Pilkada 2020: Memulihkan Lagi Kepercayaan Diri Medan Utara

Penutup
Potret ketidakpedulian rezim secara tidak langsung telah memperburuk wajah Medan Utara. Ekosistem kultural semakin tak karuan. Menjalarnya industri manufaktur malah menciptakan generasi muda sebagai budak di rumah sendiri.

Medan Utara kian pesimis bahwa mereka akan keluar dari keterpurukan karena pemerintahnya lebih doyan membangun di inti kota yang sudah semrawut. Bahkan seorang tokoh menyebut pembangunan di Kota Medan ini memanjakan kelompok tertentu.

Lebih parah, bahwa ada yang menganggap Medan Utara sebagai tempat pembuangan. Sebab di sanalah berdiri TPA Terjun Medan Marelan.

Sejatinya, dijadikannya Medan Utara sebagai lokasi TPA bukanlah sebuah keburukan. Asalkan saja Pemko Medan benar-benar mengelola sampah sesuai Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008. Dalam UU itu ditegaskan bahwa tidak boleh lagi ada penanganan sampah dengan pembuangan terbuka (open dumping). Ingat, TPA bukan tempat pembuangan akhir.

TPA adalah Tempat Pemrosesan Akhir, tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan. Nah, bagaimana kenyataan di TPA Terjun Marelan yang tiap harinya menampung lebih dari 1.500 ton sampah itu? Selain perusakan lingkungan, apa yang tercipta di sana? Lalu bagaimana dampaknya bagi psikologis warga sekitar TPA?

Perlakuan rezim terhadap Medan Utara juga menciptakan masyarakat yang apatis. Bahkan tidak sedikit yang bermental pragmatis. Maka jangan heran, pragmatisme pemilih paling berlaku dalam setiap momen Pemilu, terkecuali dalam Pilpres 2019 lalu.

Maka mengubah perlakuan itu adalah sebuah keharusan. Pemilihan Walikota Medan pada September 2020 nanti, harus dijadikan momentumnya, sekaligus memulihkan lagi kepercayaan diri Medan Utara. Medan Utara harus semakin cerdas dan bangkit oleh ketidakadilan.

Untuk itu, kita perlu menawarkan masa depan dan tidak menjanjikan masa lalu. Menawarkan pemimpin alternatif yang berani menjadi pelayan bagi orang tertindas dan tidak tunduk pada partai politik.

Belakangan ini, sosok OK Edy Ikhsan cendikiawan Melayu yang dikenal sebagai aktivis dan dosen USU tampak turun gurung. Didorong maju pada Pilkada Medan 2020 melalui jalur non partai. Dan dirinya menyanggupi menjadi pelayan dan tak tunduk pada kepentingan mafia.

Bagi seorang Edy Ikhsan, Pilkada Medan bukan sekadar pemilihan. Melainkan perang terhadap ketidakadilan. Sudah 30 tahun berada pada ruang kampus, Edy ingin bertarung pada ruang yang lebih ganas. Menjembatani rasa kekecewaan, orang-orang yang terabaikan dan para pencari keadilan.

Tentu harus ada alasan kenapa menawarkan Edy Ikhsan sebagai alternatif.



Memang, Kota Medan tak pernah kekurangan orang pintar dan bergelar. Tapi tidak banyak yang punya rekam jejak kerja, mengabdi untuk masyarakat dan tidak tersandera kasus. Edy Ikhsan diyakini mengerti persoalan dan berani mengambil keputusan karena tak pernah tersandera oleh kepentingan.

Kota Medan butuh pemimpin yang menjadi pelayan. Pemimpin yang menjaga komunikasi, bukan bersembunyi di balik puncak kekuasaan. Seorang pemimpin bukanlah dia yang doyan seremoni melepas merpati di puncak Podomoro.

Dan yang tak kalah penting, Medan Utara harus  berubah. Kita hindari diri menjadi bangsa hipokrit yang menuntut perubahan, tapi di sisi lain tetap menerima suap. Mari kita sudahi itu.

Perlu ada orang dari kaum muda yang mengingatkan agar Medan Utara tidak terlalu lama berkecil hati oleh kesan ketidakadilan penguasa. Sebab anak muda tak menjanjikan masa lalu, anak muda menawarkan masa depan.

Kita harus percaya bahwa kita mampu menapaki jalan sulit, menciptakan pemimpin baru yang lahir bukan dari kalangan plutokrasi mengandalkan uang sebagai senjata utama dan membeli suara untuk sebuah kekuasaan.

Nothing impossible. Tidak ada yang tidak mungkin. Pemilihan memang baru akan digelar September 2020, tapi tawaran perubahan harus dimulai dari sekarang.

Biarlah tawaran itu menjadi jalan sunyi, berteriak di tengah kesepian. Paling tidak, itu menjadi obat pemulihan kepercayaan diri Medan Utara. Percaya bahwa kita mampu menapaki jalan sempit. (*)

Bagikan:

Cari di INDHIE

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. Cenderung Memusat ke Inti Kota, Tata Ruang Kota Medan Perlu Direvisi – indhie
  2. Kawasan Utara Masih Tertinggal, 54% Lahan di Kota Medan untuk Pemukiman – indhie
  3. Medan Utara Masih Tertinggal, 54% Lahan di Kota Medan untuk Pemukiman – indhie
  4. Usung Kader di Pilkada Medan, PKS Tak Masalah Koalisi dengan PDIP atau PSI – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*