Pilkada 2020: Memulihkan Lagi Kepercayaan Diri Medan Utara

Lunturnya Kepercayaan Diri
Medan Utara patut memiliki kepercayaan diri tinggi karena modal kawasan yang luar biasa. Keberadaan sungai, danau, laut hingga industri manufaktur harusnya menjadikannya pusat revolusi industri di Kota Medan.

Namun kepercayaan diri itu luntur seiring kurangnya sentuhan pembangunan di sana. Bayangkan, untuk mengurusi lampu jalanan yang mati di Medan Utara saja, tak pernah tuntas di tujuh tahun rezim Pemko Medan saat ini.

Minimnya pembangunan infrastruktur, juga diikuti kurangnya pembangunan sumber daya manusia.

Di Kecamatan Medan Deli, tak ada berdiri SMA Negeri sederajat. Padahal dalam sistem PPDB sekarang, zonasi sangat mempengaruhi lolos tidaknya calon peserta didik.

Bicara kampus? Tercatat, hanya Potensi Utama di Kecamatan Medan Deli yang berstatus universitas setelah sebelumnya berbentuk STMIK. Selebihnya, kurang dari hitungan sepuluh jari perguruan tinggi ada di sana. Bandingkan dengan jajaran kampus elit yang ada di kecamatan lain di Kota Medan.



Sumber daya manusia Medan Utara memang terkesan dibiarkan berjalan di tempat. Setamat sekolah menengah atas/kejuruan (itupun kalau tamat), generasi muda dari keluarga berekonomi lemah sudah harus disibukkan dengan mencari kerja. Beruntung jika tak terjerumus ke penyalahgunaan narkoba.

Jika sudah resmi dapat pekerjaan di pabrik misalnya, biasanya generasi muda di Medan Utara harus bekerja hampir 12 jam dalam sehari. Masuk jam 7 pagi pulang jam 7 malam. Kondisi itu dilakukan demi bisa menghidupi diri sendiri dan orangtua.

Bahkan jika terjadi sengketa buruh, kebanyakan bingung mau curhat ke mana. Tapi kami beruntung bisa mengenal Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) Medan yang masih eksis membela hak-hak buruh di sana.

Di sisi lain, dengan kondisi sibuk melanjutkan hidup seperti itu, Medan Utara malah menciptakan generasi budak di tanahnya sendiri. Usia emas ternyata justru menjadikan generasi tidak kenal siapa saja wakil rakyat dari Medan Utara yang duduk di DPRD Medan. Lebih miris lagi, bukan sedikit yang tak tahu siapa nama Walikotanya sendiri.

Cita-cita kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu tercantum pula pada Pembukaan UUD 1945. Namun Medan Utara seperti tidak tercerdaskan. Atau mungkin saja pemerintah tidak sadar telah membiarkan ketidakcerdasan di Medan Utara.

Kami memang belum bisa mencantumkan data angka pencari kerja atau jumlah usia kerja yang menganggur di Medan Utara. Namun yang perlu digarisbawahi adalah sampai kapan Medan Utara dibiarkan mencari jalan keluarnya sendiri, misalnya terhadap persoalan pendidikan. Dengan minimnya ilmu pengetahuan, bagaimana generasi muda Medan Utara bisa kritis terhadap ketidakadilan pembangunan di sini.

Silakan cari tahu sendiri, berapa banyak anak muda yang paham ke mana mereka harus mengadu tentang banyaknya lampu jalan yang mati di Medan Utara?

Bagikan:

Cari di INDHIE

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. Cenderung Memusat ke Inti Kota, Tata Ruang Kota Medan Perlu Direvisi – indhie
  2. Kawasan Utara Masih Tertinggal, 54% Lahan di Kota Medan untuk Pemukiman – indhie
  3. Medan Utara Masih Tertinggal, 54% Lahan di Kota Medan untuk Pemukiman – indhie
  4. Usung Kader di Pilkada Medan, PKS Tak Masalah Koalisi dengan PDIP atau PSI – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*