Yerusalem, Maju di Tangan Islam, Hancur di Masa Israel

Pada 1917 setelah Pertempuran Yerusalem, Angkatan Darat Inggris, yang dipimpin oleh Jenderal Edmund Allenby, merebut kota tersebut. Pada 1922, Liga Bangsa-Bangsa dalam Konferensi Lausanne mempercayakan Inggris untuk mengelola Palestina, kawasan Transjordan, dan Irak.

Peta dua negara di kawasan Palestina versi PBB tahun 1947.

Kekuasaan Inggris menjadi kesempatan emas bagi orang Yahudi. Dari 1922-1948, jumlah penduduk kota meningkat dari 52.000 menjadi 165.000, terdiri dari dua pertiga orang Yahudi dan sepertiga orang Arab (Muslim dan Kristen). Hubungan antara orang Kristen dan Muslim Arab yang bereaksi terhadap meningkatnya populasi Yahudi di Yerusalem memburuk, mengakibatkan kerusuhan yang berulang. Di Yerusalem, khususnya, kerusuhan terjadi pada 1920 dan pada 1929.

Saat Mandat Inggris untuk Palestina berakhir, PBB melalui UN Partition Plan for Palestine tahun 1947 merekomendasikan “pembentukan rezim internasional khusus di Kota Yerusalem, yang menjadikannya sebagai corpus separatum (separation body) di bawah pemerintahan PBB.” Rencana ini juga menyebutkan, rezim internasional (termasuk kota Betlehem) akan tetap berlaku untuk jangka waktu sepuluh tahun, di mana sebuah referendum diadakan dimana penduduk harus memutuskan rezim masa depan kota mereka. Namun, rencana ini urung dilaksanakan, saat perang 1948 meletus: Inggris menarik diri dari Palestina dan Israel mengumumkan kemerdekaannya.

Israel mengambil-alih wilayah yang nantinya akan menjadi Yerusalem Barat, beserta sebagian besar wilayah Arab yang dialokasikan untuk negara Arab di masa depan; Yordania menguasai Yerusalem Timur, bersama dengan Tepi Barat. Perang tersebut menyebabkan perpindahan populasi Arab dan Yahudi di kota tersebut. Pada saat gencatan senjata, Israel telah menguasai 12 dari 15 tempat tinggal Arab di Yerusalem. Diperkirakan minimal 30.000 orang Arab Palestina telah menjadi pengungsi.

Setelah berdirinya negara Israel, Yerusalem dinyatakan Israel sebagai ibu kota. Namun, Yordania secara resmi menguasai Yerusalem Timur pada tahun 1950, menundukkannya pada hukum Yordania, dan pada 1953 mengumumkannya sebagai “ibukota kedua” Yordania.

Setelah 1948, karena kota berdinding tua secara keseluruhan berada di sebelah timur garis gencatan senjata, Yordania dapat mengendalikan semua tempat suci di dalamnya. Selama periode ini, Masjid Al-Aqsa mengalami renovasi besar-besaran.

Selama perang 1948, Yordania mengizinkan pengungsi Arab Palestina untuk menetap di wilayah Yahudi yang dikosongkan, yang kemudian dikenal sebagai Harat al-Sharaf. Pada 1966, pemerintah Yordania memindahkan 500 orang dari mereka ke kamp pengungsi Shua’fat sebagai bagian dari rencana untuk mengubah kawasan Yahudi menjadi taman umum.

* * *



Pada 1967, Pasukan Israel merebut Yerusalem Timur, bersama dengan seluruh Tepi Barat. Pada 27 Juni 1967, tiga minggu setelah perang berakhir, dalam rencana Israel untuk menyatukan kembali Yerusalem, Israel memperlebar undang-undang dan yurisdiksinya ke Yerusalem Timur, termasuk situs suci Kristen dan Muslim di kota tersebut. Itu termasuk beberapa wilayah Tepi Barat terdekat yang terdiri dari 28 desa Palestina dan memasukkannya ke dalam Kota Yerusalem. Sejak tahun 1967, kawasan pemukiman Yahudi baru telah berkembang pesat di sektor timur, sementara tidak ada lingkungan Palestina baru yang diciptakan Israel.

Meski kawasan al-Aqsa tetap di bawah yurisdiksi Waqf Islam, namun Israel justru membuka Tembok Barat untuk akses Yahudi. Perempatan Maroko, yang terletak di sebelah Tembok Barat, dievakuasi dan diratakan untuk membuat jalan bagi plaza bagi mereka yang mengunjungi tembok. Pada 18 April 1968, sebuah perintah pengambilalihan oleh Kementerian Keuangan Israel dikeluarkan. Israel mengusir penduduk Arab dan merebut lebih dari 700 bangunan.

Setelah Perang Enam Hari Arab-Israel, Jerusalem Institute for Israel Studies merilis Jerusalem: Facts and Trends 2012, dan mengklaim populasi Yerusalem meningkat 196%. Mereka juga mengklaim, populasi Yahudi tumbuh sebesar 155%, sementara populasi Arab tumbuh sebesar 314%. Proporsi populasi Yahudi turun dari 74% pada tahun 1967 menjadi 72% pada tahun 1980, menjadi 68% pada tahun 2000, dan menjadi 64% pada tahun 2010. Persentase ini tentu saja bukan tanpa perdebatan.

Menteri Pertanian Israel waktu itu, Ariel Sharon, kemudian mengusulkan untuk membangun sebuah lingkaran lingkungan Yahudi di sekitar tepian timur kota. Rencana tersebut dimaksudkan untuk menjadikan Yerusalem Timur “lebih Yahudi” dan mencegahnya menjadi bagian dari blok Palestina perkotaan yang membentang dari Betlehem ke Ramallah. Pada tanggal 2 Oktober 1977, kabinet Israel menyetujui rencana tersebut, dan tujuh lingkungan kemudian dibangun di sisi timur kota. Kawasan itu dikenal sebagai Ring Neighborhoods. Lingkungan Yahudi lainnya dibangun di Yerusalem Timur sementara Yahudi Israel juga menetap di lingkungan Arab.

Pencaplokan Yerusalem Timur ini terang saja mengundang reaksi negatif internasional. (*)


penulis: nirwansyah putra
sumber: dirangkum dari berbagai sumber
catatan: artikel ini terdiri dari tiga tulisan yaitu Yerusalem, Konspirasi Perusuh dan Penjajah Global; Yerusalem, Maju di Tangan Islam, Hancur di Masa Israel; dan Israel, Skenario dari London.

Bagikan:

Cari Berita

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Yerusalem, Konspirasi Perusuh dan Penjajah Global – indhie
  2. Yerusalem, Konspirasi Perusuh dan Penjajah Global – indhie
  3. Israel, Skenario dari London – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*