Skandal Lockheed: Gurita Suap Perusahaan Amerika dan Jatuhnya Rezim Politik

Senat juga mendapatkan pengakuan Ernest Hauser, pelobi Lockheed, yang mengatakan Menteri Pertahanan Jerman, Franz Josef Stratuss, dan partainya, pernah menerima tidak kurang 10 Juta Dolar AS, dalam pembelian 900 pesawat F-104 Starfighters dalam negosiasi di tahun 1961. Pengakuan ini kemudian menjadi bagian dalam pengusutan Skandal Lockheed, meski fokus pengusutan di kurun 1970-1975. Stratuss menolak tuduhan ini dan menuntut balik Hauser atas tuduhan fitnah. Tapi isu dari Jerman ini tidak berkembang lebih jauh.

Penjualan F-104 Starfighter ke Jerman dan negara-negara lain, termasuk Jepang, Italia dan Belanda merupakan harapan terakhir dari Lockheed saat perusahaan mereka dililit utang dan diambang kebangkrutan. Pembangunan pesawat tempur mereka memerlukan dana yang sangat besar. Sementara di sisi lain, Angkatan Udara AS menolak memakai pesawat ini karena disebut tidak efisien. Karena itu, Lockheed pun memasarkannya ke luar AS. Kontrak dengan Jerman dan negara di luar AS, adalah penyelamat bagi Lockheed. Untuk memuluskan penjualan itu, suap pejabat menjadi modus Lockheed.

PM Tanaka (kiri) dan Presiden AS, Richard Nixon.

Di antara pejabat dunia yang disuap itu adalah Perdana Menteri (PM) Jepang, Kakei Tanaka. Tanaka yang kemudian terbukti bersalah, tidak hanya terguling dari jabatannya pada 1974 namun juga ditangkap aparat keamanan Jepang.

Pada 6 Februari 1976, Washington Post menulis kalau Tanaka telah menerima suap 1,6 Juta Dolar AS selama masa jabatannya sebagai PM. Angka 1,6 Juta Dolar ini merupakan bagian dari total suap 12,6 Juta Dolar AS yang diterima pejabat Jepang dan perantaranya. Di antara negosiasi itu adalah agar maskapai Jepang, All Nippon Airways (ANA), membeli 21 pesawat komersil L- 1011 produk Lokcheed daripada pesawat jenis DC-10 produksi McDonnell Douglas.  Lockheed dan ANA meneken kontrak pada 30 Oktober 1972.

Tanaka ditangkap pada 27 Juli 1976. Tapi, Tanaka dibebaskan pada Agustus 1976 dengan membayar uang jaminan sebesar 690.000 Dolar AS (dengan kurs waktu itu).



Pendukung Tanaka sendiri memandang skandal itu merupakan konspirasi perusahaan AS untuk menghantam Tanaka. Mereka berpandangan, AS melakukan itu karena Tanaka terlalu keras dalam pembicaraan perdagangan dengan AS. Pendukungnya beralasan, skandal itu justru terungkap karena peristiwa di AS yaitu kesaksian di Kongres AS.

Meski demikian, persidangan kasus Lockheed ini tetap digelar Pengadilan Tokyo Jepang. Pada 12 Oktober 1983, Tanaka diputuskan bersalah dan divonis 4 tahun penjara dengan kewajiban membayar denda 500 Juta Yen (4,6 Juta Dolar AS dengan kurs saat ini). Dia dituduh melanggar UU pengendalian valuta asing Jepang dengan tidak melaporkan pembayaran tersebut.

Mario Tanassi, Pangeran Bernhard, Franz Josef Stratuss.
[foto: internet]
Di Italia, skandal Lokcheed melibatkan mantan Menteri Pertahanan Italia, Luigi Gui, dan penggantinya Mario Tanassi. Skandal ini terjadi dalam pembelian pesawat angkut militer Lockheed C-130 Hercules. Mariano Rumor, Perdana Menteri Italia, atasan kedua menteri itu waktu itu, disangkakan juga terlibat. Namun, hanya Mario Tanassi yang dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Konstitusi Italia dan dihukum 4 bulan penjara.

Sementara di Belanda, suami Ratu Juliana dari Belanda, Pangeran Bernhard, dituduh menerima 1,1 Juta Dolar AS dalam pembelian pesawat tempur Lockheed F-104 . Kasus ini mengemuka namun Bernhard dilindungi oleh Ratu Belanda. Juliana mengancam akan turun tahta bila Pangeran Bernhard dituntut ke pengadilan. Bernhard memang tak jadi dibawa ke pengadilan, namun dia juga dilarang untuk mengenakan seragam militer Belanda.

* * *

Skandal Lockheed menjadi salah satu alasan disahkannya Foreign Corrupt Practices Act atau Undang-Undang Praktik Korupsi Asing di AS. UU yang diteken Presiden AS, Jimmy Carter, pada 19 Desember 1977 ini, melarang orang dan perusahaan milik AS menyuap pejabat pemerintah asing. Namun, justru bukan Lockheed yang menjadi pebisnis pertama yang terkena UU ini melainkan Finbar Kenny di tahun 1979.

Skandal Lockheed 1970-an menguap seiring mundurnya Daniel J. Haughton dari jabatan Chairman Lockheed dan A. Carl Gotchian dari jabatan Vice Chairman sekaligus Presiden Lockheed. Mereka berdua dituduh menjadi pihak yang paling bertanggung jawab.

Meski demikian, Lockheed terus berkibar. Perusahaan ini baru terkena UU ini di kurun 1990-an. Seperti ditulis di paruh awal artikel ini. (*)


referensi: dari berbagai sumber

Bagikan:

Cari di INDHIE

1 Trackback / Pingback

  1. AS-China Sepakat Perang Dagang Berhenti Sementara – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*