Ekonomi Pekerjaan Rumah yang Sangat Mendesak

Haris Fadillah, SE. [foto ilustrasi: net]


Haris Fadillah SE

Pengamat Ekonomi
Tinggal di Medan


INDEKS Harga Saham Gabungan(IHSG) sempat menyentak angka perdagangan positif di angka 5.987,287 sejak 11 Februari 2020-20 Februari 2020. Meski demikian, angka tersebut masih berbanding negatif bila dibandingkan dengan angka perdagangan di bulan yang sama pada tahun 2019. Saat itu angka perdagangan IHSG ditutup pada angka 6.501,378.  Namun sesi baik IHSG ini tidak bertahan cukup lama, terbukti pada penutupan perdagangan Jumat, 21 Februari 2020, IHSG kembali terkoreksi negatif di angka 5.882,255, atau merosot sebesar 1,01% yaitu 60,24 poin dari sesi pembukaan perdagangan. Angka ini merupakan harga terendah sejak Desember 2019.

Sentimen negatif pasar ini dipengaruhi banyak hal, antara lain mulai dari kejadian serangan virus corona (Covid-19) di China, terungkapnya kasus mega korupsi di Indonesia yang melibatkan salah satu perusahaan plat merah milik negara Indonesia, dan belum lagi terkait polemik terkhusus bagi para tenaga kerja terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law.

Beberapa permasalahan tersebut sangat mempengaruhi perilaku pasar. Seluruh pelaku pasar menginginkan kondisi yang stabil dan kondusif dalam menentukan pilihannya dalam berinvestasi. Hal ini akan berlangsung lama ataupun singkat selama pemerintah Indonesia belum menentukan langkah-langkah yang tepat dalam melakukan stabilitas baik dari segi regulasi maupun kejelasannya.

Rupiah Terus Terkoreksi Negatif

Dari website Bank Indonesia (BI), sebelumnya pada 20 Februari 2020, Rupiah berada pada posisi kurs beli sebesar Rp13.666,33 per Dolar AS dan sebesar Rp13.803,68 per Dolar AS pada kurs jual. Hal ini sempat terjadi saat BI memberlakukan kebijakan memangkas BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 4,75% suku bunga deposito sebesar 4,00% dan suku bunga pinjaman menjadi 5,50%.

BI kelihatannya tetap menjalankan kebijakan moneter yang akomodatif dan konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran, stabilitas eksternal yang aman, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global sehubungan dengan terjadinya serangan Covid-19.

Dari sebuah media elektronik diinformasikan terkait histori laju mata uang Rupiah pada pukul 08.00 WIB masih menunjukkan posisi penguatan yaitu menguat sebesar 20 poin hingga pukul 11.37 WIBB. Namun pada pukul 13.59 WIBB hingga sore hari tepatnya pukul 16.04 WIBB Rupiah ditutup melemah pada posisi Rp13.708,12 per Dolar AS untuk kurs beli dan berada pada posisi Rp13.845,89 untuk kurs jual.



Bila kita membandingkan tahun per tahun pada penutupan di Sabtu, 22 Februari 2019, Rupiah menduduki posisi Rp14.009,00 per-dolar AS untuk kurs beli dan posisi Rp14.149,00 per Dolar AS untuk kurs jual. Kondisi saat ini masih lebih baik dibandingkan pada tahun lalu.

Namun dengan posisi Rupiah yang masih lemah atas mata uang asing serta ketergantungan industri lokal terhadap bahan baku yang berasal dari negara lain akan terus menciptakan efek domino terkait angka inflasi.

Uang Rupiah dan Dolar Amerika. [foto: net]

BACA JUGA:


Logam Mulia Pilihan Investasi

Terlepas dari kondisi lemahnya Rupiah atas mata uang asing serta belum baiknya angka IHSG tidak lantas mempengaruhi harga komoditas logam mulia yang satu ini untuk tertekan. Emas merupakan logam mulia yang hingga saat ini terus memiliki tren naik.

Setahun lalu, pada 22 Februari 2019 tercatat harga logam mulia emas di Kota Medan berada posisi Rp682.000 per gram. Namun, bila kita lihat penutupan pada Jumat, 21 Februari 2020 harga logam mulia emas berada pada posisi harga Rp813.000 per gram. Bisa kita asumsikan sementara bahwa selama setahun, logam mulia ini mengalami peningkatan harga sebesar Rp131.000 atau bisa dirata-ratakan kenaikan sebesar Rp10.916,67 setiap bulannya atau sebesar 1,61%.

Kenaikan tersebut sudah pasti sangat menarik dibandingkan dengan bunga deposito yang ditawarkan oleh perbankan nasional saat ini. Dan bisa jadi akibat dari penurunan suku bunga acuan BI, maka persentase bunga deposito juga mengalami penurunan sehingga belum dapat bersaing dengan kenaikan harga yang ditawarkan oleh logam mulia emas.

Tidak itu saja, berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah satu perbankan syariah di Indonesia, bahwa salah satu produk bank tersebut terkait cara memperoleh logam mulia emas dengan cara mencicil akan semakin dipermudah dengan menghapuskan Down Payment (DP) pada saat nasabah ingin memiliki logam mulia emas tersebut.

Semakin antusiasnya masyarakat terhadap invetasi pada logam mulia emas, akan terus membuat harganya terus perkasa dan belum bisa diprediksi kapan tren ini akan berakhir. Mungkin tren tersebut akan berakhir ketika sumber-sumber tambang emas telah habis dikeruk dan semua orang telah memiliki emas sehingga tidak lagi menginginkan untuk membeli emas.

(lanjut artikel …)

Bagikan:

Cari di INDHIE

1 Trackback / Pingback

  1. Raih Standarisasi Produk, FKMI Medan Gelar Test Food Bagi UKM – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*